Keterangan foto: Pada 22 November 2015 lalu, pemilihan presiden Argentina dimenangkan oleh pemimpin faksi pro-pasar Macri, menandakan berakhirnya pemerintahan sayap kiri yang telah berkuasa selama 12 tahun. Macri diharapkan menjadi presiden paling liberal dari negeri Argentina dengan perekonomian terbesar ketiga di Amerika Latin sejak 1990-an. Dalam foto nampak Macri (kiri) dan anak-istri melambaikan tangan kepada para pendukungnya ketika merayakan bersama kemenangan mereka di kantor pusat Buenos Aires. (AFP)

Oleh: Cao Changqing

Hasil pemilu Argentina diumumkan pada Minggu (22/11/2015), partai politik sayap kiri yang telah berkuasa selama 12 tahun kalah. Walikota Buenos Aires Macri yang netral cenderung pro sayap kanan dan menekankan ekonomi pasar, memenangkan pemilu. Hasil pemilu ini tidak hanya sangat bermakna bagi negara ekonomi terbesar ketiga di Amerika Latin itu, melainkan juga duel dua kubu kekuatan Amerika Latin sayap kiri dan sayap kanan, terutama dalam hal mengakhiri “paham Peron” (paham sosialisme yang berasal dari Benua Amerika), serta sangat berpengaruh dalam mendorong Amerika Latin menuju ekonomi pasar.

Bentuk wilayah negara Argentina adalah besar di atas mengecil di bawah, menyerupai terong, juga mirip martil. “Paham Peron” yang dinamai dengan mantan Presiden Argentina Peron bahkan lebih “martil”. Tidak hanya pernah menghantam perekonomian Argentina (paham sosialisme pasti menimbulkan efek buruk), apalagi paham tersebut menyebar ke seluruh Amerika Latin, pemerintah mengintervensi ekonomi, sehingga semakin tercipta kesenjangan kaya dan miskin, paham sosialisme yang menasionalisasikan perusahaan pun semakin merajalela. Hasil pemilu Argentina kali ini telah “menginjak rem” bagi paham sosialis, atau bisa dikatakan mengakhiri “paham Peronisme”.

Bagi orang yang memahami sejarah Amerika Latin pasti tahu, Peron sempat berjaya. Orang kuat yang telah menjadi presiden Argentina di era akhir tahun 40-an itu menancapkan paham sosialis yang dianutnya di Argentina, hingga berimbas ke seluruh Amerika Selatan, dan dijuluki “Peronisme”: dengan kekuatan pemerintah mewujudkan pemerataan kaya miskin, pungutan pajak tinggi, nasionalisasi perusahaan, perekonomian yang dikendalikan pemerintah, serta perombakan masyarakat secara keseluruhan.

Kemerosotan ekonomi Argentina, warga miskin begitu banyak, juga pengaruh kuat agama Katolik (cenderung menentang kaum kaya), ditambah lagi dengan kaum intelek sayap kiri yang memposisikan dirinya di level moral yang tinggi serta memiliki impian Utopia, “paham Peron” pun menjadi banyak diminati. Selain itu, paham ini memiliki pendorong lain yang cukup unik, yakni istri kedua Peron yang bernama Evita.

Evita adalah seorang tokoh yang cukup legendaris, lahir sebagai anak diluar nikah seorang penjahit di desa, Evita hidup di tengah kemiskinan, tapi memiliki kepribadian yang kuat dan energik, serta sangat ahli dalam mendapat keuntungan pribadi. Di usia 15 tahun dia ke kota menjadi penari, dia “bertransaksi seksual” dengan banyak tokoh berkuasa, sehingga terkenal sebagai wanita sosialita, hingga kemudian menjadi tersohor di dunia perfilman. Pemimpin politik Peron yang tertarik pada Evita, menjadikannya sebagai “first lady”.

