Keterangan foto: Kapal Induk Prancis “Charles de Gaulle.” (Bertrand Langlois/AFP/Getty Images)

Oleh Wu Ing

Setelah hasil investigasi Dinas Intelijen Rusia memastikan bahwa kecelakaan pesawat penumbang Rusia di Semenanjung Sinai itu diakibatkan oleh serangan teroris, Rusia mengumumkan rencana untuk bersama-sama Prancis memerangi kelompok teroris IS.

Fox News pada Selasa (17/11/2015) memberitakan bahwa sesuai berita yang dirilis pejabat pemerintas AS, Rusia telah mengerahkan 12 pesawat tempur pengebom jenis Tu-22 dari pangkalan Angkatan Udara di Mozdok, dan meluncurkan rudal jelajah ke basis kelompok teroris IS di Raqqa.

Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan bahwa dari pesawat bomber Rusia juga diluncurkan sejumlah rudal jelajah untuk menyerang pangkalan militer IS/ Islamic State di propinsi Aleppo dan untuk melumpuhkan kaum militan Nusra di propinsi Idlib.

Namun seorang pejabat militer Timur Tengah yang tidak disebutkan namanya kepada koresponden Fox News mengatakan bahwa meskipun Rusia dan Prancis memiliki tujuan bersama untuk memerangi IS, namun kedua negara itu tidak mungkin merundingkan target serangan. Prancis juga tidak akan melakukan negosiasi rahasia dengan Rusia. Sumber tersebut juga memberitahu koresponden Fox News bahwa Rusia sebelum melakukan serangan udara memang memberi informasi kepada Amerika.

Sementara itu, Presiden Putin telah menginstruksikan ‘Moskva’ kapal perang Rusia di Mediterania yang memiliki senjata rudal jelajah untuk bergabung dengan ‘sekutu’ Prancis dalam serangan militer ke Suriah.

Berkaitan dengan apakah Jerman akan bergabung dengan sekutu untuk melakukan serangan ke kelompok teroris IS di Suriah, Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier pada Selasa (17/11/2015) menjelaskan bahwa Jerman tidak akan berpartisipasi dalam serangan bersama 16 negara sekutu karena dinilai kurang berarti, tetapi Jerman bersedia untuk memberikan senjata dan peralatan militer kepada milisi Kurdi yang memang berada di barisan depan untuk berperang demi merebut wilayah mereka.

Menteri Pertahanan Italia Roberta Pinotti mengatakan bahwa Itali bermaksud untuk memperkuat operasi militer di Irak, tidak ikut dalam serangan udara ke Suriah. Namun akan tetap mendukung Prancis dalam operasi militer di wilayah lain.

Pemerintah Prancis untuk pertama kalinya pada Selasa (17/11/2015) menyerukan kepada negara-negara anggota Uni Eropa untuk mematuhi Kesepakatan Lisbon, saling membantu negara sesama anggota termasuk operasi militer Prancis di Suriah atau Irak, demi mengurangi beban yang dipikul Prancis dan atau mendukung tindakan Prancis lainnya. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular