Keterangan foto: Hubungan Rusia – Turki memburuk akibat pesawat tempur Rusia ditembak jatuh oleh militer Turki. (Chris McGrath/Getty Images)

Oleh Ma Li

Militer Turki menembak jatuh pesawat tempur Rusia pada Selasa (24/11/2015). Hal itu mengakibatkan hubungan kedua negara memburuk. Kamis (26/11/2015), Rusia menyatakan akan menerapkan sanksi ekonomi berskala besar kepada Turki.

BBC melaporkan bahwa Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev dalam pertemuan kabinet yang disiarkan langsung oleh televisi mengatakan, Rusia dalam 2 hari ini akan menyelesaikan sanksi khusus bagi Turki.

Dengan ‘Pelanggaran Standar Kesehatan” sebagai alasan untuk menolak makanan impor dari Turki

Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev menyatakan akan menerapkan sanksi dalam aspek ekonomi dan kemanusiaan. Memangkas kepentingan ekonomi Turki di Rusia, antara lain termasuk membatasi pasokan produk pertanian dan makanan. Sanksi juga akan berpengaruh terhadap aspek pariwisata, transportasi, perdagangan, tenaga kerja, bea cukai dan lain sebagainya.

Anggota kabinet Rusia lainnya juga memberikan usulan sanksi berupa, menutup pelabuhan laut dan udara bagi perusahaan Turki di Rusia, menangguhkan perjanjian jasa investasi antar kedua pihak, menghentikan untuk sementara waktu pertukaran sosial dan budaya antar kedua negara dan kegiatan lainnya.

Financial Times memberitakan, begitu pernyataan sanksi dikeluarkan Dmitry Medvedev, Rosselkhoznadzor, lembaga pengawas pertanian dan keamanan pangan langsung memberikan tanggapan bahwa semua hasil pertanian dan makanan yang diimpor dari Turki harus menerima tes laboratorium. Sementara itu, Rospotrebnadzor, lembaga perlindungan konsumen Rusia juga mengatakan setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, ternyata daging dan buah-buahan impor dari Turki tidak memenuhi standar kesehatan, sehingga harus ditarik dari rak toko-toko penjualnya.

Financial Times selanjutnya melaporkan bahwa ‘pelanggaran standar kesehatan’ adalah cara yang sering kali digunakan untuk membatasi impor barang dari negara asing sebagai balasan atas perlakuannya terhadap Rusia.

Hubungan antara Rusia dengan Turki memburuk

Turki dan Rusia memiliki hubungan ekonomi yang erat. Rusia merupakan mitra dagang terbesar kedua bagi Turki, sementara itu, tempat-tempat wisata di Turki paling banyak didatangani oleh wisatawan dari Rusia.

Turki adalah salah satu negara yang menerima manfaat dari Rusia sejak Barat memberlakukan embargo makanan bagi Rusian. Pada 2014, Turki mengekspor dalam jumlah besar buah-buahan, sayur mayur dan kacang-kacangan ke Rusia, menjadikan transaksi perdagangan hasil pertanian kedua negara bertumbuh sebesar 19 % mencapai total USD. 4 miliar. Tetapi momentum tersebut sejak paro pertama tahun ini secara bertahap melemah.

Pesawat tempur F-16 Turki berhasil menembak jatuh pesawat tempur SU-24 Rusia di udara perbatasan antara Turki dengan Suriah pada Selasa lalu. 2 orang penerbangnya satu tewas tertembak dengan satunya lagi selamat. Turki menyebut pesawat tempur Rusia itu melanggar wilayah udaranya, tetapi Rusia menuduh Turki telah melakukan ‘penusukan dari belakang’. Karena itu, hubungan antar kedua negara itu jadi memburuk.

Turki menolak untuk meminta maaf sebagaimana yang diminta Rusia. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kepada CNN mengatakan, “Saya pikir, jika ada pihak yang perlu meminta maaf, itu jelas bukan kita tetapi mereka yang telah melanggar wilayah udara kita.”

Ketegangan antara Turki dengan Rusia menarik perhatian dunia. Amerika, Uni Eropa dan PBB semua menyerukan kepada kedua negara tersebut agar tetap tenang. Mayoritas pengamat politik percaya bahwa konflik senjata antar kedua negara itu kecil kemungkinannya, tetapi, insiden tertembak jatuhnya pesawat tempur Rusia oleh militer Turki akan lebih memperburuk situasi konflik Suriah dan memperumit upaya perdamaian dunia. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular