Keterangan gambar: Pesawat penumpang Kogalymavia Airlines 9268 yang mengalami kecelakaan di Semenanjung Sinai dan menewaskan seluruh 224 orang penumpang dan awak pada akhir Oktober itu adalah akibat serangan teroris. (Khaled Desouki/AFP/Getty Images)

Oleh Luo Dongping

Dinas Pengamanan Rusia (FSB) mengatakan bahwa pesawat penumpang Kogalymavia Airlines 9268 yang mengalami kecelakaan di Semenanjung Sinai dan menewaskan seluruh 224 orang penumpang dan awak pada akhir Oktober 2015 lalu, disebabkan oleh serangan teroris.

Diberitakan Reuters bahwa petugas FSB menemukan bukti berupa sisa bahan peledak yang digunakan untuk meledakkan dari dalam pesawat tersebut. Dan menegaskan bahwa kecelakaan itu disebabkan oleh ledakan, bukannya ditembak jatuh.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengungkapkan kemarahan atas peristiwa ini, mengutuknya sebagai ‘tindak kriminal berdarah’ dan berjanjin untuk menemukan dan menghukum berat pelakunya.

Pesawat penumpang Kogalymavia Airlines 9268 mengalami hilang kontak seteelah 23 menit tinggal landas dari Bandara Sharm el-Sheikh resort di Mesir pada 31 Oktober pagi untuk terbang menuju kota St. Petersburg di Rusia. Pesawat tersebut kemudian ditemukan hancur berkeping-keping dan menewaskan seluruh 224 orang yang berada dalam pesawat termasuk penumpang dan awaknya.

Tidak lama setelah kejadian, Islamic State yang berada di Mesir mengklaim telah menembak jatuh pesawat itu, tetapi disangsikan oleh Rusia dan pemerintah Mesiir.

Berita intelijen Inggris dan Amerika pada 4 November 2015 menyebutkan bahwa kecelakaan pesawat penumpang Rusia itu diduga akibat bom yang diletakkan dalam pesawat tersebut oleh anggota IS atau cabang-cabang mereka.

Media Inggris pada 6 November 2015 memberitakan bahwa kerjasama dari agen intelijen Inggris dan Amerika berhasil menangkap percakapan anggota IS saat pesawat berada di udara Semenanjung Sinai, menunjukkan bahwa organisasi teroris itu sudah meletakkan bom tersembunyi dalam pesawat dan tinggal diledakkan. Pada hari yang sama, FSB melalui analisis kotak hitam pesawat itu memastikan kecelakaan disebabkan oleh ledakan bom.

Pihak berwenang Rusia pada 9 November 2015 untuk pertama kalinya mengakui bahwa kecelakaan pesawat tersebut sangat dimungkinkan oleh serangan teroris. Melalui investigasi yang memakan waktu lebih dari 1 bulan, FSB akhirnya pada 17 November memastikan bahwa kecelakaan pesawat tersebut adalah akibat serangan teroris. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular