Keterangan foto: Para kepala negara ASEAN dalam pembukaan ASEAN SUMMIT ke 27 di Kuala Lumpur pada 21 Nopember 2015. (foto internet)

Oleh Zhang Zhongbao

Setelah KTT APEC Manila, para kepala negara dan pembesar dari AS, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, India, Rusia dan lainnya tiba di Kuala Lumpur, Malaysia pada Jumat (20/11/2015) untuk bergabung dengan 10 negara ASEAN dalam ASEAN SUMMIT serial ke 27. Pemerintah Malaysia telah meluncurkan serangkaian langkah keamanan yang paling ketat selama 20 tahun terakhir demi mensukseskan KTT ini.

Serangan teror Paris baru terjadi. Memo internal kepolisian Malaysia mengutip info intelijen yang belum dikonfirmasi menyebutkan bahwa Islamic State/ IS dan Abu Sayyaf Filipina berencana akan melakukan bom bunuh diri di Kuala Lumpur, Malaysia menjadi targat serangan teroris sekarang. Karena itu, pemerintah Malaysia mengerahkan 4.500 orang anggota militer dan 4.000 anggota kepolisian untuk mengamankan daerah di sekitar lokasi KTT diadakan.

Kepala Kepolisian Malaysia,, Khalid Abu Bakar mengatakan, Malaysia kini dalam keadaan siaga tinggi, dan pemeriksaan keamanan di bandara-bandara juga ditingkatkan.

Di beberapa negara ASEAN termasuk Malaysia, Indonesia, Brunei mayoritas penduduknya beragama Islam. Dalam tahun-tahun terakhir, pemerintah sering menemukan warganya yang pergi ke Suriah, Irak untuk bergabung dengan organisasi ekstrem  IS. Pemerintah Malaysia baru-baru ini telah memberlakukan hukum anti terorisme, polisi berhasil menangkap lebih dari 120 orang yang memiliki hubungan langsung dengan IS, Pemerintah Indonesia juga telah menyatakan IS sebagai organisasi terlarang di wilayah Indonesia.

Perdana Menteri Abdul Razak pada Sabtu (21/11/2015) membuka ASEAN SUMMIT ke 27. Ia menghimbau para pemimpin dunia untuk bergandengan tangan dalam memerangi terorisme yang mengatasnamakan Islam. Dalam kata sambutannya Najib mengatakan bahwa para pelaku serangan teror di Paris yang biadab itu tidak mewakili etnis apapun.

“Mereka itu teroris yang harus menerima perlakuan yang setimpal dan dikenakan sanksi hukuman yang berat,” katanya.

Presiden Obama juga mengutuk serangan teroris di Mali. Ia menekankan, “Kekejaman ini hanya dapat memperkuat tekad kami dalam usaha untuk membasmi terorisme”. (Soundofhope/sinatra/rmat)

Share

Video Popular