Latar belakang yang penuh derita membuat Evita dengan mudah jatuh hati pada paham sosialis ala Peron yang memprovokasi kaum miskin melawan para tuan tanah dan membagikannya pada rakyat, dia pun menjadi rekan berjuang bagi Presiden Peron. Evita mencurahkan perhatian membantu sang suami, berpidato tentang “paham Peron” dimana-mana, dan mendapat sambutan hangat dari para petani miskin, terlebih lagi mendapat simpati dari para penganut Katolik. Ditambah lagi dengan kematian Evita pada usia 33 tahun akibat kanker leher rahim, semakin memperkuat sosoknya sebagai seorang legenda. Tidak sedikit di rumah orang-orang miskin, terdapat foto Evita bahkan kadang ditempatkan di posisi yang sama dengan Yesus.

Karena Nyonya Peron (Evita) adalah tokoh sosialis yang terkenal di Amerika Latin bahkan dunia, juga seorang ahli berpidato dan berkepribadian kuat, sehingga para penulis dan seniman sayap kiri Barat pun mengidolakan dirinya, dan nyaris memujanya sebagai “dewi”. Tidak hanya diciptakan drama musika berjudul “Evita”, kemudian juga difilmkan dengan dibintangi oleh penyanyi seksi AS yakni Madonna. Kala itu warga Argentina sempat protes, namun setelah melihat penampilan Madonna yang sangat sungguh-sungguh dan begitu mirip akhirnya protes pun dibatalkan. Sutradara yang memilih Madonna bisa dikatakan membuat pilihat tepat, karena penyanyi seksi ini sangat bisa merasakan apa yang dialami Evita yang dimasa lalunya begitu liar itu, memerankan kondisi dirinya sendiri tentunya menjadi sangat meresapi peran tersebut. Lagu soundtrack pada film “Evita” dengan judul “Don’t cry for me Argentina” tersebut juga sempat menjadi tren beberapa waktu.

Setelah kematian Evita, Presiden Peron digulingkan oleh militer, dan sempat diasingkan beberapa tahun lalu kembali ke Argentina dan menjadi presiden lagi. Istri ketiganya kemudian juga menjadi presiden, lagi-lagi juga digulingkan oleh militer. Karir politik keluarga Peron yang naik turun seperti ini juga semakin membuat “Peronisme” lebih dikenal. 12 tahun silam, pemimpin sayap kiri Nestor Kirchner terpilih menjadi Presiden Argentina, setelah masa jabatan 4 tahun, istrinya Christina terpilih menjadi presiden dan terpilih kembali, keduanya berkuasa selama 12 tahun.

Presiden Christina sangat memuja Evita, dia memerintahkan agar potret Evita dicetak di mata uang pecahan seratus Argentina. Dia tidak hanya meniru cara Evita berpidato dengan mengepalkan tangan menunjukkan sikap sebagai orang kuat, juga sering melontarkan kata-kata mengejutkan. Seperti tahun lalu ketika Argentina gagal masuk ke babak final Piala Dunia, dia berpidato mengatakan bahwa dia tidak tertarik dengan sepak bola, bahkan menyatakan tidak pernah menyaksikan satu pun pertandingan Argentina, pernyataan ini membuat perasaan para pemain dan penggemar sepak bola sangat sedih.

Februari tahun ini dia melakukan kunjungan diplomatik kepresidenan ke RRT, selama kunjungan tersebut Christina menulis Twitter yang menertawakan pengucapan orang Tiongkok dalam berbahasa Spanyol. Meskipun media RRT mensensor berita tersebut, tapi para netter di RRT terus melontarkan kritik terhadapnya. Tanpa mempedulikan statusnya sebagai presiden dan etika dalam hubungan diplomatik, acuh tak acuh terhadap peristiwa tersebut.

Di bawah kepemimpinan presiden sayap kiri yang acuh seperti itu, ditambah lagi menganut paham Peronisme, kebijakan paham sosialis dilanjutkan, ekonomi Argentina pun terus merosot, hingga tahun lalu pertumbuhan ekonomi hanya 0,5%. IMF memperkirakan, tahun depan ekonomi Argentina akan menyusut 0,7%.

Majalah “Business Insider” menggabungkan data dari CIA World Factbook 2014, memaparkan 18 negara yang paling menyedihkan di dunia, dan posisi lima besar adalah Venezuela, Suriah, Djibouti, Argentina, Yemen. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

 

Share

Video Popular