Oleh: Xiao Lian

Selama perjalanan hidup, kita kadang-kadang mengalami banyak tantangan dan rintangan. Sejumlah orang merasa pedih, bingung, atau bahkan sedih. Sejumlah lainnya merasa kehilangan arah dan tidak bisa keluar dari situasi ini untuk waktu yang lama.

Ketika menenangkan diri, coba kita bertanya kepada diri sendiri, mengapa kita harus menanggapi berbagai kesulitan dengan cara seperti ini? Seorang teman pernah berkata bahwa segala sesuatu terjadi karena adanya hubungan sebab musabab di baliknya. Menurut saya, ini cukup beralasan.

Semuanya memiliki hubungan yang berkaitan, berbuat baik memperoleh pahala baik, berbuat jahat mendapat ganjaran. Ini adalah hal yang diketahui oleh orang umum. Oleh karena itu, kita tidak perlu terlalu khawatir akan berbagai hal yang datang silih berganti.

Selain itu, banyak orang bijak menyadari bahwa segala hal yang terjadi di dunia ini hanyalah seperti sebuah mimpi. Baik buruk, untung rugi selalu menemani seseorang. Seringkali ketika kejadian buruk terjadi, mungkin hal baik sedang menanti. Begitu juga sebaliknya. Dari perspektif ini, penderitaan atau kejadian yang tidak diinginkan dalam hidup bisa menjadi kesempatan untuk menempa diri untuk menyongsong hari yang lebih baik.

Ketika mengalami sesuatu yang negatif, jika kita bisa bercermin pada diri dan memperlakukannya sebagai kesempatan untuk menyingkirkan kekurangan, maka kita akan menjadi lebih tabah dan dewasa. Maka, kejadian dan penderitaan yang dialami tidak akan terjadi dengan sia-sia.

Bahkan, jika kita menggunakan kemampuan dan kebijaksanaan kita, kita dapat menanggapi berbagai kejadian dengan cara yang sederhana. Dalam sebuah artikel, seorang kultivator menulis, “Kesederhanaan adalah semacam kebijaksanaan”. Menurut saya, kesederhanaan bukan hanya semacam kebijaksanaan tetapi juga merupakan manifestasi dari taraf jiwa dan pikiran seseorang. Setiap kali menghadapi sesuatu, jika kita jernih akan apa yang harus disyukuri dan apa yang harus direlakan, maka kita akan mampu menangani berbagai hal dengan belas kasih, dan bukannya dengan emosi.

Dari perspektif lain, bila kejadian tidak menyenangkan terjadi, kita harus menjadikan ini sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Dengan cara ini maka kita dapat memanfaatkannya agar kita bisa melangkah lebih baik di masa yang akan datang.

Jika seseorang dapat tetap tenang, meski mengalami berbagai kejadian tidak menyenangkan, maka orang ini memiliki hati yang luas bagai samudera. Karena itu, mereka bisa berkonsentrasi pada hal-hal yang mereka rencanakan dan mampu tetap berpikir jernih dalam setiap keadaan.

Ketika seseorang hidup di lingkungan duniawi tetapi pikirannya melampaui hal-hal duniawi, maka kehidupan akan dirasakan berbeda. Oleh karena itu, terlepas dari bagaimana rasa sakit dan kesulitan yang kita rasakan, kita harus mempertahankan sebuah sikap yang positif. Bila ini tercapai, kita akan menjadi dewasa dengan hati penuh cahaya dan harapan, dan bukannya merasa sedih dan pedih. Ini akan menghasilkan perubahan mendasar dalam persepsi hidup seseorang. Saat itu, orang tersebut benar-benar akan mengerti apa kebahagiaan itu sebenarnya dan mengakui pentingnya memiliki sebuah hati yang belas kasih. Berharap orang lain untuk percaya dan memaafkan kita, maka kita harus percaya dan memaafkan orang lain terlebih dahulu.

Ketika kita menjalani hidup seperti ini, maka hati kita akan menjadi ringan dengan sebuah bibir yang tersenyum bagi dunia. (Pureinsight.org)

Share

Video Popular