Keterangan gambar: Ilustrasi planet mirip bumi yang jauhnya 39 tahun cahaya dari bumi. (video screenshot)

Oleh: Lin Yan

Baru-baru ini, pengamatan astronomi menemukan exoplanet mirip bumi, sehingga kembali membuat astronom terkejut gembira. Exoplanet atau planet di luar tata surya itu bernama GJ 1132b, sedikit lebih besar dari Bumi, memiliki komposisi yang sama, juga terletak di tepi galaksi Bima Sakti dan ciri khas lainnya, adalah exoplanet batuan yang ukurannya hampir sama dengan bumi yang pernah ditemukan hingga saat ini.

Drake Deming, seorang profesor astronomi di “University of Maryland,” AS, seperti dilansir “Business Insider” pada Kamis (12/11/2015) lalu mengatakan, “ini adalah planet paling penting yang pernah ditemukan di luar sistem tata surya kita.”

Exoplanet GJ 1132b hanya 39 tahun cahaya jauhnya dari bumi, dengan ukuran 16 % lebih besar dari bumi, tapi bintangnya lebih kecil dari matahari.

Tingginya suhu seperti di dalam oven

“Jika kita umpamakan planet di luar tata surya itu seperti rumah, maka (planet yang baru ditemukan ini) bukan tempat tinggal yang dihuni tetangga sebelah kita. Tempat yang paling nyaman dari planet GJ 1132b ini suhunya juga akan mencapai 232-260 derajat Celsius (450-500 derajat Fahrenheit),” kata astronom Philip Muirhead di Boston University, AS.

Zachory Berta-Thompson, astronom dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Cambridge, Massachusetts, Amerika mengatakan, “Suhu di planet ini bagaikan di dalam oven, sehingga tidak ada kehidupan yang bisa bertahan karena suhunya terlalu panas.

Namun, para ilmuwan mengatakan, bahwa panasnya suhu GJ 1132b belum sampai pada tingkat tidak ada udara. Panet ini tidak seperti planet mirip bumi lainnya di luar tata surya yang panasnya nyaris seperti api neraka, bahkan udara juga tidak bisa eksis. Ia (planet GJ 1132b-red) sama seperti Bumi, yang diselimuti oleh selapisan atmosfer.

Keterangan gambar: Mengamati dengan menggunakan MEarth-South Telescope Array. (video screenshot)

Planet mirip bumi yang paling dekat bumi

Menurut penuturan ilmuwan, planet mirip bumi ini adalah salah satunya yang paling dekat jaraknya dengan bumi. Karena jaraknya yang dekat, sehingga memudahkan pengamatan lebih mendalam. Sementara jarak planet terestrial (planet mirip bumi) lainnya lebih dari 3 kali dari planet GJ 1132b ini, sehingga secara relatif sulit untuk memahami seluk beluk mereka (planet terestrial).

“Ini adalah planet tetangga, dan sama seperti bumi, bintangnya tidak akan mengganggu pengamatan. Jadi para astronom bisa menganalisis komposisi kimia atmosfer dan analisis spektral, dan dapat dipantau dengan menggunakan teleskop kecil MEarth-South Array,” kata professor Deming.

Menurut penuturan ilmuwan, dengan menggunakan Teleskop Hubble dan Giant Magellan Telescope atau teleskop besar lainnya di masa depan, bisa lebih rinci mempelajari atmosfernya, dan menentukan kelayakannya sebagai tempat yang layak huni dan masalah lainnya.

Bintang cebol merah yang umum ditemui di galaksi Bima Sakti

Melansir laman “Business Insider”, GP 1132b berputar mengelilingi sebuah bintang cebol merah yang relatif lebih redup, sehinggai kondisi ini lebih menguntungkan untuk meningkatkan pengamatan. Di galaksi kita, jumlah bintang katai/cebol merah jauh melebihi bintang-nya matahari, dan diperkirakan 75%-nya adalah bintang cebol merah. Bintang cebol merah lebih kecil, gelap dari matahari, dan suhunya juga jauh lebih rendah. Namun, ini tidak berarti bintang cebol merah tidak dapat memberikan prasyarat untuk kehidupan.

Bintang cebol merah yang dikelilingi GP 1132b besarnya 1/5 dari matahari, dengan tingkat kecerahan 1/200 dari matahari, sementara waktu perputaran GJ 1132b adalah 1.6 hari per minggu. Dan jarak GJ 1132 dengan bintangnya adalah 1/26 jauhnya antar jarak Merkurius dengan matahari. Jadi, inilah sebabnya mengapa suhu di planet GJ 1132b itu relatif tinggi, ungkap para ilmuwan.

Sementara itu, menurut penuturan John Asher Johnson, astronom dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, Amerika, “Ini bukan kali pertamanya kami melihat selayang pandang bintang seperti itu, tapi memang merupakan kesempatan yang langka, sehingga kita dapat mempelajarinya secara berulang-ulang.”(joni/rmat)

 

 

 

 

Share

Video Popular