Metromini tabrakan dengan Commuterline pukul 08.30 WIB, Minggu 6 Desember 2015 di perlintasan Kereta Api, Jalan Tubagus Angke, Jakarta Barat (Foto : Muhamad Asari)

JAKARTA – Tabrakan maut Metromini B- 80 Jurusan Kalideres –Jembatan Lima menewaskan 18 orang penumpangnya. Bus terseret setelah menerobos palang pintu kereta dan langsung tertabrak Commuter Line dekat peron Angke, pukul 08.30 WIB, Minggu (6/12/2015). Presiden Jokowi meminta evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tak terulang pada angkutan umum.

“Kita berduka atas kecelakaan Metromini-Commuterline di Tubagus Angke. Harus dievaluasi agar tidak terjadi hal yang sama,” tulis Presiden Jokowi melalui akun twitternya @jokowi yang Minggu siang.

Presiden Jokowi menyatakan sudah memerintahkan kepada Menteri Perhubungan Ignasius Jonan untuk melakukan perbaikan terhadap seluruh sarana dan fasilitas transportasi. Harapan Presiden, tragedi tabrakan metromini dengan coomuterline seperti di Tubagus Angke tak terulang kejadian serupa.

Kepala Negara menyampaikan turut berduka cita mendalam atas kecelakaan Metromini-Commuterline di Muara Angke. Kepada keluarga korban yang ditinggalkan semoga selalu diberi ketabahan atas musibah yang menimpa mereka.

Sebelumnya Kepala Bidang Kedokteran Kesehatan Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya Komisaris Besar Pol Musyafak mengatakan korban tewas akibat tabrak maut tersebut berjumlah 18 orang. Korban tewas termasuk sopir dan kondektur bus yang sempat kritis di Rumah Sakit Sumber Waras, Jakarta Barat.

Semula 15 jenazah korban berrada di Ruang Jenazah RSCM dan tiga jenazah lainnya di Rumah Sakit Atmajaya. Seluruh jenazah, menurut Musyafak akan dibawa ke RSCM untuk proses identifikasi dan memudahkan administrasi.

Tak semua penumpang meninggal dunia, tercatat 6 penumpang terluka dalam kejadian tersebut. Dua orang penumpang sedang dirawat di Rumah Sakit Sumber Waras, tiga orang di Rumah Sakit Atma Jaya, dan satu orang di Rumah Sakit Tarakan.

Wakil Kepala Dinas Perhubungan dan Trasnportasi (Wakadishubtrans) DKI Jakarta, Yani Wahyu Purwoko mengatakan Pemprov DKI Jakarta akan menindak tegas dan mengancam akan mencabut izin trayek B-80. Dia menuturkan berdasarkan keterangan saksi mata, perlintasan sudah ditutup namun demikian sopir tetap menerobos. Apalagi perbuatan ini menyebabkan terjadi korban jiwa tentunya menjadi pelanggaran atas kelalaian.

“Kita dari Pemprov akan memberikan sanksi yang keras, jangan sampai korban, kita evaluasi trayeknya kalau perlu kita cabut,” ujarnya di lokasi kejadian. (asr)

Share

Video Popular