Keterangan foto: Pengacara HAM Tiongkok Gao Zhisheng. (foto Epoch Times)

Oleh Liang Bo

Tempat kediaman pengacara HAM Tiongkok Gao Zhisheng di kota Yulin, Shaanxi, Tiongkok tiba-tiba dimasuki tanpa ijin penghuni oleh 3 orang petugas polisi stempat. Selain mereka, di luar tempat kediaman juga terlihat sejumlah petugas keamanan yang berjaga-jaga.

“Apa yang ingin kalian lakukan?”

Menghadapi pertanyaan Gao, ketiga orang polisi terdiam seakan tidak tahu apa yang tepat sebagai jawabannya. Salah satu dari mereka kemudian keluar ruang untuk berbicara lewat ponsel mungkin untuk meminta ‘petunjuk atasan’, dan yang satu lagi kemudian menjawab dengan kata-kata sekenanya mengatakan, “Kalau begitu ya pemeriksaan data kependudukan, pemeriksaan khusus buat rumah ini”.

Gao Zhisheng baru pindah dari rumah saudara laki-lakinya di kampung yang terletak di wilayah Barat Laut Tiongkok dan mendiami rumah di kota Yulin itu yang milik familinya. Keluarganya di Xi An sebelumnya telah menyewa sebuah rumah buat Gao agar ia mudah menjangkau rumah sakit untuk berobat giginya yang rusak akibat penyiksaan lalu. Tetapi sebelum Gao tiba di Xi An, tiba-tiba keluarga mendapat kabar lewat telepon tentang penolakan pemilik rumah sewaan yang mengatakan bahwa pihak kepolisian setempat telah berulang kali, mungkin sekitar 4 jam total lamanya untuk menjelaskan alasan larangan menerima penyewa khusus ini.

Gao Zhisheng mengutuk tindakan tidak manusiawi otoritas yang berulang kali mencegah ia pergi berobat gigi. Protes terhadap intimidasi ala premanisme yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 49 tahun yaitu bertindak sewenang-wenang untuk merampas hak pribadi dengan masuk ke rumah seseorang tanpa ijin dari pemilik. Gao bertanya kepada ketiga polisi yang dipanggil ‘orang-orang hebat’ itu, “Sampai kapan kalian bisa memahami ada hak pribadi yang berlaku di dunia ini dan kekuasaan publik pun memiliki batas. Ini adalah pengetahuan umum”.

Ketiga polisi itu baru meninggalkan kediaman setelah Gao mengeluarkan protes keras. Setelah itu Gao teringat bahwa ini pasti merupakan bagian dari ulah pihak berwenang yang sebelumnya pernah mengancam, “Anda tidak akan bisa tinggal di sini (kota Yulin), kita bisa menggunakan segala cara.”

Gao Zhisheng ditangkap pada Agustus 2006 dan dianiaya berat oleh rezim PKT karena membela kasus praktisi Falun Gong dan pernah 3 kali menulis surat menyampaikan pendapat kepada otoritas PKT agar menghentikan penindasan terhadap Falun Gong. Sejak 2011 ia ditahan di penjara Sanga, Xinjiang hingga 7 Agustus tahun lalu baru dibebaskan. Karena penyiksaan dan perlakuan buruk selama berada dalam tahanan menyebabkan ia kehilangan kemampuan berbahasa, daya ingat dan kesehatannya menurun drastis, gigi rusak mendekati ompong.

Namun, masalah setelah Gao dibebaskan mau ditempatkan di mana menjadi kekhawatiran besar otoritas. Untuk itu saja otoritas menurut apa yang dikiaskan Gao Zhisheng, “Dibuat pusing tujuh keliling, sampai mengeksplorasi habis seluruh kecerdasan rezim”.

“Anda tidak mungkin bisa kembali ke Beijing karena kita tidak menghendaki adanya situasi yang rumit. Anda harus meninggalkan Xinjiang karena stabilitasnya sangat terganggu,” kata sumber otoritas.

Dengan alasan-alasan itu Gao Zhisheng menjalani tahanan rumah di sebuah desa terpencil di Barat Laut Tiongkok. Di sana ia dijaga ketat dan tidak bebas bepergian termasuk berobat ke rumah sakit.

Geng He, istri Gao yang kini tinggal di California, AS tidak bisa menerima perlakuan otoritas terhadap suaminya yang sudah dibebaskan, namun untuk berobat gigi ke rumah sakit saja tetap dipersulit.

“Apa bedanya hidup di alam bebas dan di dalam penjara?” tanyanya.

Kerusakan gigi yang serius telah memperburuk kondisi kesehatan Gao. Betapa tidak, Gao yang baru berusia 50 hanya bisa mengkonsumsi makanan lembek untuk bayi. Beberapa bulan lalu, karena seteguk susu sapi hangat, ia harus menderita sakit gigi dan gusi yang luar biasa sampai setengah hari lamanya, dan membuang sisanya yang tidak berani lagi diminum.

Akhir tahun lalu, Gao pernah keluar rumah untuk mencabut gigi dan kembali ke dokter bersangkutan beberapa hari kemudian karena pendarahan yang tidak berhenti. Kabarnya, sejumlah polisi yang dikerahkan untuk ‘mengamankan’ Gao membuat para pengunjung rumah sakit desa terpencil di Barat Laut Tiongkok itu ketakutan.

Geng He dan keluarga berharap suaminya yang pengacara HAM ternama dunia benar-benar bisa memperoleh kesempatan berobat di rumah sakit kota Yulin, tidak dijadikan ‘dagelan HAM’ oleh PKT. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular