Keterangan foto: Pertemuan Xi Jinping dengan Ma Ying-jeou di Hotel Shangrila Singapure pada 7 November 2015. (Roslan Rahman/AFP/Getty Images)

Oleh Xia Xiaoqiang

‘Pertemuan XI-Ma’ pada 7 November 2015 sudah berakhir. Jabatan tangan yang melebihi 1 menit dan berita tentang pertemuan tersebut sempat menjadi judul utama media dunia. Negara Barat umumnya menggunakan istilah ‘peristiwa bersejarah’ atau ‘langkah menggembirakan’ sebagai penilaian tertinggi terhadap peristiwa ini. Namun yang mungkin kurang mendapat perhatian dari kebanyakan orang adalah betapa Xi Jinping berani mengambil langkah sendiri yang berada di luar kerangka yang sudah dibuat oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT).

’Pertemuan Xi-Ma’ yang tak mungkin berani dilakukan oleh pemimpin PKT terdahulu

‘Pertemuan Xi-Ma’ tidak saja berdampak positif terhadap hubungan lintas selat tetapi juga hubungan antara Tiongkok dengan Amerika, bahkan mungkin akan mempengaruhi perubahan situasi politik internasional di masa mendatang. ‘Pertemuan Xi-Ma’ selain bertolak belakang dengan kebijakan luar negeri PKT yang selama ini memerangi Taiwan. Ia juga memberikan isyarat adanya perubahan kebijakan politik di Daratan yang menghendaki hubungan lintas selat bisa ditingkatkan secara sehat.

‘Pertemuan Xi-Ma’ tidak mungkin terlaksana dan tidak berani dilaksanakan oleh pemimpin PKT terdahulu karena kebijakan politik PKT yang “menggunakan serangan budaya dan ancaman militer” dalam memerangi Taiwan. Siapa saja yang melanggar kebijakan ini berarti bertentangan dan dianggap merongrong PKT. Oleh sebab itu para pemimpin PKT terdahulu tidak berani berjalan di luar kerangka tersebut. Tidak mampu untuk keluar dari kerangka ini juga diakibatkan oleh kurangnya keberanian dan rasa tanggung jawab untuk menyelamatkan bangsa dari krisis.

PKT pertama yang mengobarkan konfrontasi lintas selat

Pada pertemuan itu, Xi Jinping dalam pidatonya mengatakan, “Pernah suatu ketika, awan mendung yang menyelimuti selat membuat hubungan antara Daratan dengan Taiwan terganggu. Konfrontasi militer sempat membuat saudara-saudara kita yang terpisah oleh selat sulit untuk saling berhubungan dan meninggalkan rasa sakit bahkan penyesalan yang mendalam karenanya ….tentu saja ada akar penyebab sehingga keadaan itu terjadi di masa lampau.”

Gerakan Bunga Matahari mahasiswa Taiwan tahun lalu yang merupakan unjuk rasa untuk menolak perjanjian perdagangan lintas selat berkembang menjadi gerakan menentang intervensi PKT terhadap Taiwan yang melibatkan hampir seluruh masyarakat Taiwan. Gerakan tersebut menunjukkan sebuah ledakan dari perasaan takut, benci dan penolakan masyarakat Taiwan terhadap kebijakan lintas selat yang diterapkan oleh PKT.

Selama puluhan tahun, rezim PKT melalui tekanan politik, bujukan ekonomi, penetrasi, ancaman dan cara lainnya untuk memaksa pemerintah Taiwan meninggalkan nilai-nilai inti Taiwan dan mendirikan negara yang terpisah dari Tiongkok komunis. PKT mencoba untuk menggantikan sistem demokrasi di Taiwan dengan komunisme. Tindakan tersebut belum pernah terhenti sejak dahulu. PKT dengan 2.000 buah senjata rudal yang dipasang mengarah ke Taiwan, sambil terus menggunakan sumber daya politik dan ekonomi untuk menekan dan membatasi ruang gerak Taiwan di dunia internasional.

Departemen urusan Taiwan oleh PKT dijadikan pengawas dan penyeimbang strategi internasional yang berbasiskan Amerika dan Jepang, dan dijadikan kartu As untuk mengalihkan krisis domestik dan menghasut publik dengan mengobarkan sentimen nasional. PKT bahkan pada saat strategi membutuhkan, secara inisiatif menciptakan ‘Kemerdekaan Taiwan’ sebagai alat untuk menekan Taiwan. Meskipun tidak atau kurang terdengar adanya keinginan ‘Kemerdekaan Taiwan’.

Itulah politik PKT yang diterapkan kepada Taiwan yang kini sedang diubah oleh Xi Jinping.

Xi Jinping sedang berusaha untuk mengubah kebijakan politik Tiongkok terhadap Taiwan

Xi Jinping dalam pidato di pertemuan itu juga mengatakan, “Tidak ada kekuatan lain yang dapat memisahkan kita karena kita adalah saudara sebangsa”.

Hal yang menarik adalah Xi Jinping sama sekali tidak penyinggung atau menyebut nama Partai dari kedua pihak kecuali menyampaikan keinginannya agar secara bersama-sama mempertahankan ‘Kesepakatan 1992’ untuk memperkokoh basis politik kedua belah pihak, mengambil jalan pembangunan yang damai, dan menjaga agar hubungan lintas selat berjalan di arah yang benar.

“Demi kebangkitan besar bangsa Tionghoa, agar seluruh masyarakat Taiwan dan Daratan bisa menikmati kemuliaan dari hasil kebangkitan itu,” tegas Xi dalam pidatonya.

Istilah dan ucapan Xi Jinping dalam pidato sangat berbeda dengan yang secara konsisten dipakai PKT dalam kebijakan terhadap Taiwan maupun yang biasa diucapkan oleh pejabat PKT terdahulu. Tampaknya Xi Jinping telah mengubah kebijakan luar negeri yang radikal sebelumnya, termasuk yang selama ini diterapkan kepada Taiwan.

Xi Jinping mengambil langkah sendiri yang berada di luar kerangka Partai Komunis Tiongkok.

Akibat kejahatan yang dilakukan rezim PKT selama beberapa puluh tahun terakhir, meninggalkan ingatan yang mengerikan dalam benak jutaan orang, dan kesan yang buruk kepada masyarakat internasional. Sehingga di awal-awal tahun Xi Jinping berkuasa, kesan buruk itu pun terus melekat dalam pikiran masyarakat dunia, apapun yang dilakukan oleh pemimpin PKT tidak akan bermakna positif. Tetapi Xi Jinping dalam 3 tahunnya menjabat sebagai pemimpin Tiongkok, ia terus mengubah pandangan orang tentang hal itu. Seperti yang pernah dikatakan Epoch Times bahwa sebagai pemimpin bangsa Xi Jinping berbeda dengan pemimpin PKT lainnya, Xi Jinping terus berusaha untuk menyelamatkan bangsa dari krisis yang menimpa sejak ia dikukuhkan menjadi Presiden Tiongkok dan peranannya sangat positif.

Seperti dalam membasmi korupsi, pada saat awal Xi melancarkan kampanye anti korupsi selain Epoch Times dan New Tang Dinasti, banyak media asing lainnya termasuk para ahli urusan Tiongkok, komentator kebanyakan beranggapan bahwa anti korupsi Xi Jinping hanya untuk mengamankan kekuasaan sendiri dan memenangkan perebutan kekuasaan dalam internal Partai Komunis Tiongkok. Sehingga anti korupsi dipercaya tidak akan menyentuh para pejabat tingkat Komite Sentral seperti Zhou Yongkang dan lainnya. tetapi kenyataannya tidak demikian. Selain Zhou yang dijatuhi hukuman berat, ditangkap dan dipecatnya Lin Jihua, Xu Caihou, Guo Boxiong dan pejabat lainnya yang sampai sekarang masih berlangsung menunjukkan bahwa pembasmian terhadap korupsi akan dilaksanakan sampai tuntas. Bahkan penyidikan sekarang sedang mengarah ke Zeng Qinghong, Jiang Zemin yang terjadi di luar dugaan orang kebanyakan. Sekarang media utama internasional terpaksa mengakui bahwa Xi Jinping tidak main-main dalam membasmi korupsi.

Dalam kegiatan diplomatik, Xi Jinping menggunakan diplomasi fleksibel untuk menunjukkan niat damai kepada dunia, termasuk keinginan untuk membina hubungan baik dengan negara tetangga, Eropa, Amerika dan banyak negara di dunia. Meluncurkan gagasan pembentukan ‘Jalur sutra ekonomi dan jalur sutra maritim abad 21’ mendirikan Asian Infrastructure Investment Bank, menemui Ang San Suu Kyi simbol demokrasi internasional serta pembela HAM dan lain sebagainya.

Xi Jinping telah berperan positif dalam menjaga stabilitas kawasan Asia – Pasifik. Pertemuan Xi-Ma sekali lagi membuktikan pernyataan ini. Dan sekaligus menggulingkan pandangan dunia luar sebelumnya yang beranggapan bahwa PKT telah menjadi ancaman bagi perdamaian dunia. Namun dalam masalah membela kedaulatan Tiongkok, ia tidak bersikap lemah, seperti yang dikatakan oleh Epoch Times bahwa Xi Jinping dalam 3 tahun masa jabatannya terutama dalam menangani masalah kedaulatan, “ia tidak bersedia kompromi pada masalah territorial” seperti dalam masalah Laut Selatan, ia membiarkan mata dunia melihat keinginannya untuk mewujudkan impian untuk membawa bangsa Tiongkok berdiri di puncak dunia.

Misalnya dalam melaksanakan berbagai langkah reformasi dalam negeri, termasuk menghapus sistem kerja paksa dalam kamp, menjunjung tinggi supremasi hukum dalam memimpin negara, mengubah kebijakan 1 anak menjadi 2, mempromosikan reformasi sistem registrasi rumah tangga, menghapus kejahatan seks, mereformasi militer dengan pengurangan personil hingga 300.000 orang, mempromosikan budaya tradisional dan lain sebagainya, semua itu berdampak positif untuk mengurangi konsekuensi sosial.

Dunia luar juga sudah semakin menyadari bahwa apa yang sudah dan sedang dilakukan Xi Jinping sebagian besar tidak sejalan dengan rezim PKT terdahulu dan yang tidak berani dilakukan oleh pemimpin rezim itu.

Pertemuan Xi-Ma yang bersejarah ini, mengandung makna yang melampaui sekedar pertemuan 2 orang pemimpin lintas selat. Melalui jendela tersebut samar-samar sudah tampak pola baru antara Tiongkok dengan Taiwan bahkan dengan dunia sedang terbentuk. Pertemuan ini juga memberitahu dunia bahwa Xi Jinping memilih berjalan di luar kerangka Partai Komunis Tiongkok, membelok dari jalan kematian yang dibuat oleh partai itu. (Sinatra/rmat)

Share

Video Popular