Keterangan foto: Massa pendukung Aung San Suu Kyi di depan kantor pusat NLD pada malam menjelang pencoblosan. Parpol yang dipimpin oleh Suu Kyi itu juga sempat meraih kemenangan pada pemilu 1990, namun digulingkan oleh Junta Militer. Setelah 15 tahun, rakyat Myanmar tetap konsisten memberikan suaranya pada Aung San, diantaranya termasuk orang-orang pemerintahan Junta Militer. (AFP/Getty Images)

Oleh: Qi Yun Shan Ren

Hasil pemilu Myanmar telah diumumkan, NLD yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi meraih 70% suara, dan memenangkan hak untuk memerintah. Pemerintah berkuasa Myanmar berikut pihak militer menyatakan tunduk sepenuhnya terhadap pilihan rakyat dan menerima hasil pemilu tanpa syarat meskipun kalah. Sebanyak 80% warga Myanmar yang memiliki hak suara telah memberikan suara pada pemilu kali ini, parpol yang dipimpin oleh Suu Kyi juga sempat meraih kemenangan pada pemilu tahun 1990, namun digulingkan oleh Junta Militer. Setelah 15 tahun, rakyat Myanmar tetap antusias, dengan tetap memberikan suaranya pada Aung San Suu Kyi, diantaranya juga termasuk orang-orang yang hidup dari pemerintah Junta Militer.

Myanmar adalah salah satu negara termiskin di Asia, tahun lalu saat saya berkunjung ke Myanmar, pelayan hotel hanya digaji ratusan Yuan per bulan, perekonomian di sejumlah desa juga masih seperti desa-desa di Tiongkok lebih dari 30 tahun silam, tapi wajah penuh semangat warga disana meninggalkan kesan yang amat dalam bagi saya. Seorang bocah laki-laki yang telah kehilangan ibunya, sang ayah harus bekerja jauh di Yangoon, biara-biara di Myanmar memiliki tradisi beramal, bocah itu pun menumpang hidup di biara. Setiap subuh, bocah itu mengendarai sepeda tua yang entah didapat darimana, pergi ke pagoda tua yang ramai dikunjungi turis-turis untuk menjual kartu pos disana. Saya memberinya uang, tapi bocah itu menolak dengan tegas, membalikkan badan lalu berlari pergi. Saya mengerti, anak itu memiliki harga diri yang tinggi, tidak ingin menerima sedekah, melainkan ingin mendapat uang secara halal dari hasil jerih payahnya sendiri, hal ini sangat mengejutkan saya. Kuil terbesar di Bagan, Myanmar, hanya ada satu orang Bhiksu, kuil itu tidak memiliki aula yang mewah apalagi gemerlap, namun mengadopsi 57 orang anak yatim, sang guru bermain sepak bola dengan anak-anak itu, mengajarkan anak-anak itu baca tulis, seperti sebuah keluarga besar. Setelah dewasa, anak-anak masih sering pulang ke kuil itu untuk menjadi relawan.

Warga Myanmar masih lugu dan sederhana, kali ini mereka tetap mengejar hak yang telah melekat pada setiap orang sejak lahir-memberikan suara memilih partai politik yang dapat mendatangkan hidup sejahtera bagi mereka kelak. Tentu saja, para pemimpin diktator di negara ini juga patut dihormati, mereka telah menentukan pilihan paling bijaksana dan bersejarah bagi Myanmar di tengah gelombang demokrasi yang bergelora ini. Dibandingkan rakyat negara X, dimana sama sekali tidak pernah menikmati hak memberikan suara, tidak memiliki tanah berpijak, mati pun hanya bisa dikubur selama 20 tahun, bahkan ibu tua renta yang jatuh di jalanan pun tidak ada yang menolong, maka pemikiran rakyat Myanmar sudah jauh lebih tinggi. Meskipun saat ini masih sangat miskin, namun Myanmar tahu, kemiskinan dan ketidak-adilan bukan pilihan mereka, melainkan dipaksakan oleh para penguasa. Walaupun kita tidak pernah tahu apakah pilihan tersebut tepat atau tidak, setidaknya mereka akhirnya memperoleh haknya untuk memilih.

Hampir seabad lalu Tiongkok berhasil menggulingkan sistem kekaisaran, tapi tetap tidak bisa melepaskan diri dari otokratis. Negara Asia yang pertama kali mendirikan negara republik ini justru masih bergelut di dalam pusaran tirani, mengalami proses pemulihan dan pemulihan kembali. Alasan tidak diberikannya hak demokrasi adalah karena kualitas SDM di RRT masih sangat rendah, tidak pantas memperoleh hak demokrasi, dan setiap kali rakyat sadar, kendaraan lapis baja telah di depan mata siap melindas, sejarah pun terlontar kembali ke masa sebelumnya. Saya tidak tahu bagaimana Karl Marx seandainya masih hidup, akan menilai pemilu Myanmar kali ini, bagaimana akan menilai semua yang terjadi saat ini, tapi saya tidak percaya seorang bijak yang berwawasan luas akan bersikeras mempertahankan sistem pemerintahan otoriter selamanya.

Mengenang kembali saat Dr. Sun Yat Sen mendeklarasikan berdirinya negara republik, di sana sini masih terdengar orang yang berkata: “anu (kuncir. Red: di zaman Dinasti Mancu/Qing warga lelakinya diwajibkan memelihara kuncir laiknya tradisi suku Mancu)” saya ini dipotong dengan sukarela, agar tidak ada orang Barat yang berkomentar miring. Saya yakin, akan selalu ada 1001 alasan untuk mempertahankan pemerintahan otoriter, sejarah sangat adil, setiap penguasa akan selalu dinilai oleh sejarah, betapa pun indah kata-kata yang melukiskan kehebatan penguasa, pada akhirnya sejarah akan bertindak tanpa pandang bulu. (sud/whs/rmat)

 

Share

Video Popular