Rasa ketertarikan (passion) adalah kunci pembuka ke¬mampuan terpendam anak. Namun, ada banyak sekali orangtua yang menetapkan minat anak dengan apakah “berguna” atau tidak, bahkan memaksakan minat yang dianggapnya bermanfaat kepada anak. Tahukah Anda, pada saat itu Anda telah membuang kunci untuk membuka potensi terpendam anak Anda?

Dalam buku pendidikan klasik berjudul “Pendidikan Bahagia Spencer” (1820-1903), Herbert Spencer mengatakan, “Minat (rasa tertarik) adalah motivasi terbesar belajar dan menimba ilmu.” Pepatah kuno ini tidak akan usang untuk selamanya. Karena dalam pepatah ini terkandung semacam kaidah kuno penuh kebijaksanaan, bukan melulu semacam suatu metode saja.

Ayah dan ibu adalah guru pertama bagi anak, semua pembinaan dan pendidikan terhadap anak seharusnya sepenuhnya berkomitmen agar potensi terpendam mereka mendapatkan pengembangan maksimal, sehingga membuat mereka menjadi sosok yang berguna bagi orang lain disamping diri sendiri juga sukses dan berbahagia.

Membuat anak bergembira, baru bisa membangkitkan minat dan kemampuan terpendam anak

Spencer beranggapan, di bawah kondisi depresi dan stres, kepercayaan diri anak akan melemah, kecerdasan dan kemampuan terpendamnya juga akan menurun secara drastis. Banyak anak dikategorikan tidak berbakat dan sejak kecil selalu berpenampilan lebih buruk daripada anak lain, sebenarnya bukanlah demikian, itu hanyalah gejala semu yang disebabkan oleh metode sang pendidik yang tidak memadai.

Di dalam buku Spencer menceritakan kisah anaknya Spencer Yunior belajar bermain piano.

Ketika anaknya Spencer Yunior berusia 5 tahun, Spencer berencana melakukan pendidikan musik bagi anaknya, agar si anak secara bertahap menerima pengaruh baik dari bermain musik, maka ia menyerahkan uang tabungannya dan menyuruh wanita pengurus rumah tangganya, Saina, untuk membeli sebuah alat musik piano. Spencer kecil menunjukkan keantusiasannya dalam bermain piano, maka waktu-waktu awal terindah telah dilaluinya.

Akan tetapi tak lama kemudian keadaan pun berubah. Jeritan cemas dan suara mencela Saina bercampur menjadi satu dengan suara piano tidak selaras anaknya. Hingga pada suatu hari, Saina rupanya sudah tidak tahan lagi dan dia mengeluh kepada Spencer: “Mungkin Spencer Yunior benar-benar tidak berbakat dalam hal musik, sebuah lagu yang begitu sederhana saja, sudah ia pelajari ratusan kali juga masih tidak bisa……”

Mendengar keluhan tersebut, Spencer merasa perlu menghentikan cara mendidik semacam ini. Dia berkata kepada Saina: “Metode yang tidak tepat akan membunuh bakat tertentu anak. Jika bermain piano telah berubah menjadi suatu hal yang menegangkan dan menyengsarakan maka si anak selamanya tidak akan bisa memelajari musik.”

“Tuan Spencer, silakan Anda mencobanya sendiri,” jawab Saina dengan nada tidak senang.

Sewaktu duduk bersama pada saat makan, Spencer berkata kepada anaknya: “Sayang, ayah senang sekali mendengarkan alunan musik yang kau mainkan, apa nama lagu itu?” Spencer Yunior bergegas menjawab: “Peri Hutan.”

“Benar, itu adalah nama lagunya, bisakah kau mainkan untuk ayah?”

Spencer Yunior menggeleng-gelengkan kepala. Spencer berpura-pura seperti sangat menyesal: “Sayangnya saya tidak bisa, jika saya bisa bermain sendiri alangkah bagusnya, walau hanya sepenggal saja!”

Spencer Yunior bergegas menjawab: “Kalau begitu akan saya coba.”

Ia pun duduk di depan piano dan memainkan lagu itu. Di luar dugaan semua orang, si yunior bermain dengan sangat lancar dan tinggi rendah nada juga sangat tepat, alunan musik yang sangat indah mengalun merdu terbawa oleh angin malam. Wajah Saina tampak terkejut.

Sejak malam itu, setelah Spencer Yunior memainkan “Peri Hutan”, Saina tidak pernah lagi memaksanya, sedangkan Spencer acapkali sepulangnya dari kantor, meminta si anak bermain musik. Ketika si anak sedang bermain musik, Spencer mendengarkan dengan penuh perhatian dan acap kali bekerja sama dengan bertepuk tangan sesuai dengan irama musik. Suasana gembira seperti ini tidak diragukan lagi telah merupakan penghargaan paling besar terhadap anak.

Didikan dengan nuansa riang dari Spencer ditambah dengan pelatihan jangka panjang oleh Saina dan guru musik terhadap Spencer Yunior, potensi musik anak telah dapat dibangkitkan keluar; pada awalnya diundang bermain musik di dalam gereja, kemudian ia mencoba menulis lagu sendiri, berjudul “Hadiah Hari Thanksgiving” yang ia tulis menjadi partitur musik dan dimainkan oleh banyak orkestra.

Spencer mengatakan, pada saat anak sedang bergembira, maka dalam memelajari segala sesuatu akan lebih mudah. Itu sebabnya jika ingin mendidik anak dengan baik, cara satu-satunya adalah dengan menyelaraskan emosi mereka dengan kegembiraan, percaya diri dan fokus, kemudian baru mulai belajar. (Lin/Yant)

Bersambung

Share

Video Popular