Keterangan foto: Ji Seong-ho di atas panggung Oslo Freedom Forum pada 26 Mei 2015. (AFP/NTB Scanpix/Pedersen/Terje Norway Out)

Oleh Sally

“Saya meninggalkan Korea Utara pada 2006 karena ingin kebebasan. Singkatnya saya ingin dimanusiakan,” kata Ji Seng-ho, seorang pemuda pelarian dari Korea Utara yang mengalami kecacatan dan kesengsaraan hidup sebagai pembelot. Selama sekian tahun ia berkeliling dunia mencari peluang untuk mengekspos kekejaman dan korupsi rezim Kim yang diktator.

Ji Seong-ho lahir pada 1983, tidak lama setelah ia lulus sekolah dasar, sistem pembagian jatah makanan tiba-tiba dihentikan pemerintah Korea Utara, sehingga teman sekolahnya satu demi satu meninggal dunia. Penduduk mulai makan kulit pohon dan rumput karena tidak ada persediaan makanan.

Pada 1995 neneknya meninggal karena kelaparan. Dalam masa itu, ‘Pemimpin Besar Korea Utara’ Kim Il-sung meninggal dan putranya Kim Jong-il naik tahta, tetapi, menghadapi rakyatnya yang tertimpa bencana kelaparan, Kim Jong-il tetap memilih mengucurkan dana pemerintah yang besar untuk membangun makam ayahnya yang luas dan megah.

Di dekat desa Ji Seong-ho tinggal ada sebuah kamp untuk tahanan politik, para tahanan di sana dipaksa untuk bekerja sebagai penambang batubara dan banyak yang akhirnya menemui ajal karena kelelahan. Tidak jarang di pertengahan malam, Ji Seong-ho bersama orang rumah terpaksa melompat naik ke atas kereta pembawa batubara yang sedang lewat untuk mencuri sekian karung batubara yang dijual di pasar gelap untuk mendapatkan uang membeli makanan. Bagi Ji yang berbadan kecil dan kurus karena kurang gizi, melompat dan membawa karungan batubara di bahunya bukan pekerjaan mudah. Suatu kali, kelaparan, lelah dan banyak menghisap debu batubara menyebabkan ia jatuh pingsan.

Ketika siuman ia baru sadar bahwa dirinya berbaring di sisi rel kereta. Kereta sudah lewat dan paha kirinya putus terlindas. Saat itu darah akan mengucur mengikuti napasnya meski ia harus menahan sakit dan terus mengalirnya darah. Ji menemukan jari di tangan kirinya juga putus terlindas. Akhirnya Ji dibawa ke rumah sakit terdekat meskipun di sana tidak tersedia darah segar untuk transfusi termasuk obat anestesi.

Pada 1996, Ji Seong-ho yang berusia 13 tahun terpaksa menjalani operasi di rumah sakit selama 3 jam dalam keadaan tanpa pembiusan. Rasa sakit yang amat sangat membuat ia pingsan berulang kali, tetapi dokter juga berulang kali menampar muka Ji supaya kesadarannya tetap terjaga.

“Saya bahkan tidak tahu bagaimana untuk melukiskan rasa sakit itu” kata Ji Seong-ho.

Tidak tersedia obat-obatan untuk penyembuhan luka, tidak ada makanan untuk bertahan hidup kecuali kecewa dan kecewa dan mati harapan. Adik lelakinya mencarikan makanan sisa orang di tong-tong sampah untuk diberikan kepada Ji. Saudara-saudaranya makan rumput tetapi memberika makanan yang ‘layak’ kepada Ji agar lukanya cepat sembuh. Pertumbuhan saudara-saudaranya tidak ada yang sempurna karena kurang gizi.

Ayah Ji Seong-ho adalah seorang anggota Partai Komunis Korea Utara, meskipun ia memperoleh pekerjaan di pemerintah tetapi tidak sanggup menghidupi keluarga. Ia baru sadar dan menyesal setelah kejadian yang menimpa JI Seong-ho, lalu bertekad untuk menyelamatkan keluarga.

Di waktu lalu, Ji Seong-ho mengecam ayahnya karena ia harus hidup dengan mencuri batubara dan ayahnya pun telah berulang kali minta maaf atas kondisi itu. Belakangan Ji Seong-ho baru sadar bahwa itu bukan kesalahan dari ayahnya tetapi akibat rezim Kim yang mengabaikan kehidupan rakyatnya.

Ia menjadi seorang cacat setelah sekian bulan menjalani masa pemulihan luka. Namun demikian, ia bertekad untuk membantu keluarga. Dengan bantuan tongkat penyangga badan ia melintasi perbatasan dan masuk ke wilayah Tiongkok. Di sana ia tercengang karena makanan ternak lebih baik daripada makanan orang-orang Korea Utara.

Ia kemudian membawa sekarung beras untuk diberikan kepada keluarga di kampung tetapi dirampas oleh petugas perbatasan yang mencaci-makinya dengan kata-kata, “Kamu membuat malu Pemimpin Besar Rakyat Korea Utara, membiarkan orang asing melihat orang Korea Utara yang cacat tubuh.”

“Orang cacat di Korea Utara dianggap sebagai manusia kelas bawah,” kata Ji Seong-ho.

Sama sekali tidak ada organisasi swasta maupun pemerintah yang membantu mengurus warga yang cacat. Ji tidak memiliki kursi roda, tongkat penyangga badan. Hak asasi manusia di Korea Utara sangat buruk dan itu makin terasa bagi penyandang cacat, tetapi pemerintah terus berupaya untuk menutupi cara memperlakukan warga cacat.

Ia menyadari bahwa ini bukan tempat yang memberikan harapan untuk hidup, untuk itu ia harus ke luar dari Korea Utara, entah pergi ke Korea Selatan atau tempat-tempat lainnya, pokoknya pindah ke tempat yang memberikan kehidupan bagi manusia. Inilah yang mendorong Ji Seong-ho untuk meninggalkan negara asalnya pada 2006.

Akhirnya, Ji Seong-ho beserta kebanyakan anggota keluarganya berusaha untuk meninggalkan Korea Utara melalui Tiongkok untuk mencapai Korea Selatan. Saat melalui sungai yang aliran airnya deras. Ia hampir mati terbawa arus, beruntung abangnya berhasil memegang rambut Ji dan menariknya mendekat.

Meskipun tertatih-tatih, namun 2 harapan selalu menyertai Ji sepanjang jalan pelarian. Perut kenyang tanpa harus mencuri, bisa memiliki tangan dan kaki palsu untuk mengatasi kecacatannya. Dan itu semua terlaksana setelah ia tiba di Korea Selatan.

Ayahnya tertangkap penjaga saat melintasi perbatasan, ia kemudian dipenjara dan dipaksa untuk mengungkapkan cara para pembelot itu melepaskan diri dari pemantauan petugas. Karena anggota Partai, maka Ia disiksa sampai mati dalam penjara. Ketika ayahnya itu masih hidup, ia pernah berharap bisa menyekolahkan Ji Seong-he ke Universitas. Untuk mengenang dan menghormati ayahnya Ji merealisasikan keinginan ayahnya itu.

Ji Seong-ho bersumpah untuk melakukan segala yang ia mampu untuk membantu rakyat Korea Utara. Ia mendirikan organisasi yang dinamakan NAUH (Now, Action, Unity, Human Rights). Organisasi ini akan memberi bantuan untuk membawa pembelot Korea Utara ke Selatan, juga akan gencar dalam mengekspos agar masyarakat dunia lebih memahami fakta yang terjadi di negaranya.

“Masyarakat banyak yang mengira bahwa Korea Utara adalah negara yang normal, tetapi apa yang Anda lihat itu hanyalah 1% dari kota Pyongyang yang tidak merefleksikan kehidupan nyata rakyat Korea Utara. 99% masyarakat sedang hidup dalam kesengsaraan,” kata Ji. Di Korea Utara, internet dilarang.

NAUH juga melakukan kegiatan penyiaran lewat speaker untuk penduduk di Korea Utara. Setelah beberapa saat tinggal di Tiongkok Ji makin sadar bahwa situasi di ngerinya sudah gawat.

Ia sekarang sudah menjadi warga negara Korea Selatan dan baru-baru ini mengunjungi Amerika dan menyampaikan pidato di universitas dan menemui beberapa pejabat pemerintah. Ia juga akan menemui perwakilan dari Departemen Luar Negeri AS di Washington dan perwakilan dari Majelis Umum Delaware, menemui juga perwakilan dari organisasi HAM di kota Philadelphia.

Di balai Universitas Wilmington AS ia mengatakan, “Saya lahir di Korea Utara di mana masih terdapat 23 juta rakyat yang hidup menderita dan menghadapi kematian akibat kediktatoran rezim Kim”.

Ia tidak pandai berbahasa Inggris, tetapi suara sedu yang jelas terdengar sepertinya tidak perlu untuk diterjamahkan. CEO dan presiden perusahaan manajemen konstruksi dan solusi rancang bangun EDiS, Brian DiSabatino mengatakan, “Walau Ji adalah anak muda yang berasal dari dusun miskin di Korea Utara, tetapi ia mencoba dengan segala kemampuannya untuk mengatakan tidak kepada rezim yang diktator. Itu adalah hal yang luar biasa dan menarik.”

“Banyak orang Amerika yang kurang memahami sejauh mana penderitaan rakyat Korea Utara. Dengan mendengar ceritanya, orang akan lebih menyadari betapa luas masalahnya,” kata DiSabatino lebih lanjut.

“Rezim Korea Utara menyadari bahwa sampai rakyatnya tahu bagaimana kondisi di luar Korea Utara, maka rakyatnya akan bangkit untuk menentang rezim. Itulah kekhawatiran yang paling besar bagi mereka,” kata Ji Seong-ho. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular