Erabaru.net. Apakah Anda bekerja di sebuah kantor di mana orang sering kali perlu pergi ke luar untuk berjalan-jalan atau untuk secangkir kopi? Atau bagaimana mengusir rasa kantuk tak tertahankan di sore hari yang sering kali mengganggu Anda?

Kualitas udara dalam ruangan kerja Anda mungkin yang berkontribusi terhadap rasa kantuk tersebut, dan penelitian baru-baru ini menemukan bahwa peningkatan kualitas udara bisa sangat meningkatkan kinerja fungsi kognitif pekerja.

Kita perlu berterima kasih pada langkah-langkah efisiensi energi komersial yang dimulai pada tahun 1970 untuk mengantisipasi melonjaknya biaya energi, banyak kantor konvensional saat ini memiliki ventilasi yang minimal.

Bangunan kedap udara meningkatkan konsentrasi polutan dan CO2 dalam ruangan, serta meningkatkan potensi memburuknya kualitas lingkungan dalam ruangan (IEQ), demikian menurut sebuah penelitian baru yang dirilis pada 26 Oktober lalu.

Para peneliti dari Pusat Kesehatan Publik dan Lingkungan Global Harvard T.H. Chan School, SUNY Upstate Medical University, dan Syracuse University, melaporkan bahwa ventilasi yang buruk dapat menurunkan fungsi kognitif dan produktivitas pekerja.

Selain aspek ventilasi yang kian menurun di tahun 1970-an, faktor-faktor lain seperti kelembaban, paparan bahan kimia dan faktor pembawa lainnya di dalam ruang kerja, serta permasalahan pribadi seperti stres kerja dan alergi, semua berkontribusi pada pekerja dapat mengalami sindrom sakit gedung (SBS) dan penyakit lainnya yang berhubungan dengan gedung.

Saat ini ada penekanan pada desain yang berkelanjutan atau gedung “hijau”. Bangunan komersial kini tengah dirancang agar lebih efisien energi, tetapi dengan peningkatan IEQ (kualitas lingkungan dalam ruangan).

Selama studi yang dilakukan selama enam hari pada November 2014, peneliti mengamati 24 peserta dari berbagai kondisi simulasi bangunan melakukan pekerjaan kantor secara normal.

Mereka mengontrol ventilasi dalam ruangan dengan udara luar, CO2, dan senyawa organik volatil (VOC), yang sebagian besar bahan kimia buatan manusia yang dipancarkan melalui gas dari berbagai produk termasuk yang mungkin banyak terdapat di kantor seperti cat, perekat, semprotan aerosol, pembersih, dan penyegar udara.

Mereka dicirikan memiliki tekanan uap yang tinggi.

Para peneliti kemudian melakukan studi double blind terhadap pengalaman peserta berada di dalam kantor “hijau” (konsentrasi VOC rendah) versus “konvensional” (konsentrasi VOC tinggi).

Yang terakhir adalah lingkungan khas dari banyak gedung perkantoran saat ini. Mereka juga mensimulasi lingkungan yang berventilasi udara luar tingkat tinggi, berlabel hijau +.

Selama jam-jam kerja di lingkungan yang hijau+, kinerja kognitif peserta rata-rata dua kali lipat bila dibandingkan dengan mereka yang bekerja di lingkungan konvensional.

Skor kognitif peserta saat bekerja di lingkungan hijau sebesar 61 persen lebih tinggi dari pada yang bekerja di lingkungan konvensional.

Sepanjang pengujian, para peneliti berfokus pada sembilan fungsi kognitif dan menemukan perbaikan terbesar di wilayah ini: respon krisis (skor 97 persen lebih tinggi dalam kondisi hijau; 131 persen lebih tinggi dalam kondisi hijau+); strategi (183 persen dan 288 persen lebih tinggi); dan penggunaan informasi (172 persen dan 299 persen lebih tinggi).

Semua sembilan fungsi kognitif tersebut diuji secara signifikan lebih baik dalam lingkungan hijau + jika dibandingkan dengan lingkungan konvensional.

Selain menyesuaikan tarif ventilasi dan konsentrasi VOC, para peneliti juga memutuskan untuk mengamati efek dari peningkatan CO2, yang biasanya tidak dianggap sebagai polutan langsung dalam ruangan.

Mereka menambahkan CO2 pada konsentrasi yang bervariasi untuk semua kondisi uji coba sambil menjaga konstanta laju ventilasi.

Selama tujuh dari sembilan fungsi kognitif, skor kognitif rata-rata menurun seiring dengan tingkat CO2 meningkat. Namun, mereka menyimpulkan bahwa perbedaan nilai antara konvensional, hijau, dan hijau+ tergantung pada bangunannya.

Para peneliti menyimpulkan bahwa temuan mereka bisa memiliki implikasi yang luas karena penelitian ini dirancang untuk mencerminkan kondisi yang biasa ditemui setiap hari di banyak lingkungan dalam ruangan, termasuk rumah, sekolah, dan pesawat terbang. (Ajg/Yant)

Share

Video Popular