JAKARTA – Setelah sukses tampil pada kampus lainnya, kini pameran foto bertajuk “Journey of Falun Dafa” hadir di Universitas Katolik Indonesia Atmajaya di pusat kota Jakarta, Senin (16/11/2015). Mahasiswa-mahasiwi dari kampus yang pernah meraih predikat Perguruan Tinggi Swasta Unggulan 2013 dan Indonesia Best Private University 2013 sangat antusias menyaksikan pameran yang hanya digelar sehari itu.

Maya yang kini menekuni studinya di Fakultas Ilmu Administrasi Bisnis dan Ilmu Komunikasi (FIABIKOM) memberikan apresiasi atas pameran foto dari Falun Dafa yang pertama kali digelar di kampus itu. Menurut dia, setiap foto yang ditampilkan memiliki makna tersendiri dan sangat dalam. Sehingga, lanjutnya, sejumlah pengunjung mengetahui lebih jauh tentang Falun Dafa itu sendiri.

Mahasiswi berjilbab ini menuturkan foto-foto yang ditampilkan memang memunculkan reaksi dari pengunjung untuk mengetahui makna dan arti dari foto-foto yang diperlihatkan kepada publik. Dia menambahkan beragam makna tersirat yang terkandung seperti adanya praktisi Falun Dafa atau Falun Gong yang menjadi korban atas pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Tiongkok.

Dia menuturkan kekerasan dalam bentuk apa pun sudah seharusnya tidak perlu terjadi terhadap siapa pun. Dia berharap kejadian tersebut tidak terjadi kembali menimpa terhadap praktisi Falun Dafa. Tak hanya itu, tambahnya, HAM merupakan dasar hakiki yang dimiliki oleh manusia yang tak boleh direngut oleh siapa pun. “Itu memang harus dijaga dan oleh orang lain pun, misalnya kayak gini (seperti ini)  hak-hak itu seperti dilecehkan dan tidak baik seperti itu,” tegasnya.

Senada rekannya dari fakultas yang sama, Meitha menuturkan foto-foto yang ditampilkan seakan membangkitkan kesadaran kepada orang-orang yang menyaksikannya. Seehingga ketika foto-foto ini ditampilkan maka para pengunjung bisa mengetahui lebih jelas tentang perjalanan dan liku-liku yang dihadapi praktisi Falun Dafa.

“Ya bagus orang menjadi sadar dan kayak gini banyak orang yang lebih tahu ada orang yang ditindas, seharusnya jangan terjadi,” tutur mahasiswi kampus yang sudah berdiri sejak 1960 silam.

Sementara Marcela menuturkan atas keprihatinannya atas semestinya hal demikian tidak perlu terjadi. “Sedih pastinya  dan tragis dengan tidak sejumlah orang-orang yang menjadi penindasan atas kekebasan berkeyakinan. Tidak prikemanusiaan, seharusnya gak terjadi,” ujarnya diiyakan dua sahabat karibnya dari Fakultas Ekonomi tentunya dari kampus yang sudah terpercaya kualitas lulusannya unggul, profesional dan peduli.

Falun Dafa atau Falun Gong adalah kultivasi jiwa dan raga berdasarkan prinsip alam semesta Sejati, Baik dan Sabar. Latihan ini dapat memurnikan tubuh dan memperbaiki watak moralitas. Banyak orang yang setelah berlatih mengalami kemajuan pesat dalam kesehatan fisik dan perubahan mental ke arah fositif. Latihan ini mulanya berasal dari Tiongkok dan disebarkan sejak 1992 dan hingga kini dilatih lebih ratusan juta orang pada 114 negara di lima benua.

Falun Dafa pada mulanya mendapat respon baik dari kalangan masyarakat di Tiongkok sehingga pada 1999, jumlah praktisi Falun Gong sudah mencapai 100 juta orang dan melebihi keanggotaan Partai Komunis Tiongkok kala itu. Sehingga pimpinan kala itu, Jiang Zemin pada 1999 disebutkan menyalahgunakan kekuasaannya untuk menindas Falun Gong. Pasalnya, Jiang merasa terancam kekuasaanya. Sebenarnya, praktisi Falung Gong menyatakan mereka tidak berpolitik atau melawan pemerintahan. Sebagaimana diketahui, umat Katolik di Tiongkok juga mengalami penindasan bahkan pentahbisan uskup harus melalui intervensi Partai Komunis Tiongkok dengan tidak pesetujuan Vatikan.

Hingga kini pihak-pihak yang terlibat penganiayaan praktisi Falun Dafa di Tiongkok sudah ditangkap dan diadili dengan kasus lain seperti Bo Xilai dan Zhou Yongkang. Bo Xilai adalah mantan angota dewan politik biro PKT. Dia oleh pengadilan di Tiongkok pada 11 Juni 2015 sudah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. (Muhamad Asari)

Share

Video Popular