Keterangan gambar: IMF berencana untuk memasukkan RMB ke SDR tetapi tidak mampu mencegah tren devaluasi RMB. (Dajiyuan)

Oleh: Qin Yufei

Dana Moneter Internasional (IMF) berencana untuk memasukkan RMB (Renminbi) ke dalam keranjang SDR (Special Drawing Right), namun hal ini dipastikan tidak akan mampu mencegah tren turunnya nilai RMB. Masalah kontrol keuangan yang ketat dari rezim penguasa Tiongkok dan soal transparansinya hingga kini masih menjadi momok bagi para investor sehingga mereka tidak mau melirik RMB.

Wall Street Journal memberitakan, banyak kalangan sudah memprediksikan bahwa IMF pada Senin (30/11/2015) ini akan mengumumkan rencana memasukkan RMB ke dalam keranjang SDR pada tahun depan. Sampai sekarang hanya Dollar AS (USD), UERO, Poundsterling (GBP) dan Yen Jepang (JPY) yang menikmati status itu. Memasukkan RMB ke dalam SDR termasuk mengakui status RMB dan peran Tiongkok dalam keuangan global.

Tiongkok akan terdesak untuk melepaskan kontrol atas RMB bila dimasukkan ke SDR

Tetapi itu juga akan membawa satu persoalan, sebut berita Walll Street journal itu. Memasukkan RMB ke SDR untuk mendesak rezim Beijing melakukan suatu perubahan penyeluruh, dari bagaimana mereka mengelola RMB hingga begaimana RMB berinteraksi dengan global investornya. Komitmen rezim Beijing untuk melepaslkan kontrol yang ketat terhadap nilai RMB beserta merombak sistem keuangannya akan menjadi incaran pemantauan dunia.

Kepala Urusan Survei Bank Sentral Tiongkok Sheng Songcheng menyebutkan bahwa pihak Beijing perlu membangun kepercayaan investor baik lokal maupun internasional tentang seberapa besar aset RMB. Mampu mencegah terjadinya resiko keuangan yang diakibatkan oleh globalisasinya RMB. Untuk itu perlu adanya cara koordinasi yang baik dalam pelaksanaan berbagai reformasi keuangan.

Masuknya RMB ke SDR juga bisa memberikan tekanan kepada Bank Sentral Tiongkok untuk tingkat kejelasan dan transparansi di bidang keuangan seperti The Fed, Bank Sentral Uni Eropa. Ini mungkin yang menjadi kesulitan bagi rezim Beijing. Dalam 6 bulan terakhir saja Bank Sentral Tiongkok hanya bisa membisu karena devaluasi RMB yang terjadi tiba-tiba, karena jatuhnya harga saham di bursa Tiongkok dan kejadian lainnya sehingga mengejutkan pasar.

Pendiri Pin Yuan Capital, Zhou Ping mengatakan, Bank Sentral Tiongkok perlu berinteraksi lebih jelas dan efektif dengan pasar, tetapi untuk mencapai hal itu, Bank Sentral harus bertekad untuk mengubah budaya mereka.

Pelambanan ekonomi ikut melemahkan nilai RMB

Wall Street Journal melaporkan bahwa tantangan langsung itu adalah bagaimana menghadapi tekanan pasar yang menyebabkan melemahnya nilai RMB dan melambatnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok dalam 3 bulan terakhir. Pihak Beijing terus berupaya untuk mengangkat persoalan itu dengan menyebut bahwa Bank Sentral Tiongkok akan menjaga agar devaluasi RMB terjadi tidak sekaligus, membiarkan RMB menurun sekitar 3 – 5% dalam 12 bulan ke depan ini. Para pakar keuangan mengatakan bahwa tantangan yang dihadapi adalah bagaimana Bank Sentral Tiongkok mengisyarakat dengan jelas niatnya kepada pasar.

IMF berencana pada Senin (30/11/2015) ini mengijinkan RMB masuk keranjang SDR. Ketua IMF Christine Lagarde dan satu dokumen tentang laporan dari staff IMF telah membubuhkan tanda tangan pemberian ijin RMB masuk keranjang SDR.

Dengan masuknya RMB ke SDR menandakan sebuah prestasi yang membanggakan bagi Gubernur Bank Sentral Tiongkok Zhou Xiaochuan. Namun baik Zhou Xiaochuan maupun penggantinya nanti harus mempromosikan lebih banyak perubahan di bidang ekonomi dan keuangan Tiongkok, agar RMB bisa lebih dipercaya oleh investor global. Namun hal yang mengecewakan adalah, pemimpin Partai Komunis Tiongkok/ PKT telah memperlambat sejumlah pelaksanaan reformasi keuangan utama. Hal yang perlu dicatat adalah, pemimpin tertinggi Tiongkok telah memutuskan untuk menunda pelaksanaan target liberalisasi pasar keuangan dari tahun ini ke tahun 2020.

Pelambatan ekonomi melemahkan antusiasme untuk berinvestsi di RMB

Wall Street Journal melaporkan bahwa, pelambatan ekonomi juga ikut melemahkan antusiasme untuk berinvestasi di RMB. Pendiri Pin Yuan Capital Zhou Ping menyebutkan bahwa nilai RMB saat ini sudah lebih tinggi sekitar 20% dari nilai semestinya. Mempertahankan tingkat saat ini hanya akan merusak perekonomian. Dalam laporan yang dirilis pada 19 November 2015, Goldman telah menilai bahwa devaluasi RMB sebagai resiko terbesar yang dihadapi asset emerging market di tahun depan.

Para pakar beranggapan bahwa ijin masuk SDR itu hanya sebuah simbol yang diberikan oleh IMF tidak bisa mempengaruhi nilai tukarnya. Direktur perusahaan pengelolaan dana Los Angeles David Loevinger mengatakan bahwa masuknya RMB ke dalam keranjang SDR sama sekali tidak akan menarik minat investor untuk berinvestasi di RMB.

“Kurangnya data dan transparansi kebijakan merupakan resiko yang akan dihindari oleh para investor,” jelas David. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular