Keterangan foto: Dana Moneter Internasional (IMF), pada 30/11 sepakat untuk menambahkan mata uang yuan ke dalam keranjang mata uang. IMF mengatakan langkah tersebut akan membuat SDR lebih beragam. Media asing berpendapat bahwa hal itu tidak mampu mencegah tren devaluasi Ren Min Bi. (Yu Gang / The Epoch Times)

Oleh: He Qinglian

Mata uang RMB (singkatan dari Ren Min Bi, mata uang Yuan – RRT) “masuk keranjang mata uang” bukanlah karena RMB memenuhi kriteria aturan yang ditetapkan oleh IMF. Baik IMF maupun Amerika Serikat sama-sama lebih mempertimbangkan semacam faktor politis.

Sejak April tahun ini, menurut berita Reuters, Wakil Direktur Pertama IMF Lipton saat diwawancara media asing menyatakan, menghadapi permohonan RRT yang berharap agar IMF memasukkan mata uang RMB ke dalam SDR (Special Drawing Rights-red.), pada pengawasan tertentu di masa mendatang IMF mungkin akan mengubah sejumlah kriteria untuk membantu mata uang RMB masuk ke dalam keranjang mata uang SDR ini. Pada saat Presiden Obama yang memiliki hak veto satu suara di IMF menyatakan mendukung RMB masuk ke dalam keranjang SDR, maka hal ini pun telah menjadi keputusan akhir. Tapi opini dari pihak ofisial RRT masih saja menganggap hal ini sebagai suatu kemenangan besar RRT atas AS, seluruh hasil “pampasan perang” pun dibeberkan satu persatu, mulai dari berbagai keuntungan baik yang konkrit maupun semu, baik jangka pendek maupun jangka panjang, satu persatu diperlihatkan. Seberapa konkrit hasil pampasan perang ini? Mari kita lihat analisanya.

Mimpi RRT 1: RMB “Masuk Keranjang mata uang”, Investor dan Bank Berbagai Negara akan Dukung

Dalam ilustrasi foto pada Phoenix Network berjudul “Perubahan Apa Yang Bakal Dialami Aset RMB?” dipaparkan 3 hal. Pertama, setidaknya akan ada devisa asing sebesar USD 1 trilyun (13.782 triliun rupiah) akan beralih menjadi aset RRT. Keuda, dalam 5 tahun mendatang, perusahaan asing di RRT akan menerbitkan surat hutang dalam mata uang RMB, mungkin akan melampaui angka USD 50 milyar (689 triliun rupiah). Ketiga, biro manajemen devisa asing di Bank Sentral berikut para investor institusi akan berharap agar dapat menimbun aset yang didenominasi dengan RMB.

Uraian di atas bukan prediksi eksklusif oleh Phoenix Network saja, banyak pihak lain yang juga mengatakan hal yang sama. Kesimpulan umumnya adalah: mata uang yang dimasukkan ke dalam mekanisme SDR biasanya dipandang sebagai mata uang lindung nilai (hedge fund -red.), yang tidak diragukan lagi akan menjadikan RMB menjadi luas penggunaannya baik antar instansi pemerintah maupun pihak swasta secara global, juga akan mengubah struktur penempatan aset di seluruh dunia, rasio penempatan aset dalam mata uang RMB akan meningkat tajam. Dalam hal ini prediksi yang dikutip secara luas adalah prediksi dari Becky Liu selaku analis suku bunga senior Asia dari Standard Chartered Bank. Diperkirakan setelah SDR, dalam 5 tahun mendatang, RRT akan menarik penempatan dana asing sebesar RMB 4-7 trilyun (8.592 – 15.037 triliun rupiah) pada pasar obligasi RMB, dan tahun depan aliran dana asing yang akan mengalir masuk diperkirakan sekitar RMB 500 milyar (1.074 trilliun rupiah).

Menurut rancangan IMF, SDR hanya semacam “emas kertas”, merupakan semacam penempatan mata uang yang diciptakan secara imajiner untuk diberikan penggunaannya pada setiap negara, dan bukan merupakan mata uang yang beredar sesungguhnya. Kegunaan SDR bagi setiap negara ada tiga, yakni:

  1. Bisa mengajukan permohonan penukaran mata uang dengan negara yang dituju, setelah disetujui akan ada metode pembayaran cadangan pada saat cadangan aset tidak mencukupi.
  1. Ketika terjadi defisit neraca pembayaran pada anggota IMF, maka IMF akan menunjuk salah satu negara anggota untuk menerima SDR negara defisit itu, menukarkan SDR yang dimiliki negara tersebut untuk menutupi defisit untuk membayar kredit berikut bunga yang disediakan oleh IMF.
  2. Bertransaksi di dalam internal IMF.

