Ilustrasi industri garam (Shutterstock)

JAKARTA – Jika dilihat dari kemanfaatan, garam merupakan komoditi yang sangat strategis sebagai produk konsumsi beryodium, pakan ternak, bahkan sebagai bahan baku dan bahan penolong aneka industri serta industri CAP (Chlore Alkali Plant) yang digunakan pada industri pulp dan kertas, kaca,farmasi serta industri turunannya.

Namun demikian, permasalahan nasional yang saat ini dihadapi adalah produksi garam nasional dinilai belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri terutama untuk sektor industri. Hal ini disebabkan karena mayoritas produksi garam dalam negeri yang diusahakan oleh rakyat mempunyai keterbatasan aksesibilitas terutama bidang teknologi, infrastruktur dan sarana produksi.

“Sehingga kualitas garam rakyat harus diproses lebih lanjut sebelum digunakan oleh konsumen rumah tangga maupun industri. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan dan pemanfaatan teknologi industri,” kata Sekjen Kementerian Perindustrian Syarif Hidayat pada acara seminar dengan tema “Strategi Pencapaian Swasembada Garam Melalui Penerapan Inovasi Teknologi Media Isolator” di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (17/11/2015).

Syarif menyampaikan, pemerintah terus mendorong pengembangan dan pemanfaatan teknologi industri di dalam negeri. Hal ini sesuai amanat Undang-Undang No 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian,yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, produktivitas, nilai tambah, daya saing dan kemandirian industrinasional.

Dia menuturkan pengembangan, peningkatan penguasaan, dan pengoptimalan pemanfaatan teknologi industri tersebut dilaksanakan dengan berkoordinasi antara menteri terkait dan mempertimbangkan masukan dari pemangku kepentingan. Selain itu, katanya, UU perindustrian juga menyebutkan bahwapemerintah melakukan penjaminan resiko atas pemanfaatan teknologi industri yang dikembangkan di dalam negeri. Ketentuan mengenai penjaminan resiko atas pemanfaatan teknologi industri diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Mengenai inovasi teknologi di bidang garam, Kementerian Perindustrian telah memiliki dua hak paten yang memperoleh sertifikat yaitu dengan nomor: ID P0033348 ”Proses Pembuatan garam NaCl Dengan Media Isolator Pada Meja Kristalisasi” dan ID P000036148 “Proses Produksi Garam Beryodium di Lahan Pegaraman Pada Meja Kristalisasi Dengan Media Isolator”.

“Inovasi tersebut telah diimplementasikan pada petani garam melalui alih teknologi sebanyak 570 pegaram di Jawa tengah dan telah terbukti dapat meningkatkan kinerja pegaram dengan indikator peningkatan produktivitas, kualitas, harga serta untuk pengembangan garam beryodium di seluruh nusantara,” papar Syarif.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Haris Munandar menyambut baik atas judul proyek perubahan dari Kepala Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri, Sudarto dengan judul “Strategi Pencapaian Swasembada Garam Melalui Penerapan Inovasi Teknologi Media Isolator” yang akan digunakan sebagai bahan penyusunan roadmap swasembada garam nasional.

Menurutnya, hasil penelitian dan ujicoba kedua inovasi teknologi pegaraman yang dilakukan Kementerian Perindustrian telah membuktikan dapat meningkatkan produktifitas lahan lebih dari 50% dengan kualitas yang lebih baik dan homogen. Selain itu juga dapat menghasilkan garam dengan standar garam bahan baku untuk konsumsi garam beryodium dan industri apabila diterapkan sesuai dengan desain lahan, proses dan sistem panen sesuai SOP (standard operational procedure) paten.

“Untuk membangun swasembada garam nasional diperlukan suatu kebijakan, program dan kegiatan yang sinergi antar kementerian dan lembaga baik pusat dan daerah serta pelaku usaha baik pedagang, industri pengolahan dan masyarakat pengguna,” tegas Haris. (asr)

Share

Video Popular