Keterangan foto: Ratu kecantikan Kanada Anastasia Lin tidak diberikan visa oleh otoritas Tiongkok sehingga tidak dapat mengikuti kontes final di Sanya, Hainan, Tiongkok. (Pan Zaishu/Epoch Times)

Oleh Qin Yufei

Partai Komunis Tiongkok (PKT) menolak kedatangan ratu kecantikan dunia dari Kanada, Anastasia Lin ke Tiongkok untuk berpartisipasi dalam final kontes kecantikan yang diselenggarakan di Pulau Hainan, Tiongkok. Washington Post menerbitkan sebuah editorial menyebutkan bahwa tampaknya rezim komunis menjadi panik, takut seorang kontestan ratu kecantikan dunia yang berusia 25 tahun masuk ke negaranya. Lin didiskreditkan dan dicegat saat transit pesawat di Hongkong sehingga tidak bisa meneruskan perjalanan ke Pulau Hainan.

Editorial juga menyebutkan bahwa Anastasia Lin sebelumnya berharap bisa mewakili Kanada untuk mengikuti kontes kecantikan ratu dunia. Namun ia tidak memperoleh visa masuk Tiongkok, sementara para kontestan lain memperolehnya.

Sebagai seorang artis dan praktisi Falun Gong, Anastasia Lin menggunakan kesempatan penobatannya sebagai ratu kecantikan Canada pada Mei lalu untuk menyuarakan hak asasi manusia dan kebebasan beragama. Karena itu, ayahnya yang masih tinggal di Tiongkok akhirnya mendapat tekanan dari personil keamanan PKT setempat. Anastasia bertanya-tanya apakah penundaan pemberian visanya itu berkitan dengan pandangan politiknya?

Washington Post bertanya kepada penyelenggara kontes, “Bila kontestan dilarang masuk ke negara tuan rumah, apakah pihak penyelenggara bisa mengubah lokasi demi mempertahankan harga diri?”

Sekarang orang sudah mengetahui jawabannya. Meskipun menghadapi batas waktu kontes yang terus mendekat dan Anastasia sudah memiliki tiket penerbangan dari Hongkong ke kota Sanya, Hainan. Namun otoritas Tiongkok menghalanginya terbang menuju Daratan. Kedutaan Besar Tiongkok di Kanada mengaku kepada dunia luar bahwa Anastasia Lin termasuk persona non grata bagi Tiongkok.

Media corong PKT ‘Global Times’ untuk menjaga agar citra rezim komunis tidak ternoda akibat kejadian ini, lalu menulis dalam artikel yang dimuat mengatakan bahwa, keluhan seorang gadis berusia 25 tahun mudah menarik simpati publik Barat yang memang sudah berprasangka buruk terhadap PKT. Namun demikian, Anastasia Lin harus membayar mahal karena ia berkolusi dengan kekuatan musuh.

Kepada Washington Post Anastasia mengatakan bahwa mungkin saja otoritas Tiongkok bermaksud melalui penolakan dirinya memberi peringatan kepada warga Tionghoa yang berada di luar negeri termasuk para wartawan dan akademisi yang ingin menyuarakan kepentingan yang bertolak belakang dengan PKT.

Washington Post menulis bahwa otoritas Tiongkok menganggap pihak-pihak yang tidak mau mendengarkan mereka, tidak sepaham sebagai kekuatan yang mengancam. Di satu pihak, pemerintah Tiongkok berjanji untuk melakukan reformasi pasar, namun di pihak lain justru mengintensifkan penekanan, membatasi kebebasan masyarakat. Mengontrol ketat jaringan internet, membatasi ruang gerak media, tempat-tempat ibadah atau apapun yang menentang PKT. Dalam jangka pendek, tindakan demikian memang bisa melukai orang-orang seperti Anastasia Lin dan semakin banyak kritikus domestik yang dimasukkan ke dalam penjara. Namun dalam jangka panjang, itu hanya akan merugikan PKT sendiri, karena rezim telah menjadi lebih rapuh, terisolir dan ketakutan. (Sinatra/rmat)

Share

Video Popular