Keterangan foto: Salah satu bangunan di Lintasan Yan Men (Yanmenguan). (wikipedia)

Oleh: Zhou Huixin

“Sembilan lintasan dunia, Yan Men-lah yang paling strategis”. Yanmenguan (Lintasan Yan Men) adalah lintas hubung lalu lintas utama utara-selatan di provinsi Shanxi, Tiongkok. Keadaan medan di sekitar sangat strategis, selalu menjadi tempat pertahanan penting setiap jaman, adalah hambatan penting garis depan bagi setiap kerajaan di Tiongkok untuk mencegah invasi bangsa nomad utara turun ke selatan. Asap mesiu di medan pertempuran kuno sudah hilang hanya Yanmenguan masih menjadi saksi sejarah, saksi akan sejumlah jendral pahlawan setia. Salah satu diantaranya adalah Jendral besar Yang Yanzhao dari dinasti Song Utara yang menjaga di Yanmenguan.

Yang Yanzhao (958-1014), nama aslinya Yang Yanlang kemudian diganti menjadi Yang Yanzhao (楊延昭) juga disebut Yang Liulang, kelahiran Bingzhou Taiyuan (kini Taiyuan, Shanxi). Menurut catatan “Sejarah Song”, Yang Yanzhao adalah anak sulung Yang Ye jendral tersohor penangkal suku bangsa Liao di jaman Song Utara. Mengapa Yanzhao juga disebut “Yang Liulang 楊六郎”? Ternyata orang dulu menyebut bintang Tianlang (Sirius) sebagai bintang Liulang dan meyakini bintang itu sebagai bintang jendral, sedangkan Yang Yanzhao “Cerdas, berani dan trampil bertempur”, keperkasaannya menggemparkan Negara Liao, itu sebabnya ia dipandang orang Liao sebagai titisan dari bintang Liulang (Sirius) atau bintang jendral.

”Sejarah Song” mencatat, masa kecil Yanzhao diam tak suka berbicara, masa anak-anaknya gemar bermain baris-berbaris dan formasi militer, ayahnya Yang Ye berkata, “Anak ini seperti saya.”

Setiap kali ia berangkat bertempur, pasti mengajak Yanzhao.

Pertempuran Ying dan Shuozhou

Di jaman Han Utara (951 – 979, sebelum akhirnya negeri kecil itu takluk pada dinasti Song Utara) Yang Yanzhao sudah menyandang jabatan inspektur mengikuti ayahnya Yang Ye melancarkan ekspedisi kemana-mana, mencakup seluruh garis pertahanan Yanmenguan, hampir di seluruh tempat ada kota Yang Liulang atau kemah Liulang, karena kehebatannya, sejak masa muda namanya sudah dikenal di seluruh jajaran angkatan bersenjata.

Pada tahun 986, Yang Yanzhao hanya berusia 29 tahun sudah mengikuti ayahnya Yang Ye menyerang Ying, Shuo dan lain-lain tempat serta bertugas sebagai barisan depan pasukan Kaisar Song Taizong. Pasukan Song di bawah pimpinan sang ayah dan anak marga Yang menyerang pasukan Liao diluar Yanmenguan, mendapatkan kemenangan berturut-turut dan telah merebut kembali banyak kota.

Keberanian Yang Yanzhao juga pertama kali dikenal oleh pasukan Liao. Buku-buku sejarah mencatat, ketika menyerang Shuozhou, Yang Yanzhao bertugas sebagai barisan pendobrak untuk menyerang pasukan Liao yang menduduki kota, karena lengah, lengannya tertembus anak panah, namun ia tetap mempertahankan terus bertempur dan makin bertempur makin berani, akhirnya pasukan Liao menelan kekalahan dan ia berhasil merebut kembali Shuozhou. Pada tahun yang sama bulan ke 8, Yang Ye tewas dalam pertempuran, Yang Yanzhao pulang kampong untuk berkabung dan semakin meneguhkan tekadnya untuk melawan Negara Liao guna merebut kembali wilayah yang telah jatuh ke tangan Negara Liao.

Keterangan gambar: Para jendral marga Yang adalah pahlawan setia pada jaman Song Utara dalam sejarah Tiongkok seperti Yang Ye, Yang Yanzhao, Yang Wenguang, Yu Taijun, Jendral wanita marga Yang dan lain-lain telah meninggalkan banyak cerita yang sangat populer. (internet)

Kemenangan besar Suicheng berkat kepiawaian bertempur

Pada 999 Masehi, laskar pasukan Liao yang berasal dari Tiongkok utara menyerbu wilayah selatan, dengan cepat sudah menyerang ke Suicheng (kini di sebelah timur kabupaten Xushui provinsi Hebei). Yang Yanzhao sedang menjaga Suicheng. Ketika itu karena suku Khitan dipimpin langsung oleh ratu Xiao maka pasukan Liao bersemangat juang besar. Sedangkan tentara penjaga dalam kota Suicheng tidak sampai 3000 personil, bala bantuan terlambat datang dan situasi pasukan Song sangat kritis. Yanzhao dengan tenang menggerakkan warga laki-laki seluruh kota untuk menjaga tembok kota bergiliran, berpakaian lengkap siap tempur, bertahan dengan gigih siang dan malam.

Pasukan Liao mengerahkan kekuatan induk pasukan infantri, menggunakan siasat perang lautan manusia dengan kekuatan bagai gelombang tsunami menerabas ke kota kecil Suicheng. Bersamaan itu pasukan berkuda Liao menggunakan anak panah melakukan perlindungan di garis belakang. Menghadapi lautan manusia yang berada di bawah tembok kota Yanzhao menjaga ketenangnya seperti biasa, ia mengomando pasukan untuk berlindung di balik perisai besar kayu yang sudah dipersiapkan sebelumnya, di atas tembok kota untuk menghindari serangan anak panah. Ketika pasukan lawan sudah mendekat baru diserang balik dengan dasyat dan kerap dengan anak panah busur silang (crossbow), membasmi pasukan musuh semaksimal mungkin. Serangan pasukan Liao selalu berhasil digagalkan.

Disaat pasukan Liao lagi-lagi menyerang kota dikombinasikan dengan tugu penyerang tembok kota. Di bawah tugu penyerang kota adalah alas besar beroda empat yang didorong maju dengan tenaga manusia. Tugu bagian atas adalah loteng bertingkat yang berbentuk mengerucut, dalam tugu terdapat banyak tangga tinggi berbentuk spiral, bagian luarnya terlindung papan kayu tebal, bagian depan teratas adalah pintu jembatan gantung yang bisa dibuka-tutup, ketika sudah mendekati tembok kota, dengan melepaskan pintu jembatan gantung para prajurit bisa langsung menerjang keluar dari dalam tugu dan menyerang tembok kota, hal itu bisa menghindari kekurangan konstruksi tangga awan/tinggi selama ini yang dapat menelan korban terlalu besar.

Disaat-saat kritis, Yanzhao mengenakan baju besi dengan tangan memegang pedang pusaka mengomando sendiri pertempuran di atas tembok kota. Bersamaan itu merekrut para pemuda kota yang mengenakan rompi besi dan bersenjata naik ke atas tembok kota untuk membantu pasukan penjaga kota. Dalam semangat tak kenal takut Yanzhao, semangat juang prajurit dan pasukan rekrut sipil kota Suicheng bergelora. Mereka menggunakan batu besar diikat dengan tali untuk menghancurkan tugu penyerang pasukan Liao, melepaskan panah api dengan kerap untuk membakar rusak tugu penyerang pasukan Liao. Sekali lagi pasukan Liao mengalami kegagalan.

Pasukan Liao menghadapi pertahanan kota yang kokoh yang diserang dan tak kunjung berhasil maka sempat menggunakan alat penyerang berat yang tercanggih saat itu yakni bom pelontar batu dan bom panah crossbow berukuran besar. Akhir bulan ke 9, pasukan Liao mulai menggunakan ratusan unit bom batu dan bom panah menggempur tembok kota Suicheng siang dan malam. Serangan bom dahsyat pasukan Liao berlanjut terus hingga awal bulan ke 10. Tembok kota Suicheng yang sudah mengalami banyak kali serangan itu mulai muncul retakan besar di beberapa bagian tembok kota, tembok kota mungkin setiap saat bisa runtuh. Pasukan Liao menjadwalkan serangan total di akhir bulan ke 10. Kota Suicheng berada pada saat yang paling kritis. (lin/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular