Chen Xiaomei (4) yang awalnya lincah dan aktif, namun, hampir dua bulan terakhir ini berat badannya perlahan-lahan menjadi kurus, ia kerap merasa haus, sering buang air kecil, sesak napas, dan dari hasil diagnosis positif dinyatakan diabetes tipe 1.

Zhou Yan-ying, dokter bidang pediatrik endocrinologi di National Cheng Kung University Hospital, Taiwan, mengatakan bahwa (penyakit) diabetes tipe 1 yang juga dikenal sebagai diabetes Mellitus Juvenilis Onset atau diabetes tipe 1, sebagin besar penderitanya terdiagnosis semasa kanak-kanak atau di masa remaja. Dan mengenai sebab utamanya karena sel islet yaitu sel pankreas yang bertanggungjawab dalam memproduksi insulin itu dirusak oleh sistem autoimun, menyebabkan tubuh tidak dapat memproduksi insulin. Dengan tiadanya insulin, sel-sel tubuh tidak dapat memanfaatkan gula, imbasnya gula menetap di dalam darah, sehingga memicu naiknya gula darah.

Ketika konsentrasi glukosa darah terlalu tinggi, maka kadar gula yang terlalu banyak akan dikeluarkan dari urin. Banyaknya urin itu disebabkan banyaknya cairan/air di dalam tubuh, sehingga dikeluarkan bersama dengan kadar gula yang berlebihan. Gejalanya biasanya penderita kerap merasa haus dan sering buang air kecil, selain itu juga banyak makan, berat badan menurun, lelah, enuresis nocturnal (mengompol di malam hari), sakit perut, mual, infeksi jamur di area mulut atau alat kelamin.

Pengobatan diabetes tipe 1 membutuhkan suntikan insulin secara subkutan setiap hari, dan pola suntikan insulin ini cukup banyak, ketakutan anak-anak yang sakit itu masing-masing berbeda terhadap enjeksi (suntik) karena faktor usia, kebiasaan makan, rutinitas sehari-hari (aktivitas) dan faktor-faktor lain, tim medis akan mendiskusikannya dengan anak-anak yang sakit dan orangtua bersangkutan tentang jumlah suntikan dan cara penanganan yang paling tepat. Karena diabetes tipe 1 harus ditangani/diobanti dengan cara suntikan, tidak seperti pola pengobatan diabetes tipe 2 yang bisa ditangani melalui pengobatan oral (minum obat), pengontrolan diabetes tipe pertama jauh lebih merepotkan dibanding diabetes tipe 2, ungkap dokter Zhou menjelaskan.(Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular