Keterangan gambar:  Foto dari kiri atas searah jarum jam: Pengrusakan patung Konfusius , penghancuran arca kuno, penistaan kaum biarawan Buddha dan pembongkaran situs bersejarah semasa Revolusi Kebudayaan.

Oleh: Epoch Times Pusat

Sejarah telah melangkah ke suatu tahap krusial. Gerbong kereta Partai Komunis Tiongkok (PKT) sedang meluncur cepat ke arah jurang, banyak orang melupakan bahaya ini karena masih terlena dengan kejayaan yang didapat di sarang PKT.

Pada 1921, “roh komunisme” yang berasal dari Barat menyusup ke Tiongkok, sejumlah cendikia yang tak sabar ingin Tiongkok maju, membentuk partai komunis. Sejak saat itu sang serigala telah diundang masuk ke Tiongkok. Dalam beberapa kali gerakan partai komunis di Tiongkok banyak tokoh intelek telah dibunuh, pada saat Revolusi Kebudayaan benda peninggalan budaya dan sejarah Tiongkok kuno pun dihancurkan. Para leluhur, pahlawan, orang suci, kaisar, jendral dan arif bijaksana dikritik dan dihujat. Peradaban selama 5000 tahun diinjak-injak seolah tak bernilai sepeserpun, dan digantikan dengan budaya partai komunis.

Masyarakat Tiongkok modern tumbuh dewasa di tengah budaya seperti ini (sejak 1949), banyak orang sama sekali sudah tidak lagi bisa membedakan kebaikan dengan kejahatan, dan hanya mengejar kenikmatan sesaat di tengah kondisi yang sesat. Secuil kenikmatan berupa kejayaan pun menjadi angan yang terus dikenang seumur hidup. Masyarakat telah menggantikan akal sehat dengan emosi sesaat, melupakan aib yang diderita rakyat Tiongkok generasi ini, tidak mampu melihat kejayaan yang sesungguhnya yang pernah diraih pada beberapa periode sejarah silam pada kebudayaan tradisional Tiongkok dan kehidupan normal di negara bebas.

Beberapa Kali Gerakan Habisi Elit Budaya

Kaum intelek adalah penerus budaya, nilai tradisi yang ditegakkan, pola pikir mandiri dan daya pengaruh masyarakat dipandang sebagai penghalang dan ancaman terbesar bagi PKT. Itu sebabnya di dalam beberapa kali gerakan PKT selalu tidak luput menghabisi para intelek dan elit budaya.

Era 1930-an secara internal PKT melancarkan gerakan pembersihan “Golongan AB”, yakni pembunuhan terhadap kaum anti-komunis “Golongan AB” di berbagai pelosok wilayah “Soviet” kekuasaan mereka yang sebenarnya hanya fitnah belaka. Setidaknya lebih dari 70.000 orang dibunuh dan sebagian besar di antaranya adalah kaum intelek. Inilah pertama kalinya PKT melakukan pembunuhan terhadap para kaum intelek dalam skala besar.

Era 1940-an, PKT melakukan gerakan kedisiplinan di Yan-an berdurasi 3 tahun, yakni cuci otak secara ekstrim kejam terhadap kaum intelek di tubuh partainya, mengubah sifat manusia menjadi sifat partai, serta mengendalikan segala bentuk karya sastra dengan lebih kuat. Contoh yang paling dikenal adalah hujatan terhadap penulis bernama Wang Shiwei, yang tidak bersedia mengubah sikapnya, hingga akhirnya dibunuh. Gerakan kedisiplinan Yan-an telah mengembangkan seperangkat cara baru untuk mengubah pemikiran para intelek.

Pada 1949 setelah PKT berkuasa, kaum intelek yang dicap dan dicurigai sebagai “pengkhianat, penyusup dan mata-mata”, berubah status menjadi “pencemar pikiran”, oposan dan kaum subversive terbesar di mata rezim bagi PKT. Pada saat itu PKT telah menguasai negara dan sumber daya masyarakat yang ada, mengendalikan institusi budaya dan pendidikan, sumber kehidupan bagi kaum intelek pun dimonopoli, dan kaum intelek dipaksa untuk tunduk dan setia tanpa syarat. Agar dapat mengubah para cendikia tersebut menjadi “jinak” terhadap partai, kendali, pelecehan serta pembantaian terhadap kaum intelek jauh melampaui yang dilakukan PKT terhadap golongan lain. Hal yang paling menonjol adalah gerakan Anti-(golongan) Kanan pada 1957 dan Revolusi Kebudayaan selama 10 tahun yang dimulai sejak tahun 1966.

Menurut data resmi PKT, dalam gerakan Anti-Kanan itu setengah kaum intelek Tiongkok sempat dicap sebagai “kaum sayap kanan” dan dijadikan sebagai golongan terendah yang dihina dan ditindas.

Penindasan terhadap elit budaya selama Revolusi Kebudayaan bahkan lebih mengerikan lagi. Kaum intelek yang tidak tahan dengan siksaan, pelecehan dan ketakutan itu lalu akhirnya bunuh diri tak terhitung jumlahnya. Penulis Lao She (老舍) bunuh diri dengan melompat ke Danau Taiping di Beijing. Penterjemah Fu Lei minum racun dan istrinya gantung diri. Pakar sinology Xiong Shili mogok makan hingga tewas. Pemain opera Yan Fengying minum obat tidur dan tewas di rumah sakit. Artis Shangguan Yunzhu melompat dari gedung tinggi. Sejarawan yang juga wakil rektor Beijing University bernama Jian Bozan dan istrinya bunuh diri dengan minum obat tidur. Redaktur utama surat kabar People’s Daily Deng Tuo bunuh diri dengan minum racun, dan masih banyak lagi.

Penindasan terhadap kaum intelek selain merupakan pembantaian fisik terhadap para elit budaya Tiongkok, juga merupakan pemusnahan terhadap kebudayaan tradisional yang belum pernah terjadi sebelumnya, terlebih lagi merupakan pembantaian terhadap mentalitas rakyat dan memutar balik moral. Kaum intelek yang telah dipatahkan penopangnya, sebagian besar bungkam, bertekuk lutut dan terabaikan, mentalitas kebangsaan pun pupus.

Seiring dengan perkembangan zaman, mau tidak mau PKT harus melakukan reformasi keterbukaan, tapi tangan besi PKT menyingkirkan para elit budaya tidak berubah. Pada gerakan pelajar di Lapangan Tiananmen 1989, PKT mengerahkan tank dan senapan untuk membubarkan para pelajar. Menurut statistik, penindakan tersebut menewaskan 3.000 orang, sejumlah besar kaum terpelajar melarikan diri ke luar negeri.

Sejak Juli 1999 hingga sekarang PKT dan Jiang Zemin melakukan penindasan terhadap ratusan juta praktisi Falun Gong, banyak elit masyarakat dan cendikia yang dipenjara, disiksa, didoktrin, kehilangan pekerjaan, dikucilkan dan dilecehkan masyarakat karenanya. Situs minghui.org mengumpulkan data sebanyak 3.906 orang praktisi Falun Gong (yang beridentitas jelas) disiksa hingga tewas. Angka yang sesungguhnya jauh melampaui angka ini. PKT bahkan melakukan perampasan organ tubuh praktisi Falun Gong dalam jumlah besar.

Sejak PKT memerintah tahun 1949, rakyat yang tewas akibat kelaparan, ditindas, dan dibunuh mencapai 80 juta jiwa. Di dunia ini tidak ada satu pun rezim yang tega membunuh rakyatnya sendiri seperti itu.

Peradaban Gemilang Diinjak Seolah Tak Berharga

Kebudayaan adalah landasan bagi eksistensi dan regenerasi suatu bangsa, jika budaya telah tiada, maka bangsa itu ibarat air kehilangan sumbernya, tidak jauh dari ambang kematian. Pewarisan budaya merupakan urat nadi yang meneruskan keturunan bangsa, perubahan budaya mempengaruhi pergantian dinasti, pengakuan budaya menyatukan semangat kebangsaan. Dan PKT menghancurkan budaya Tiongkok habis-habisan, dan menggantinya dengan budaya partai, terutama yang paling gila adalah pada masa “Revolusi Kebudayaan”.

Revolusi Kebudayaan menghancurkan benda peninggalan dan sejarah Tiongkok. Di seluruh negeri sekitar 10 juta rumah keluarga digeledah, karya sastra, lukisan, porselen, kitab kuno dan perhiasan kuno yang berharga dan yang tak terhitung banyaknya telah dihancurkan atau dibakar. Biara, museum, arca Buddha dan situs bersejarah menjadi sasaran pengrusakan. Banyak situs budaya dan warisan bersejarah sejak ribuan tahun lalu yang telah dibangun sedemikian rupa di berbagai kota dan desa di RRT dihancurkan hingga rata dengan tanah.

Para Suci dari aliran Confusius, Buddha dan Taoisme yang melambangkan kebudayaan Tiongkok, serta para pahlawan, kaisar, jendral, cendikia, semua menjadi sasaran pengganyangan di zaman Revolusi Kebudayaan. Patung-patung dan kuil-wihara mereka dihancurkan, bahkan ada makam dari mereka yang dibongkar dan sisa jasadnya dilecehkan! (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular