JAKARTA – Sejumlah negara Eropa dan Amerika saat ini telah menetapkan standar ramah lingkungan di seluruh lini produksi lewat Life Cycle Assesment (LCA), yaitu metode untuk menghitung potensi dampak lingkungan suatu produk. Sementara di Indonesia, pemahaman tentang LCA masih belum sepenuhnya dipahami oleh kalangan industri.

“Beberapa produk ekspor Indonesia pernah ditolak oleh pasar Eropa dan Amerika karena tidak sesuai LCA,” jelas Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) LIPI, Laksana Tri Handoko dalam rilisnya di Jakarta, Rabu (25/11/2015).

Menurut Handoko, pada tingkat global tatacara untuk melihat potensi dampak lingkungan produk diatur dalam standard ISO 14021, 14024, dan 14025 tentang Environmental Labels and Declarations. Bahkan terminologi produk tidak terbatas pada barang tetapi juga jasa tapi organisasi.

Handoko mengungkapkan saat ini terjadi pergeseran tren konsumsi dunia. Dia menambahkan konsumen bersedia membeli produk dengan label ramah lingkungan meskipun dengan harga yang lebih tinggi. Dia menilai berdasarkan perubahan pandang konsumen inilah yang membuat produk Indonesia juga harus memperhatikan ecolabel ini.

Hal demikian diungkap oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menggelar workshop “Life Cycle Assessment (LCA) Research in Indonesia” pada Selasa-Rabu, 24-25 November 2015 di Graha Widya Bakti, Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Pupspiptek), Serpong,Tangerang Selatan.

Sementara Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Agus Haryono mengatakan, penerapan LCA sangat bermanfaat terutama bila proses pembuatan produk yang dikembangkan merupakan produk alternatif yang ramah lingkungan. “Sayangnya kajian literatur dan penelitian di Indonesia tentang LCA baru tahap awal perkembangannya saja dan jumlahnya masih terbatas,” jelasnya.

Agus menjelaskan, untuk menerapkan LCA Indonesia idealnya harus memiliki dasar riset yang mencukupi sehingga dunia industri paham. Dia menuturkan, jumlah publikasi ilmiah tentang LCA di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan negara ASEAN seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura. Keterbatasan ini, lanjutnya, dapat menjadi penghambat dan tantangan penelitian dan penerapan LCA di Indonesia. “perubahan pola konsumsi seharusnya sudah mulai dipahami oleh industri lokal agar produk mereka telah sesuai dengan kondisi pasar dunia saat ini,” lanjutnya.

Acara yang terselenggara atas kerjasama LIPI dengan Pusat Standardisasi Lingkungan dan Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Universitas Pelita Harapan, dan PT. Sucofindo ini akan mempertemukan lembaga riset, universitas, dan industri untuk mengidentifikasi metoda LCA, dan penerapannya di Indonesia.

Hadir sebagai pembicara kunci adalah Prof. Dr. Shabbir H. Gheewala (King Mongkut’s University of Technology Thonburi-Thailand), Dr. Cecile Bessou (CIRAD, Perennial Crops Research Unit, Montpellier-Prancis), Dr. Yasuhiro Fukushima (Tohoku University-Jepang), dan Noer Adi Wardojo,M.Sc (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan). (asr)

Share

Video Popular