Keterangan foto: Seorang perekrut dari AL Amerika sedang mem-briefing sejumlah calon prajurit baru tentang peluang karir mereka di AL. (internet)

Oleh: Mu Chunxiao

Lolos dari Pemeriksaan FBI

Suatu sore ketika pulang ke rumah, saya menemukan selembar kartu kecil di depan pintu yang meminta saya untuk menelepon ke nomor yang tertera di kartu tersebut. Setelah saya perhatikan lagi, ternyata dari FBI. Saya merasa agak aneh. Saya merasa tidak melakukan kejahatan apa pun. Saya memutar nomor sesuai di kartu, seorang wanita bernama Nancy menerima telepon dan berkata dia ingin berbincang sedikit dengan saya, dia bertanya apakah saya bisa meluangkan sedikit waktu. Saya memilih waktu yang sesuai, dan dia memberitahu saya alamat kantor FBI, kami berjanji untuk bertemu di café di lantai tiga.

Setelah menelepon saya berkata pada teman satu asrama Wen Shu bahwa Amerika Serikat begitu demokratisnya, bahkan pembicaraan resmi dengan FBI pun kita bisa memilih sendiri waktu sesuai keinginan. Bahkan boleh berbincang di café. Jika di RRT, dipastikan akan dipanggil ke dalam kantor, dan duduk tegak dengan sikap serius.

Kantor Nancy berdekatan dengan kediaman saya, hanya belasan menit dengan menumpang kereta bawah tanah. Café di lantai tiga sangat besar, bahkan lebih besar daripada Starbucks, cukup lengang tidak begitu banyak orang, hanya terlihat seorang petugas kebersihan sedang sibuk bekerja.

Nancy muncul tepat waktu, paras Asia-nya membuat saya agak kaget. Tapi Nancy hanya berbicara bahasa Inggris, seharusnya bukan imigran generasi pertama. Dia mengenakan setelan rok yang umumnya dikenakan wanita eksekutif, tidak seperti perwira perekrut yang murah senyum, dia adalah pegawai pemerintah berekspresi paling serius yang pernah saya temui selama ini, tapi Nancy tetap sangat sopan. Sampai sekarang saya belum pernah bertemu dengan pegawai pemerintahan dengan ekspresi seperti ini. Saat saya agak santai, bahasa Inggris saya lebih baik, begitu tegang, apa pun yang dikatakan saya tidak mengerti. Tapi café memang tempat yang bisa membuat santai, jadi pembicaraan dengan Nancy cukup lancar.

Nancy memegang dokumen dari kantor AL, dia lebih dulu bertanya mengapa salah menulis kode wilayah telepon saya. Saya tak berdaya, sepertinya itu bukan kesalahan saya, maka saya pun terdiam. Melihat saya diam, dia mulai bertanya tanggal dan tempat lahir, pernah sekolah dimana, pernah bekerja dimana dan lain-lain. Sambil mendengar saya menjawab, dia mencocokkan dengan data di tangannya. Dia meminta saya menuliskan periode studi saya, lalu bertanya, mengapa di data AL hanya menulis lulus SMA? Saya berkata karena transkrip nilai di perguruan tinggi belum diterima di kantor AL. Nancy bisa memahami itu, dan berkata pengiriman transkrip nilai dari luar negeri memang butuh waktu. Jawaban saya dengan data di tangannya tidak meleset, sepertinya rasa percayanya mulai bertambah, sikap dan ekspresi Nancy pun menjadi tidak seserius tadi.

Nancy bahkan telah memeriksa data kredibilitas saya di bank, dan berkata saya masih ada hutang di satu akun kartu kredit sekitar USD 60 lebih. Saya katakan bahkan saya sendiri pun tidak tahu ada rekening tersebut. Nada bicara Nancy menjadi semakin ramah, dia berkata nilai hutang itu tidak seberapa, cepatlah dilunasi. Catatan kartu kredit yang kurang baik juga akan mempengaruhi kredibilitas Anda kurang baik, kurang bisa diandalkan. Catatan tindak kriminal juga tidak diperbolehkan. Pulang dari kantor Nancy, hal pertama yang saya lakukan adalah melunasi dan menutup akun kartu kredit yang entah dari mana itu.

Dalam rapat rutin bulanan berikutnya, saat baru tiba di kantor saya merasa suasana sedikit tegang, atasan saya dan seorang pria sedang membicarakan sesuatu. Pria itu baru beberapa bulan datang ke Amerika, karena bahasa Inggris tidak begitu lancar timbul salah persepsi saat berkomunikasi, FBI bermaksud membatalkan kontraknya, atasan kami menjelaskan bahwa kesalahan itu adalah akibat hambatan bahasa, akhirnya ia masih lolos.

Selesai menjelaskan pada pria itu, atasan berkata pada kami, jika kalian merasa tegang diwawancarai FBI, kalian boleh memilih tempat di kantor AL ini, tidak perlu ke kantor mereka (FBI), jika ada masalah kami bisa membantu kalian atau membantu menterjemahkan. Saya berkata saya telah pergi ke kantor FBI, sebelumnya tidak tahu menahu bahwa kami boleh memilih lokasi wawancara, seandainya tahu, saya pasti memilih disini.

Saya bersedia mengikuti rapat rutin bulanan karena bisa memperoleh banyak informasi berguna. Kadang kala duduk di sofa melihat calon prajurit baru masuk ke kantor memberi hormat pada bendera AS dengan mulut mengunyah permen karet. Orang Amerika telah terbiasa terlalu santai. Perwira perekrut mengatakan, saat memberi hormat tidak boleh mengunyah permen. Entah kenapa saya teringat pada seorang bibi saat saya di bangku TK. Saya berusaha menahan tawa.

Suatu kali usai rapat bulanan, bersama seorang perwira perekrut etnis Meksiko saya menuju halte bis. Perwira itu berkata, saat kalian mengikuti pelatihan nanti, pekerjaan kami belum selesai, sampai kalian telah lulus dari pelatihan, kami baru bisa bernafas lega, pekerjaan kami baru bisa dikatakan rampung. Saya bertanya, apakah ada peserta yang tidak lulus dari pelatihan?

Ia menjawab, “Ada, saya tidak begitu khawatir pada kalian, yang saya khawatirkan adalah si A itu. Setiap kali masuk ke kantor…”

Perwira itu meniru cara si A memberi hormat yang asal-asalan itu sambil berkata, “Ia selalu seperti itu. Dalam waktu begitu singkat, kartu anggota AL-nya telah hilang dua kali, saya sungguh mengkhawatirkan ia tidak bisa lulus.”

Saya bertanya pada Mr. Zhu, apakah selama menunggu ada persiapan yang harus dilakukan?

Mr. Zhu berkata, pergilah belajar berenang, juga lompat air. Mendengar jawaban dari Mr. Zhu yang ringan, saya tidak begitu mengkhawatirkannya. Ternyata setelah ikut dalam pelatihan, lompat air ini menjadi mimpi buruk bagi saya selama sebulan lebih. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular