Keterangan foto: Berita tentang Anastasia Lin yang ditolak visanya oleh PKT sehingga tak dapat pergi ke Sanya, Hainan, untuk ikut serta dalam ajang final kontes Miss World menjadi sorotan oleh berbagai media massa dunia. (Epoch Times)

Nyaris hanya dalam semalam, nama Miss Canada Lin Yefan (Anastasia Lin), menjadi kata pencarian terbanyak di Google. Tidak hanya itu, berita tentang Lin Yefan yang ditolak visanya oleh PKT sehingga tak dapat pergi ke Sanya, Hainan, untuk ikut serta dalam ajang final kontes Miss World menjadi sorotan berita oleh berbagai media massa dunia. Liputan mengenai Lin Yefan terus bermunculan di CNN, VoA, New York Times, Associated Press, Agence France-Presse (AFP), serta media besar dari Kanada, Korea, Indonesia dan negara-negara lain.

Tolak Visa Lin Yefan, PKT Nodai HAM dan Bisnis

Misi dari kontes kecantikan Miss World adalah mendorong terciptanya perdamaian dunia, membentuk sosok teladan wanita dan membantu anak-anak cacat dan kelaparan. Singkat kata “ada misi di balik kecantikan”. Kriteria wanita peserta kontes “Miss World” harus memiliki kecantikan sekaligus juga kepandaian, berhati penuh cinta kasih, bermotivasi untuk terus maju dan sehat jasmani rohani. Panitia penyelenggara memiliki harapan, lewat pengadaan kontes seperti Miss World sebagai mekanisme komunikasi dan penyebaran informasi, untuk menyampaikan misi perdamaian, persahabatan dan kasih sayang lewat para pesertanya dari berbagai negara dari tahun ke tahun hingga terus meluas. Oleh karenanya, kontes Miss World merupakan norma universal HAM yang disampaikan ke seluruh dunia lewat metode ini. Miss Canada Lin Yefan ditolak untuk masuk ke RRT oleh pemerintah Partai Komunis Tiongkok / PKT karena menyuarakan HAM dan membela kaum minoritas yang tertindas di Tiongkok. Ini adalah penganiayaan dan pelecehan PKT terhadap nilai kebebasan HAM.

Kegiatan kontes Miss World telah menarik sorotan berbagai media massa dan lapisan masyarakat dari seluruh dunia dengan cara yang unik, kontes ini telah berlangsung selama lebih dari 50 tahun, dampak dan reputasinya kian hari kian besar. Kini penonton yang menyaksikan kontes Miss World lewat televisi dari seluruh dunia telah mencapai lebih dari 2 milyar orang, dan netizen yang memberikan suara lewat internet mencapai ratusan juta. Banyak kota-kota besar dunia yang sangat antusias menjadi tempat penyelenggaraan kontes Miss World untuk meningkatkan reputasi kota itu sendiri lewat ajang budaya berkelas internasional tersebut, dengan harapan agar bisa mendorong perkembangan di sektor pariwisata, ekonomi, budaya dan sosial. Kontes Miss World ini juga telah menjadi kegiatan bisnis raksasa yang menghubungkan seluruh dunia. PKT sama sekali tidak ada alasan untuk menolak peserta kontes Miss World yakni Miss Canada, Anastasia Lin Yefan ini untuk masuk ke wilayah Tiongkok, apalagi hal ini juga merusak kegiatan bisnis normal dunia.

Apa sebenarnya alasan yang membuat PKT menolak Anastasia Lin datang ke Tiongkok untuk ikut serta dalam ajang final kontes Miss World ini?

PKT Takutkan Falun Gong

Alasan yang paling mendasar adalah, selain karena Anastasia Lin Yefan merupakan seorang peserta Miss World dari Kanada yang berparas menawan serta bertalenta baik, Lin juga seorang praktisi Falun Gong. Selama bertahun-tahun Lin Yefan ikut ambil bagian dalam memerankan film tentang penindasan PKT terhadap Falun Gong, serta terus mengungkap penindasan PKT terhadap kelompok lainnya. Apa yang terjadi pada diri Lin Yefan, hanyalah sekelumit penindasan kejam yang dilakukan PKT.

Penindasan PKT terhadap Falun Gong sepenuhnya adalah atas dasar rekayasa dan penipuan, sensor fakta, dan tindakan anarkis. Di Tiongkok, PKT mengerahkan segala bentuk aparatur negara untuk menindas dan merekayasa “kasus bakar diri di Tiananmen”, di kamp kerja paksa di penjara tak terhitung banyaknya praktisi Falun Gong yang disiksa bahkan sampai meninggal dunia, dan PKT telah melakukan perampasan organ tubuh praktisi Falun Gong dalam keadaan hidup-hidup. Penindasan Falun Gong juga merebak ke aspek sosial, seperti pengacara Gao Zhicheng yang membela Falun Gong serta para pengacara lain juga mengalami penindasan PKT.

PKT juga meluaskan penindasan hingga ke luar negeri, seperti penolakan yang terjadi pada Lin Yefan ini. Ayah Lin Yefan yang masih berdiam di RRT mendapat ancaman dan tekanan dari pihak Keamanan Nasional PKT, kehidupan keluarga Lin berikut usaha mereka pun terus diganggu, sampai-sampai mereka bahkan tidak berani menerima telepon dari Lin Yefan.

