Keterangan foto: Pompeii masa kini, dengan gunung Vesuvius nampak di kejauhan. (wikipedia)

Pada 13 November 2015 adalah hari yang menggemparkan dunia, sebuah serangan teroris terjadi di Paris, menewaskan 129 orang. Hanya sehari sebelumnya, di ibukota Lebanon, kota Beirut, juga terjadi peristiwa bom bunuh diri yang menewaskan 43 orang. Sebelumnya pada 31 Oktober 2015, pesawat milik maskapai Rusia yang terbang dari Mesir menuju St. Petersburg jatuh di Semenanjung Sinai. 224 penumpang pesawat naas tersebut tewas. Pesawat itu meledak di angkasa dan jatuh akibat bom yang dipasang oleh kelompok ISIS.

Menghargai kehidupan adalah sifat naluriah manusia. Pembunuhan terhadap masyarakat yang tidak berdosa adalah penindasan terbesar terhadap kemanusiaan, merupakan serangan terhadap pondasi peradaban manusia. Pasca peristiwa terorisme, seluruh dunia mengecam. Masyarakat maupun netizen ramai-ramai bersuara mendukung, “Hari ini, kita semua adalah warga Paris.” Para politisi berbagai negara pun mulai mengadakan pertemuan dan kerjasama, bersumpah untuk menumpas kelompok teroris. Pernyataan belasungkawa terhadap para korban dan suara dukungan telah memancarkan sinar cemerlang kemanusiaan, menunjukkan betapa masyarakat sangat mendambakan perdamaian dan ketentraman, serta tekad kuat untuk tidak berkompromi dengan kejahatan.

Pembunuhan keji yang terus menerus dilancarkan oleh kelompok teroris terhadap rakyat biasa adalah penindasan serius terhadap nilai kehidupan dan HAM masyarakat bebas Eropa maupun dunia. Seperti halnya serangan terhadap WTC 11 September 2001 yang telah mengubah peta politik dan perkembangan sejarah manusia, serangan teroris kali ini juga akan menimbulkan dampak penting terhadap situasi dunia.

Akar Permasalahan Serangan Teroris

Suatu kejadian yang memilukan, tapi yang lebih penting direnungkan adalah penyebab terjadinya tragedi ini. Terbentuknya kelompok teroris bisa dikarenakan banyak faktor. Konflik antar agama, antar suku bangsa, antar budaya yang berbeda, serta faktor politik yang mengarah pada perseteruan antar negara besar dan lain sebagainya. Berbagai konflik dan bentrokan terjadi, telah membentuk dilema yang sepertinya tak terurai.

Setelah serangan teroris, saat dunia luar menelaah penyebab tragedi itu, ada pandangan yang beranggapan: karena Eropa terbuka bagi multi-kultural, serta toleransi besar terhadap norma hidup dan HAM, sehingga menjadi lahan yang subur bagi tumbuhnya kaum teroris. Sebenarnya kebebasan dan HAM pun memiliki batasan dan prinsip, toleransi tidak cocok diterapkan pada kejahatan. Toleransi terhadap kejahatan adalah membiarkan merajalelanya iblis. Sebaliknya, acap kali justru karena melupakan keteguhan menjaga norma dan tradisi, hanya mengutamakan kepentingan politik pada sejumlah hal, sehingga memberi lingkungan dan lahan bagi tumbuhnya kelompok teroris.

Dari sisi yang lebih mendalam terlihat bahwa faktor yang paling mendasar adalah rusaknya moral manusia. Ketika nilai tradisi terus menerus terkikis dan berbenturan dengan konsep modern yang telah terdistorsi, ketika nilai-nilai moral telah memudar, berbagai fenomena kekacauan di tengah masyarakat pun bermunculan. Cinta kasih, kebajikan, saling percaya, kejujuran, toleransi, telah pergi jauh meninggalkan manusia. Dan dasar untuk menyelesaikan semua masalah ini adalah dengan cara membangun kembali nilai-nilai moralitas tradisional.

Keruntuhan Moral Akan Hancurkan Umat Manusia

Peradaban manusia dibangun di atas prinsip moral yakni kasih sayang dan saling percaya. Ketika moral terpuruk, manusia tidak lagi akan saling jujur dan berniat baik, tidak akan ada saling percaya yang paling mendasar, mengumbar nafsu sesuka hati, segala sesuatu diselesaikan dengan bentrokan dan kekerasan, antar manusia pun saling menyakiti seakan tiada akhir. Paham terorisme dan kegilaan akan perang pun dapat muncul sewaktu-waktu. Seiring dengan berkembangnya teknologi, kaum teroris yang tidak bermoral semakin mudah mendapatkan senjata pemusnah yang dapat menimbulkan kematian yang meluas, manusia dan seluruh dunia pun selalu berada di bawah ancaman mereka. Meskipun tidak ada serangan teroris dan perang, ketiadaan landasan moral serta pertumbuhan ekonomi yang murni berlandaskan kepentingan ego juga dapat menghancurkan lingkungan eksistensi manusia, sehingga akhirnya mengarah pada kehancuran total. Walaupun tidak seperti itu skenarionya, sang Pencipta pun tidak akan mengijinkan peradaban yang telah rusak moralnya untuk terus eksis.

Dalam perjalanan yang begitu panjang, umat manusia telah mengalami beberapa kali bencana yang bersifat memusnahkan. Karena keburukan moral yang mengakibatkan runtuhnya peradaban telah berkali-kali terjadi di sepanjang sejarah manusia.

Kota kuno Mediterania yang ditemukan di Mesir merupakan peradaban tingkat tinggi yang tenggelam di dasar laut adalah tempat dimana moral telah hancur. Ukiran raksasa pada masa itu yang ditemukan menggambarkan kemewahan berlebihan penduduk dan kota kuno Firaun, serta pemandangan kehidupan yang bergelimang harta, kisah pada sejumlah ukiran lainnya mengejutkan para arkeolog. Sebuah gempa dahsyat yang datang tiba-tiba membuat tanah yang makmur namun bermoral bobrok itu tenggelam ke dasar samudera.

Bencana serupa juga menimpa kota kuno Pompeii. Kota Pompeii yang terletak 23 km di sebelah tenggara Naples, Italia, merupakan salah satu kota termakmur dan terindah yang pernah ada sekitar 1900 tahun silam, tapi justru mendapat julukan kota maksiat dimana orang-orang mabuk di dalam nafsu seksual dan mabuk-mabukan, dengan moral yang buruk. Suatu hari di bulan Agustus tahun 79 Masehi, gunung berapi Vesuvius yang lama terlelap tiba-tiba menyemburkan lahar panas dan mengubur seluruh kota.

Tak terhitung banyaknya peradaban yang hancur akibat peperangan dan bencana alam. Sejarah telah bergulir hingga saat ini, kekacauan yang terjadi di dunia ketika moralitas manusia merosot jauh melampaui akhir dinasti kerajaan yang bermoral buruk. Manusia kembali berada pada tepi jurang kehancuran peradaban. (sud/whs)

 

 

 

Share

Video Popular