Ketua DPR RI Setya Novanto saat memasuki ruang sidang MKD, Senin, 7 Desember 2015

JAKARTA – Majelis Kehormatan Dewan DPR RI kembali menggelar persidangan menghadirkan terlapor kasus ‘ papa minta saham’ dengan terlapor Ketua DPR RI Setya Novanto di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (7/12/2015). Novanto hanya berada dalam ruang MKD selama kurang 3 jam berlangsung secara tutup dan ternyata dipimpin oleh kolega Novanto dari Partai Golkar, Kahar Muzakir.

Penuturan anggota MKD dari Fraksi Partai Nasdem, Akbar Faizal menyebutkan awal persidangan langsung memanas dengan adanya perdebatan tentang sidang akan dilangsung secara terbuka atau tertutup. Dia menyebut bahwa dirinya turut mengusulkan sidang digelar secara terbuka. Bahkan sempat dihembuskan bahwa semua anggota MKD dinyatakan menyetujui bahwa sidang digelar secara tertutup.

Permintaan sidang digelar secara tertutup diminta secara langsung oleh terperiksa Setya Novanto sebagaimana tercantum dalam nota pembelaan Novanto. Perdebatan demi perdebatan terus berlangsung selama setengah jam hingga akhirnya pimpinan sidang mengetuk palu untuk sidang digelar secara tertutup.

“Seluruh anggota MKD menerima untuk digelar tertutup, saya katakan siapa pun mengatakannya adalah kebohongan besar, saya tentu saja punya cara melindungi diri dengan berbagai apa namanya fitnah, biarkan orang lain memperlakukan, saya katakan 7 orang tadi yang minta terbuka,” ujarnya di Gedung DPR RI.

Setelah dinyatakan sidang berlangsung secara tertutup, Novanto selanjutnya membacakan nota pembelaannya yang terlampir dalam pembelaan sebanyak 12 halaman dalam sidang dimulai sekitar pukul 13.55 WIB. Sesi istirahat berlanjut dan persidangan pun diskors pada pukul 15.15 WIB.

Saat rapat memasuki tanya jawab, perdebatan kembali terjadi soal terbuka atau tertutup hingga akhirnya pimpinan rapat kembali mengetok palu bahwa sidang digelar secara tertutup. Namun selama persidangan, Novanto menolak untuk menjawab hal yang berkaitan dengan rekaman. Sedangkan rekaman merupakan alat bukti yang menjadi dasar oleh MKD untuk menyidangkan kasus minta saham. Persidangan berakhir pada pukul 18.10 WIB dan diputuskan untuk diskors sebagai lanjutan sidang internal MKD. Rapat ini membahas tentang agenda dan pihak-pihak yang diperlukan dalam persidangan MKD selanjutnya.

Anggota MKD dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Achmad Dimyati Natakusumah, membenarkan bahwa sidang tertutup dikarenakan permintaan Setya Novanto. Namun demikian, dia menolak apa yang dibicarakan selama persidangan karena jika sidang digelar tertutup maka tidak boleh untuk dibuka ke publik. Dia menambahkan jika sidang digelar tertutup agar lebih fokus untuk mendengarkan dan menyimak persidangan.

Sedangkan anggota MKD dari Fraksi Demokrat, Guntur Sasono mengatakan, Novanto mempertanyakan soal legalitas rekaman pembicaran dengan pengusaha Riza Chalid dan Direktur Utama PT Freeport Indonesia (PTFI) Maroef Sjamsoeddin. Novanto pada kesempatan itu membela dirinya dan legal standing rekaman serta dinilai melanggar hukum.

Sementara pengamat politik, Hanta Yudha mengatakan jika sidang digelar tertutup tentunya memunculkan kecurigaan dari publik. Bahkan memunculkan persepsi adanya ‘deal-deal’ politik dalam pemikiran masyarakat. “Kalau tertutup kecurigaan atau kompromi awal dari proses politik dan negosiasi,” ujarnya.

Menurut dia, kesempatan sidang terbuka tersebut semestinya dimanfaatkan oleh Novanto untuk membela dirinya. Bahkan tak hanya berhenti pada Novanto saja, namun membongkar kasus-kasus besar lainnya yang menyertai ‘minta saham’. Namun demikian, kecurigaan semakin menjadi-jadi setelah sidang diketahui dipimpin oleh kolega Novanto, Kahar Muzakir. Dia menilai fakta ini justru semakin meruntuhkan kepercayaan publik kepada MKD. Dia menambahkan masyarakat dikhawatirkan semakin antipati terhadap MKD bahkan lebih menyeluruh kepada wajah parlemen. (asr)

Share

Video Popular