Populasi dialisis di Taiwan terus meningkat dari tahun ke tahun, di satu sisi berhubungan dengan penyakit atau penuaan, misalnya diabetes dan sebagainya. Di sisi lain, berhubungan dengan penggunaan obat secara berlebihan atau (obat) herbal yang tidak jelas sumbernya. Sementara itu, konsep yang keliru terkait penggunaan obat acapkali mengakibatkan pemborosan sumber daya dan merusak kesehatan tubuh.

Pusat sumber daya tentang penggunaan obat secara benar di Rumah Sakit Universitas Kedokteran Chung Shan, Taiwan, tahun 2015 ini telah melakukan survei tentang “penggunaan obat flu secara benar” yang diarahkan pada pendidikan kesehatan publik di wilayah Taiwan bagian tengah. Dalam survei tersebut diadakan tes secara berturut-turut melalui kuesioner, dan tes ulang kembali dilakukan tiga bulan kemudian, sementara respondennya rata-rata berusia sekitar 53 tahun, responden pria sebanyak 49% dan perempuan 51%.

Dan dari hasil survei tersebut menunjukkan, bahwa publik pada umumnya sudah memiliki pandangan yang baik dan benar tentang komplikasi flu, namun, masih perlu pemahaman lebih lanjut terkait pengobatan dan obat-obatan. Misalnya, flu itu bukan disebabkan oleh infeksi bakteri, biasanya itu adalah virus flu, sementara antibiotik tidak dapat melawan virus flu, sebaliknya justru rentan menimbulkan resistensi terhadap obat.

Setelah diberi pendidikan kesehatan oleh apoteker tentang penggunaan obat secara benar, tingkat jawaban yang benar dari 52.3% sebelum tes meningkat jadi 92.7 %, dan tingkat jawaban yang benar setelah diadakan test ulang tiga bulan kemudian mencapai 87,7%, hal ini menunjukkan bahwa efektivitas pendidikan terkait berlangsung baik, dan secara keseluruhan juga layak dipastikan.

Menurut statistik, ada pasien akan pergi ke banyak lembaga peduli kesehatan masyarakat untuk memeriksa penyakit (kesehatan), sehingga menyebabkan penggunaan obat secara berulang, dan umumnya pengunaan obat secara berulang itu terutama obat kardiovaskular, analgesik, gastrointestinal, obat penenang dan sebagainya. Sementara obat-obat yang disebutkan ini akan memengaruhi fungsi tekanan darah, pembekuan darah, fungsi hati dan ginjal dan dampak buruk lainnya, demikian ungkap Tong Jun-qin, Wakil Direktur farmasi di Chung Shan Medical University Hospital, Taiwan.

Selain itu, dari sisi efek samping atau interaksi obat, ada perbedaan terkait tingkat keparahan dengan pola seketika atau tertunda, misalnya, seusai minum obat antibiotik mungkin akan menyebabkan diare seketika, jika tidak segera dipenuhi dengan elektrolit tepat waktu, maka dalam jangka waktu panjang akan menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit, dan selanjutnya memengaruhi efek obat gagal jantung.(Jhn/Yant)

Share

Video Popular