Saya bernama Nono, sekarang saya berumur 7 tahun.

Hari ini adalah hari minggu, papa dan mama membawa saya bermain di taman.

Di rumah biasanya, papa dan mama sering membacakan banyak kisah untuk saya, mereka selalu menasehati saya jadi orang harus toleran, mencintai. Ketika sesuatu terjadi, pertama pikirkan apakah diri sendiri telah melakukan kesalahan, dan tidak menyalahkan orang lain.

Kadang-kadang saya bertemu dengan anak-anak lain, mereka merebut mainan saya. Pada saat itu saya akan menangis, saya akan menangis tanpa henti.

Setelah mama melihat akan berkata kepada saya :

“Nono, Ada apa?”

“Kenapa menangis?”

Saya mengadu kepada mama, anak tetangga bernama Sofi merebut mainan saya, itu adalah mainan kesayangan saya.

Mama melihat saya menangis terus dengan suaranya yang lembut berkata :”Nono jangan menangis.”

“Tadi Sofi, bagaimana merebut mainanmu?”

Saya menjawab :”Dengan wajah sangat jahat, merebut mainan saya.”

Mama berkata :”Nono apakah engkau tidak merasa Sofi sangat menyedihkan?, merebut mainan orang lain dengan muka jahat, bukankah sangat menyedihkan?”

Mama memegang tangan saya berkata, :”Mari kita sama-sama memaafkan dia.”

“Karena Sofi tidak tahu, orang yang wajahnya sangat jahat adalah orang yang patut dikasihani.”

“Ketika kita berbicara dengan orang lain harus dengan tenang, sopan dan sabar!” Mama berkata.

Saya bertanya kepada mama :”Apakah seperti mama sekarang yang sedang berbicara dengan Nono?”

Mama dengan tersenyum memandang saya.

Saya langsung menghapus airmata saya, lalu perlahan-lahan berjalan ke Sofi yang merebut mainan saya berkata kepadanya, :”Sofi, saya tidak menyalahkan kamu merebut mainan saya. Karena mama berkata, membuat wajah kita menjadi sangat jahat adalah orang yang menyedihkan….”

“Saya memberikan mainan saya kepadamu, berjanjilah lain kali jangan membuat wajahmu sangat jahat lagi.”

Wajah Sofi sekarang menjadi bingung, tidak seperti tadi jahat mengerikan lagi.

Melihat wajah Sofi menjadi cantik lagi, saya tertawa dengan gembira.

Sofi berkata akan bersama-sama saya bermain.

Saya dengan gembira memandang ke arah mama.

Mama duduk di sana, terus tersenyum kepada saya.

Saya memandang mama sekali lagi.

Mama sangat gembira melihat saya telah memaafkan Sofi.

Rupanya, antara sesama bicara harus dengan tenang dan sabar!”

Dengan demikian, wajah setiap orang akan menjadi sangat cantik. Maka antara manusia sudah tidak perlu bertengkar lagi!

 

Share
Kategori: Uncategorized

Video Popular