University of Technology and Engineering (UTEC), Peru, mengembangkan “Lampu tanaman” tanpa colokan listrik, yang mampu memberikan cahaya listrik dari tanah dan tanaman, membantu memecahkan masalah listrik di daerah-daerah terpencil yang kurang dialiri jaringan listrik. (Screenshot)

Peneliti di Peru mengembangkan satu jenis “lampu tanaman” (Plant Lamps), yang mampu memberikan pencahayaan dari tanah dan tanaman tanpa perlu colokan listrik atau menggunakan energi listrik tambahan. Bagi daerah terpencil yang minim dengan aliran listrik, lampu tanaman ini merupakan solusi yang ideal untuk memecahkan masalah pencahayaan.

“Lampu Tanaman” ini dikembangkan peneliti dari University of Engineering and Technology, Peru, prinsip kerjanya mengandalkan suatu bakteri dalam tanah yang digunakan sebagai pencahayaan melalui energi listrik dari tanaman.

Mereka membuat sebuah kotak logam yang mampu menangkap energi dari “geobacters,” semacam mikroorganisme yang menghasilkan elektron. Kotak itu kemudian mengalirkan listrik ke baterai yang kemudian diandalkan untuk menghidupkan lampu LED, ungkap peneliti dari UTEC.

“Kami menempatkan tanaman dan tanah ke dalam kotak kayu bersama dengan sistem irigasi yang terlindungi,”kemudian kami menempatkan sistem pembangkit energi ke dalam kotak tanaman, dan elektroda di dalamnya itu bisa mengkonversi nutrisi tanaman menjadi energi listrik,” ujar Elmer Ramirez dari Peru University of Technology and Engineerin.

Sejauh ini, peneliti telah berhasil menciptakan 10 prototipe lampu tanaman, dan disumbangkan ke sebuah desa terpencil di Ucayali. Desa ini terletak di hutan hujan tropis yang luas, adalah daerah yang paling rendah aliran listriknya di Peru. Kedepannya mereka akan mendistribusikannya ke para penduduk di desa yang belum menerima akses listrik.

Lampu LED ini sangat rendah konsumsi energinya, mampu menyediakan pencahayaan selama dua jam. Selain membantu orang untuk memasak, bekerja, hiburan di malam hari, lampu ini juga dapat menyediakan lebih banyak waktu untuk membaca dan mengerjakan pekerjaan rumah pada anak-anak desa tersebut. Pendidikan di daerah Ucayali tidak populer, kurang dari 30% orang-orang di desa tersebut hanya mengecap pendidikan menengah, dan hampir 15 % dari penduduk setempat buta huruf.

Meskipun desa tersebut kurang memiliki berbagai sumber daya, namun, minimnya aliran listrik berdampak besar terhadap perkembangan masyarakat, pendidikan dan keluarga. Bagi masyarakat setempat, “lampu tanaman” dapat meningkatkan kualitas hidup keluarga, dan mereka juga sangat optimis, kata Jessica Ruas, Direktur Pemasaran UTEC. (Jhn/Yant)

Share

Video Popular