PKT menolak Lin Yefan masuk ke RRT, sebenarnya karena takut Lin Yefan akan membawa fakta mengenai Falun Gong pada masyarakat Tiongkok, takut masyarakat Tiongkok akan mengetahui fakta penindasan PKT terhadap Falun Gong. Begitu fakta tersebut terbongkar di RRT, maka PKT akan dicemooh rakyat. Penindasan terhadap Falun Gong telah menjadi masalah utama bagi rezim PKT di dalam maupun luar negeri, juga menjadi masalah paling mendasar bagi seluruh aktivitas politik PKT. Untuk menutupi kejahatan ini, PKT menghalalkan berbagai upaya. Meskipun PKT terus berupaya menutupinya, dengan berbagai dusta berusaha membohongi dunia, tapi kasus Lin Yefan ini telah menunjukkan bahwa penindasan itu masih berlangsung, telah menunjukkan penindasan PKT terhadap HAM, seluruh dunia sedang menanggung luka yang timbul akibat norma universal ini telah dinodai oleh PKT.

PKT Tekan Lin Yefan, Justru Semakin Promosikan Falun Gong

Akan tetapi, persis seperti sebelumnya, setiap kali PKT berupaya memfitnah dan menindas Falun Gong, selalu berakhir dengan semakin tersohornya Falun Gong, hal yang sama juga terjadi kali ini ketika PKT menciptakan “kasus Anastasia Lin.”

Tekanan PKT terhadap Lin Yefan menarik sorotan media massa internasional, berbagai media massa mulai memberitakan dan menyoroti masalah penindasan Falun Gong oleh PKT. Lin Yefan berkata pada CNN, dirinya adalah seorang pengikut Falun Gong yang ditolak masuk ke wilayah RRT oleh PKT. Surat kabar “New York Times” mengibaratkan konflik antara pemerintah PKT dengan Lin Yefan ini sebagai duel antara David melawan Goliat, dan menyebut duel ini menarik perhatian dan simpati berbagai media massa serta dukungan seluruh dunia, dan ini memberikan ruang gerak lebih luas baginya untuk menyuarakan Falun Gong dan mengungkap penindasan PKT ini.

Kasus Lin Yefan ini juga menarik perhatian berbagai media Korea Selatan terhadap kondisi HAM dan Falun Gong di RRT. Media besar Korsel tidak ada yang ketinggalan meliput berita mengenai Falun Gong ini. Surat kabar “Hankook Ilbo” edisi 27 November lalu memuat artikel berjudul “Apa Sebenarnya Falun Gong, Hingga Demikian Dibenci PKT?” yang memaparkan penjelasan mendetil mengenai Falun Gong. Surat kabar “Chosun Ilbo” memberitakan mengenai Miss Canada Lin Yefan yang ditolak masuk ke wilayah RRT karena keyakinan pribadinya dan menyuarakan keadilan bagi Falun Gong serta kelompok HAM lainnya, dan lain sebagainya. PKT menolak masuknya Lin Yefan ke RRT semakin membuat penindasan PKT terhadap Falun Gong disoroti oleh media massa, dan ini justru membantu mempromosikan dan menyebar luaskan fakta mengenai Falun Gong.

Media Internasional Seharusnya Lebih Intensif Soroti Penindasan Terhadap Falun Gong

Disorotinya masalah Lin Yefan oleh media massa dunia adalah satu hal yang positif. Akan tetapi penindasan kejam oleh PKT terhadap Falun Gong selama 16 tahun masih berlangsung hingga sekarang. Saat ini masih ada ribuan praktisi Falun Gong lainnya dipenjara dan ditindas. Ribuan praktisi Falun Gong lainnya dirampas organ tubuhnya dalam keadaan hidup-hidup, di balik operasi cangkok organ tubuh di RRT terdapat gumpalan awan hitam misterius yang mencurigakan, yang sebenarnya adalah melakukan pembantaian dalam skala besar dengan menggunakan pisau bedah, dan kejahatan yang belum pernah terjadi sebelumnya di planet bumi ini masih terus terjadi.

Karena sensor berita oleh PKT dan konspirasi kepentingan lainnya, dalam soal menghadapi penindasan PKT terhadap Falun Gong serta perampasan organ tubuh ini, menghadapi penindasan HAM terbesar saat ini, media massa di seluruh dunia tidak memberikan perhatian yang seharusnya. Bungkam terhadap kejahatan, dalam level tertentu berarti telah membiarkan PKT untuk terus melakukan penindasan. Oleh karena itu, media massa utama dunia seharusnya lebih menyoroti dan memperhatikan penindasan terhadap Falun Gong oleh PKT yang masih terus terjadi di Tiongkok hingga saat ini.

Tangkap Jiang Zemin Untuk Wujudkan Negara Hukum

Pemerintahan Tiongkok saat ini sedang menggunakan “Supremasi hukum” untuk menumpas korupsi, dengan harapan dapat meningkatkan citra negeri Tiongkok serta mencapai stabilitas perkembangan negara. Tapi fakta menunjukkan, penindasan yang dilakukan oleh kelompok Jiang Zemin terhadap Falun Gong sedang merusak citra negeri Tiongkok di dalam negeri maupun di dunia internasional dari segala aspek, sekaligus juga sedang mengikis habis berbagai upaya positif yang dilakukan oleh pemerintahan sekarang.

Sebelum penindasan PKT terhadap Falun Gong dihentikan, maka mewujudkan “pemerintahan berdasarkan hukum” pun tidak akan pernah tercapai, Tiongkok selamanya tidak akan pernah bisa menegakkan hukum dan jaminan HAM. Saat ini, di Tiongkok maupun di luar negeri, sudah tercatat lebih dari 200.000 orang menggugat dalang penindasan Falun Gong yakni Jiang Zemin lewat Kejaksaan Tertinggi. Hanya dengan menjerat Jiang Zemin dengan hukum, dan mengakhiri penindasan ini secara tuntas, harapan untuk menegakkan hukum dan HAM di Tiongkok baru akan dapat terwujud. (sud/whs/rmat)

 

Share

Video Popular