Dimasukkannya RMB ke dalam SDR dan dipandang sebagai bagian dari “reformasi”, alasan utamanya adalah karena RMB dipergunakan secara luas dalam perdagangan internasional, memasukkan RMB ke dalam keranjang mata uang akan membuat pembentukan SDR menjadi semakin rasional, dapat membuat SDR lebih representatif dan inklusif, sehingga membuatnya menjadi aset cadangan yang lebih menarik. Ungkapan ini sangat benar secara politik. Tetapi, mengingat statusnya yang terpinggirkan dari sistem mata uang global SDR ini, masuknya RMB apakah mampu mengubah peta penempatan aset global, masih harus menunggu tindakan nyata dari para investor institusi dan bank sentral berbagai negara apakah “berniat menyimpan” aset ini atau tidak.

Syarat Terwujudnya Mimpi: Bank Sentral Setiap Negara Pilih RMB sebagai Cadangan

Impian RRT ini telah mengabaikan satu hal krusial, yakni: IMF tidak mengharuskan 188 negara anggotanya untuk menempatkan cadangan devisanya secara proporsional sesuai dengan rasio SDR di dalam keranjang mata uang itu. Artinya, para investor institusi atau perorangan juga tidak akan menempatkan dananya sesuai dengan rasio SDR, melainkan akan memilih secara rasional. Pilihan rasional seperti ini berlandaskan pada karakter dan kegunaan SDR.

Singkatnya, masuknya RMB ke dalam SDR, tidak berarti bank sentral semua negara akan lantas menjual USD lalu membeli RMB untuk dijadikan cadangan devisa. Sebelum RMB masuk ke dalam keranjang itu, di dalam keranjang SDR hanya ada mata uang USD, GBP, Euro, dan JPY, setelah RMB masuk ke dalam keranjang mata uang menjadi salah satu mata uang cadangan, hanya memberikan satu pilihan tambahan bagi para investor dan bank sentral. Namun untuk menjadikan RMB sebagai cadangan devisa, sepenuhnya tergantung pada pilihan masing-masing bank sentral berbagai negara. Menurut data IMF, saat ini sebanyak bank sentral di 38 negara dan regional telah mengumumkan memiliki aset mata uang RMB, dengan total nilai sekitar RMB 780 milyar (1.676 triliun rupiah), atau sekitar 1,1% dari seluruh aset cadangan dunia. Saat ini aset cadangan dunia adalah sekitar USD 11,3 trilyun (155.847 triliun rupiah) dan rasio mata uang USD sedikit di bawah 64%, rasio Euro sekitar 21%, GBP sekitar 4,1%, dan JPY sekitar 3,4%.

Laporan struktur cadangan devisa asing IMF mengungkap kecenderungan penyimpanan setiap bank sentral, yang akan sulit diubah dalam waktu dekat. Kredibililtas RMB belum tentu lebih tinggi daripada Euro dan JPY, ditambah lagi dengan ekonomi RRT yang sedang merosot, bank sentral berbagai negara pada dasarnya tidak akan melepaskan USD dan menggantinya dengan RMB sebagan cadangan devisa. Lihat saja Bank Sentral RRT sendiri, cadangan devisa asingnya selalu didominasi USD, sekarang RMB telah memiliki kriteria sebagai mata uang cadangan, jika bank sentral yakin pada kekuatan mata uang RMB, seharusnya bisa mengurangi cadangan USD. Tapi bank sentral belum tentu akan melakukan hal itu, karena dikhawatirkan gubernur bank sentral sendiri belum tentu yakin akan tingkat keamanan RMB untuk bisa dibandingkan dengan USD.

Bagi para investor institusi, mata uang USD tetap menjadi pilihan utama sebagai aset cadangan. Saat ini, setidaknya ada dua hambatan yang akan menghalangi para investor asing untuk menyimpan RMB, hambatan pertama adalah pengendalian RRT terhadap modal, sebelum terwujud penukaran bebas RMB dan aliran modal bebas (terutama aliran keluar), maka segala janji pemerintah RRT tidak bisa dipercaya. Hambatan kedua adalah pasar uang RRT sangat tidak transparan, sewaktu-waktu pemerintah bisa mengendalikan pasar. Juni tahun ini pemerintah berusaha mengintervensi bursa saham, kejadian ini membelalakkan mata pemodal asing. Dibandingkan dengan kedua hambatan ini, surat hutang negara AS masih jauh lebih aman.

Surat kabar “Wall Street Journal” terbitan 19 November lalu memuat artikel berjudul “Chinese Enterprises to Further Bearish Yuan”, kemudian pada 1 Desember 2015 kembali memuat artikel “RMB ‘into the basket’ Hardly Change Investors Bearish Expectation.” Kedua artikel memuat perkiraan investor Tiongkok yang memprediksi ekonomi RRT akan terus melemah, dan Bank Sentral RRT akan terus membiarkan RMB melemah. Berita ini memberitahu pembaca, “Bicara soal RMB saat ini, sebaiknya ikuti saja tindakan para pengusaha di RRT, dan jangan percaya pada pernyataan pemerintah.” (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular