Keterangan foto: (KIRI) Super model Wu Pinxuan mengenakan Shanghai Dress (Cheongsam) dengan leher baju bersulam daun teratai dengan warna dasar kuning angsa, dipadukan dengan mantel pendek dari kulit berbulu dengan warna tepung akar lotus, anggun dan elok. (Qiu Pu Lin / Epoch Times) (KANAN) Shanghai Dress (Cheongsam) mencerminkan kelembutan dan keindahan wanita Tionghoa tradisional. (Zhong Yuan/Epoch Times)

Oleh: Xu Yizhi

Jika dikilasbalik dengan teliti, banyak orang mengira Shanghai Dress (Cheongsam) adalah simbol pakaian bagi orang Tionghoa, sebenarnya bukanlah demikian. Hidup di dalam sebuah kota yang diramaikan oleh banyak etnis, orang yang mengenakan busana etnik di jalan, akan sangat menyolok, sangat indah, dan juga sangat lembut halus. Tak peduli warna dan coraknya sangat dimaksimalkan dan indah sekali, kalau didekati, pastilah sedap dipandang dan nyaman di hati serta menimbulkan rasa tentram, tidak terkesan menyedak.

Hal ini dikarenakan busana tradisional suatu bangsa adalah endapan sejarah bangsa yang sangat dalam, barulah memiliki konotasi tersebut, secemerlang apapun karakteristik luar ini juga tidak dapat melampaui ukuran tersebut, sekalipun nampaknya disebarkan secara meluas.

Busana suatu bangsa memiliki sejarah yang sangat jauh dan dalam

Shanghai Dress (Cheongsam) tidak terkecuali, busana suatu bangsa pasti memiliki sejarah yang dalam dan jauh, barulah dapat menampakkan kandungan daya tarik yang kuat dari bangsa itu. Busana pada setiap dinasti dan setiap zaman sangat indah tiada bandingnya dan sama-sama memiliki kekhususan. Pakaian juga demikian: pakaian dinasti Han bagian depan menutup ke sebelah kanan dan berlengan baju lebar, kuat dan serius. Pada dinasti Song asesorisnya lembut dan halus, ujung lengan baju sempit, jaket model cardigan dengan kancing di tengah-tengah depan dada, indah sekali dan lembut. Busana dinasti Ming memiliki gaya unik, rok bagian bawah terutama bercorak menyempit dan mengepung, jaket dan kancing menutup di sebelah kanan. Ujung lengan bajunya beragam jenis, terdapat lengan baju berbentuk kecapi yang lunak dan lincah, lengan baju lurus, tegas, mantap dan sebagainya. Warna yang digunakan warna cerah indah yang kalem, secara rinci digunakan benang emas dan perak mengikuti keindahan lekuk tubuh yang cerah serta garis-garis berpola hiasan nan anggun. Terdapat juga berbagai warna garis yang sederhana anggun dan hangat, kontrasnya jelas, sangat menyenangkan dan sedap dipandang.

Sedangkan busana Dinasti Tang, tidak berlebihan jika dilukiskan sebagai menyajikan pemandangan yang megah semarak. Busana untuk kaum pria terutama menggunakan pakaian dengan krah bulat dan ujung lengan baju sempit (cocok untuk pemanah), menimbulkan suatu kesan efisien; penggunaan warna indah dan serasi. Warna putih magnolia denudata yang anggun dan warna kuning jason, kaya akan pola hiasan yang gagah indah, terdapat banyak guratan yang tersembunyi dan sulaman, bahan pakaian lapisan luar juga lebih dari berharga, kebanyakan menggunakan kain sutra yang mahal dan anggun. Busana wanita terutama rok dengan jaket sebatas pinggang dan rok dengan jaket sebatas dada, lengan baju terkadang lebar terkadang sempit, rok dengan jaket ini ditambahkan pita sutra bagaikan putri istana dan selendang, sungguh luar biasa indahnya. Bergerak lincah menarik bagaikan bidadari. Pola hiasannya sangat banyak dapat ditulis sebuah buku untuk itu, namun karekteristik umumnya adalah corak bunganya anggun, bisa gelap, bisa cekung, bisa cembung, bisa terang, penggunaan warna bisa cerah kalem, bisa indah lembut, bisa indah sederhana, atau naif dan lunak. Beraneka corak, sulit diuraikan.

Sedangkan busana Tiongkok, menurut sejarahnya, hanyalah pada tahun-tahun akhir Tiongkok Nasionalis (1900-an). Orang-orang mengenakan baju dan celana Tiongkok di dalam pakaian Manchu, menjelang tradisi nyaris sirna, secara serampangan dikeluarkan oleh orang-orang yang menginginkan tradisi, benar-benar merupakan hal yang terpaksa. Sekalipun begitu suatu bangsa yang merdeka di belantara dunia, bukan bersandar pada buminya, hartanya, kekuatan bala tentaranya, melainkan bersandar pada makna budayanya yang khas. Tradisi sejarah yang sejak dahulu kala, hal ini tidak dapat dicopy begitu saja, semua benda dapat ditiru, dicopy, hanya kebudayaan yang tidak, unik dan penuh dengan arti.

Shanghai Dress (Cheongsam)

Sedangkan Shanghai Dress (Cheongsam), dimulai dari pakaian suku Manchu dinasti Qing sampai sekarang, pada masa Tiongkok Nasionalis mencapai masa kejayaan, merupakan busana zaman Tiongkok Nasionalis (1911-1949 di daratan Tiongkok). Sampai pada masa ini, masih banyak orang yang menyukai Shanghai Dress (Cheongsam); banyak orang yang mempunyai prasangka terhadap Shanghai Dress (Cheongsam), sesungguhnya Shanghai Dress (Cheongsam) yang benar-benar sesuai tradisi bukanlah sangat ketat seperti yang ditayangkan di bioskop atau televisi, dari foto-foto tua masa Tiongkok Nasionalis dapat dilihat, cukup banyak tukang kawakan masa kini juga masih memiliki ketrampilan tersebut, Shanghai Dress (Cheongsam) tradisional tidaklah ketat membalut tubuh, melainkan di bagian depan dan belakang pinggang masing-masing dibuatkan lipatan panjang dan halus. Muncullah perbedaan seluruh ritme Shanghai Dress (Cheongsam) dan perbedaan karena keindahan kelembutan wanita. Sekalipun demikian, Shanghai Dress (Cheongsam) masih tetap longgar, namun sangat tidak konvensional. Dalam bidang penggunaan warna, juga mengikuti perangai Dinasti Tang, beraneka ragam, berlimpah sulit dilukiskan.

Shanghai Dress (Cheongsam) berasal dari Dinasti Qing dan mencapai masa kejayaan sampai di luar sejarah masa Tiongkok Nasionalis, namun yang lebih penting adalah daya tarik yang terkandung di dalamnya. Orang yang mengenakan Shanghai Dress (Cheongsam), kalau sikap tubuhnya sangat tidak berdisiplin, membungkuk dan pinggangnya miring, tidak akan memancarkan daya tarik Shanghai Dress (Cheongsam), mengenakan pakaian jenis ini, pinggang hendaknya tegak, leher hendaknya lurus, sikap mental seluruh dirinya hendaknya baik, baru dapat mencerminkan keanggunan serta keseriusannya.

Baik di negeri Barat maupun Timur, asalkan berpendidikan ningrat, akan sangat memperhatikan tingkah laku dan penampilan, musti sejak kecil berada pada tradisi atmosfer elitis, dipengaruhi secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit dipupuk, baru dapat memanifestasikan diri sebagai wanita terhormat dan ningrat. Bagi bangsa Tionghoa, “ketulusan” ini sangat perlu ada pada kaum ningrat maupun rakyat jelata. Itu sebabnya metode penggunaan Shanghai Dress (Cheongsam) juga dikodratkan berstatus elit.

Di dalam kebudayaan tradisional Tiongkok, pria mengutamakan kejantanan (Yang), seorang ksatria musti jujur, terbuka dan penuh energy positif. Seorang wanita hendaknya lemah lembut (Yin), penuh perhatian, sangat lembek lentur. Selain itu Taoisme mengatakan “tubuh manusia mengandung unsur yin (kewanitaan) dan yang (kejantanan)”, yang menyatakan bahwa di dalam yin terkandung yang, di dalam yang terkandung yin. Sebagai contoh, pria meskipun terutama bersifat yang (kejantanan), namun juga mempunyai sisi kelembutan, yaitu dalam kekerasan mengandung kelembutan, dimanifestasikan dalam rasa kasih terhadap yang lemah, melindungi kaum wanita. Wanita justru dalam kelembutan mengandung kekerasan, kelihatannya lemah, namun hatinya sangat ulet, dalam menghadapi kesulitan, kekuasaan, tidak sampai terhina dan patah semangat. Pencapaian kebudayaan Tiongkok semacam ini telah turun temurun diwariskan selama ribuan tahun dan disanjung dalam sejarah panjang yang tak pernah pudar.

Kebudayaan ini tercermin di dalam berbagai bidang, termasuk berbusana. Garis-garis pada Shanghai Dress (Cheongsam), dari jarak jauh kelihatan sebagai garis lurus, garis mendatar dan tegak, ketika didekati, ternyata adalah garis lengkung melingkar, bahkan lekukan pun semuanya melengkung lembut. Kebudayaan Tiongkok memuji-muji persegi dan bulat, manifestasi pada Shanghai Dress (Cheongsam) adalah garis-garisnya dalam kelembutan mengandung ketegasan dan dalam ketegasan mengandung kelembutan, kelembutan dan ketegasan yang saling mengisi ini adalah pola pikir orang zaman dahulu.

Apabila kebudayaan tradisional diandaikan sebatang pohon, jiwa adalah akar yang ada di bawah tanah, taraf kecakapan dan perilaku yang tercermin di luar adalah kesuburan dedaunan dan dahan pohon yang berada di atas bumi, banyak sekali orang yang membicarakan kualitas orang Tionghoa, sesungguhnya Tiongkok (tidak termasuk RRT) sejak zaman dahulu selalu merupakan suatu kekaisaran yang dijunjung oleh kerajaan-kerajaan lain, yang diandalkan bukanlah kekuatan militer, uang, wilayah, melainkan kebudayaan, ini adalah sesuatu yang paling berharga yang bersumber dari sejarah dan tidak dapat dicopy yang membuat orang merasa sangat respek. (pur/whs/rmat)

 

Share

Video Popular