RPTRA Cililitan, Jakarta Timur (Istimewa)

JAKARTA – Pada awal September 2015,  Aktivis Forum Anak Jakarta Barat, Citra Demi Kirana sudah melayangkan surat terbuka kepada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama untuk mencabut kerja sama pembangunan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) dengan perusahaan rokok. Surat tersebut menolak keterlibatan perusahaan rokok karena memberi preseden buruk bagi pendidikan masyarakat.

“Keprihatinan tersebut karena pembangunan RPTRA,  yang menggunakan dana sosial perusahaan (CSR),  ternyata juga didukung oleh perusahaan rokok,” tulis Citra dalam keterangan tertulisnya, Minggu (15/11/2015).

Di antara perusahaan itu salah satunya adalah perusahaan PT Djarum.  Citra khawatir, kerjasama tersebut akan memberikan kebebasan bagi perusahaan untuk mencantumkan logo perusahaan atau anak perusahaannya di RPTRA, yang merupakan kawasan taman terbuka. Padahal, menurut Citra, taman terbuka seharusnya bebas dari berbagai simbol rokok.

Ketua Lentera Anak Indonesia, Lisda Sundari mengatakan sebagai tempat bermain, berkumpul dan berkegiatan anak-anak, RPTRA seharusnya merupakan kawasan tanpa rokok,  seperti dimandatkan oleh UU kesehatan no 36 tahun 2009, PP no 109 tahun 2012 dan Pergub DKI Jakarta No. 50 tahun 2012. “Ini berarti RPTRA harus bebas dari kegiatan orang merokok, menjual rokok, dan memproduksi rokok, serta bebas dari iklan, promosi dan sponsor rokok,” ujarnya.

Sebagai langkah menguatkan peran dan fungsi RPTRA sebagai kawasan ramah anak yang bebas rokok 100%, serta mempromosikan keberadaan RPTRA, Lentera Anak Indonesia sebagai lembaga independen yang mendukung perwujudan Indonesia sebagai Negara demokratis yang ramah anak, menyelenggarakan kegiatan “Sehari Berkreasi”  di RPTRA Cililitan, Minggu (15/11/2015).

Pada kegiatan tersebut diadakan sejumlah acara seperti atraksi tarian dan lagu anak, dongeng bersama Kak Tinoy, lomba poster untuk anak dan remaja, serta pameran hasil-hasil lomba kreasi Sumpah Pemuda yang sudah diselenggarakan secara online melalui fanpage FCTC untuk Indonesia. Pada acara tersebut anak-anak bersama aktivis Gerakan Muda FCTC dan Forum Anak akan memasang spanduk bertuliskan “Taman Ramah Anak Tanpa Rokok”.

Ide awal pembangunan RPTRA sejatinya adalah untuk mendukung Jakarta sebagai Kota Layak Anak, sehingga setiap kelurahan miniml memiliki satu RPTRA yang dapat dimanfaatkan anak-anak untuk arena bermain. Pemerintah Propinsi (Pemprov) DKI Jakarta tahun ini memang  sudah merencanakan membangun 54 RPTRA di Jakarta menggunakan dana CSR, dan diperkirakan selesai pada akhir Desember. Selanjutnya Pemprov DKI Jakarta akan membangun 150 RPTRA pada 2016.

Sebelumnya saat meresmikan RPTRA di Cililitan, Jakarta Timur, Kamis (22/10/2015) lalu Gubernur Basuki Tjahaja Purnama menegaskan RPTRA adalah wadah komunitas warga untuk saling beraktivitas dan berkomunikasi. Fungsinya tak hanya sekedar area bermain bagi anak-anak. Apalagi jumlah penduduk yang semakin padat maka kebutuhan warga untuk berkumpul semakin meningkat

Pada saat itu, Ahok menyatakan bahwa pembangunan RPTRA tidak menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan dana sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) dari PT Pembangunan Jaya. RPTRA Cililitan adalah yang terluas dibangun di atas lahan seluas 3.600 meter persegi. RPTRA tersebut dilengkapi dengan lapangan futsal, jogging track, ampitheater, perpustakaan, kolam ikan, ruang konseling keluarga, ruang laktasi, dan taman bermain.

Sebelumnya, Ahok telah meresmikan beberapa RPTRA yakni RPTRA Sungai Bambu Utara, RPTRA Gandaria, RPTRA Cideng, RPTRA Kembangan Selatan, dan RPTRA Pulau Untung Jawa di Kepulauan Seribu. (asr)

Share

Video Popular