Keterangan foto: IS menduduki wilayah berladang minyak di Irak dan Suriah untuk membiayai operasional mereka. (foto intenet)

Organisasi ekstrem Islamic State (IS) berusaha untuk membangun sebuah negara yang menegakkan Khilafah Islamiyah. Bagaimana tentang seluk beluk organisasi ini? Mengapa kekuatan militer mereka bisa melejit dengan tiba-tiba? Apakah semua ini berkaitan dengan runtuhnya rezim Saddam Hussein di Irak belasan tahun silam? Benarkah negara Barat juga perlu bertanggung jawab terhadap peranannya dalam memperbesar kekuatan golongan fundamentalisme Islam ?

Suara Jerman berbahasa Mandarin pada 28 November 2015 memberitakan bahwa IS sebelumnya juga pernah bernama ISIL (Islamic State of Iraq and the Levant) atau ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Kelompok Islam ekstrem Sunni tersebut terutama terdiri dari militan sisa-sisa al Qaeda di Irak. Kelompok ini mencoba untuk mendirikan negara teokratis yang wilayahnya meliputi Suriah, Irak, Libanon, Jordania, Israel dan wilayah luas lainnya, mengabaikan batas negara-negara Timur Tengah yang digariskan oleh kaum penjajah Barat di masa lalu.

IS sejak 2013 lebih dikenal di dunia karena kebrutalan mereka. Kelompok ini pernah suatu saat menduduki dengan cepat sebagian wilayah Suriah dan Irak. Tetapi kehilangan sebagian wilayah kedudukan setelah militer multinasional ikut dalam operasi militer melawan mereka. Namun, kota penting seperti Raqqa dan daerah utama di Suriah terus diduduki.

Menentang rezim Assad juga melawan Amerika

Banyak analis percaya bahwa organisasi ini pada awalnya memperoleh dukungan dana dari negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Qatar, Kuwait. Uni Emirat Arab dan lainnya untuk menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah. Meskipun pernyataan ini belum bisa dikonfirmasi kebenarannya. Sekarang, IS diperkirakan memiliki sekitar 10.000 orang personil bersenjaya, termasuk kaum Muslim Sunni dari Afrika Utara dan wilayah Teluk Persia. Dan sejumlah mualaf Islam dari Eropa dan Amerika.

Pada 2003 tentara AS menyerbu Irak untuk menggulingkan rezim Sunni pemerintahan Saddam Hussein dan membubarkan tentaranya. Para Muslim Sunni lalu didepak dari instansi pemerintah dan lembaga-lembag publik, mereka makin terdesak ke pinggir bahkan banyak dari mereka yang dimasukkan ke penjara. Personel bersenjata IS pada saat itu hanya berkepentingan untuk melawan AS. Namun, kelompok Islam ekstrem Sunni ini kemudian tidak saja melakukan penyerangan terhadap militer AS, tetapi juga menyerang kelompok Syiah yang beragama Islam dan Kristen

Pemimpin pertamanya berasal dari Jordania

Anggota bersenjata IS pada awalnya terdiri dari tentara jaman Saddan Hessein berkuasa dan para pengikutnya. Namun anggotanya berubah ekstrem saat IS dipimpin oleh Abu Musab al-Sarkawi yang berasal dari Jordania. Sarkawi sebelumnya menjalani hukuman penjara di Jordania karena melanggar hukum walau tidak tergolong berat, dalam penjarah ia menyerap ide-ide ekstrem. Di antara tahun 1989 – 1992, ia bergabung dengan pemberontak bersenjata untuk menggulingkan rezim di Kabul, Afghanistan. Tahun 1994 Sarkawi kembali ditangkap oleh pemerintah Jordania tetapi 5 tahun kemudian ia dibebaskan dengan amnesti.

Setelah itu Sarkawi kembali ke Afghanistan sampai tahun 2001 rezim Taliban di Afghanistan dilumpuhkan oleh militer AS. Ia kemudian melarikan diri ke Irak utara dan mendirikan cabang al-Qaedah di Irak yang diberi nama AQI (Al Qaedah in Iraq).

Perang saudara di Irak menumbuhkan ambisi

Pada 2006, AQI berhasil menyerang sebuah tempat ibadat Muslim Syiah di Samara, sebagian Kubah Shakhrah rusak akibat dibom. Serangan ini menyebabkan konfrontasi serius antara kaum Syiah dengan Sunni sampai tahun 2008.

Anggota bersenjata Sarkawi membunuh dengan membabi buta sampai-sampai orang Muslim Sunni pun tidak tahan melihat kesadisan mereka. Sehingga banyak tentara Sunni di propinsi Anbar yang terletak di Irak barat memilih untuk bekerjasama dengan tentara AS untuk membasmi AQI. Juni 2006 Sarkawi tewas dalam suatu serangan udara yang dilancarkan oleh militer AS di utara Irak.

Setelah itu, AQI dipimpin oleh Abu Ayyub al-Masri dan Abu Omar al-Baghdadi yang kemudian mengubah nama menjadi ISI (Islamic State in Iraq). Pada 2009, kedua orang pemimpin tersebut tewas dalam serangan udara AS bersama serangan darat yang dilakukan militer Irak. Semenjak itu, konflik kekerasan di Irak menurun secara drastis dan ISI tampaknya sudah lumpuh.

Pada 2011, pasukan AS ditarik dari Irak. Sejak saat itu, ISI dibentuk kembali oleh pemimpin baru mereka yang bernama Abu Bakr al-Baghdadi. Organisasi ini lalu mengganti nama menjadi ISIS dengan ambisi yang lebih besar.

Perang saudara di Suriah ikut memberikan peluang bagi ISIS. Sementara itu, kelompok ekstrem itu bisa dengan mudah menyeberangi perbatasan Irak pergi ke Suriah untuk berperang bersama tentara oposisi Assad untuk memerangi Assad. Sementara itu terjadi perselisihan serius antara pemimpin kelompok ini dengan al-Qaedah yang menyebabkan pemimpin al-Qaedah, Ayman al-Zawahiri menolak untuk bekerjasama dalam bidang militer dengan ISIS.

Mendirikan Negara Islam atau Islamic State

Berpisah dengan al Qaedah tidak mengganggu ISIS dalam meraih kemenangan militer. Mereka selain mampu melumpuhkan tentara Assad juga melemahkan pengaruh golongan oposisi Suriah yang relatif moderat untuk memantapkan pijakan di bagian timur laut Suriah, sekaligus memberikan pukulan mengejutkan ke Irak.

Awal Juni 2014, kota terbesar kedua Irak, Mosul berhasil diduduki ISIS. Namun akibat ketidakmampuan tentara pemerintah Irak sehingga terus mengalami kekalahan dalam berperang, menyebabkan sebagian besar wilayah Irak di barat daya direbut oleh kelompok ektremis ini.

Juni 2014, ISIS mengumumkan perubahan nama menjadi Islamic State. Dan al-Baghdadi sebagai khalifah. Menyatakan memberlakukan hukum Syariah dalam wilayah IS, mensyaratkan wanita untuk memakai jilbab dengan muka tertutup agar tidak dihukum mati. Bagi kaum Kristen dan Muslin Yazidi terpaksa harus melarikan diri dari daerah itu.

IS menduduki wilayah luas yang memiliki ladang minyak di Irak dan Suriah. Mmenguasai sejumlah aset besar. Banyak senjata yang ditinggalkan oleh pasukan AS juga menjadi milik mereka. Selain itu, mantan tentara Saddam Hussein dan para pejabat militer Sunni yang terlatih telah bergabung dengan organisasi ekstremis tersebut dengan harapan suatu saat nanti bisa melakukan balas dendam terhadap pemimpin Syiah Irak, Nuri al-Maliki.

Setelah mengumumkan ganti nama menjadi IS, organisasi ini juga mengajak para muda-mudi dunia untuk ‘Perang jihad’ bersama mereka di Timur Tengah. Peserta dari Jerman saja sudah mencapai jumlah ratusan orang. Ahli urusan Arab dari Universitas Mainz Jerman, Gunter Meyer menunjukkan bahwa saat ini ada sekitar 50.000 personil bersenjata yang mengabdi kepada IS, dan karena ada “sumur yang menghasilkan” para personil bersenjata itu pun menikmati imbalan kekayaan yang tidak sedikit.   (sinatra/rmat)

 

Share

Video Popular