Keterangan foto: Sutradara yang memilih Madonna (kiri) sangat jitu, karena penyanyi seksi itu sangat bisa meresapi perannya dan merasakan apa yang dialami Evita (kanan) yang dimasa lalunya begitu liar itu. Lagu soundtrack pada film “Evita” dengan judul “Don’t cry for me Argentina” juga sempat menjadi tren selama beberapa waktu. (wikipedia)

Oleh: Cao Changqing

Hasil pemilu Argentina diumumkan pada Minggu (22/11/2015), partai politik sayap kiri yang telah berkuasa selama 12 tahun kalah. Walikota Buenos Aires Macri yang netral cenderung pro sayap kanan dan menekankan ekonomi pasar, memenangkan pemilu. Hasil pemilu ini tidak hanya sangat bermakna bagi negara ekonomi terbesar ketiga di Amerika Latin itu, melainkan juga duel dua kubu kekuatan Amerika Latin sayap kiri dan sayap kanan, terutama dalam hal mengakhiri “paham Peron” (paham sosialisme yang berasal dari Benua Amerika), serta sangat berpengaruh dalam mendorong Amerika Latin menuju ekonomi pasar. Berikut lanjutan artikel sebelumnya.

Dengan latar belakang yang dimiliki, walikota Buenos Aires Macri mencalonkan diri dalam pilpres, menantang partai berkuasa. Ayah Macri adalah pengusaha dan konglomerat terkenal Argentina, 24 tahun lalu Macri diculik (selama 12 hari) dan dimintai tebusan, sang ayah membayar USD 2,5 juta (34,4 miliar rupiah) untuk menebus putranya. Macri juga seorang pengusaha, dan juga merupakan ketua klub sepak bola remaja Argentina. Sepak bola adalah olahraga yang paling dicintai rakyat Argentina, Macri pun menjadi orang terkenal.

Lewat pengalaman dirinya serta keluarga sebagai pengusaha, Macri yang merupakan jebolan Institut Ekonomi Wharton di AS menjadi penganut ekonomi bebas ala Barat, juga menjadi penentang kebijakan paham sosialis seperti “paham Peron”. Ia telah berkecimpung di dunia politik sejak dini, mendirikan partai politik, menjadi anggota Dewan Kongres, kemudian terpilih sebagai walikota ibukota Argentina, Buenos Aires, dengan suara cukup tinggi dan terpilih kembali.

Dalam putaran awal pemilihan presiden ini, 5 stasiun TV Argentina meremehkan Macri, dan berpendapat calon dari partai berkuasa pasti akan menang. Tapi hasil pemungutan suara menunjukkan Macri hanya tertinggal tidak lebih dari 1 poin. Karena tidak satu pun calon memenangkan suara lebih dari setengah, dilakukan pilpres putaran kedua, kali ini Macri lagi-lagi membuat kejutan bagi media dan menjadi pemenang, karena konsep kebijakan ekonomi pasar yang diusungnya mendapat sambutan dari kaum menengah, kalangan bisnis serta rakyat yang mendambakan reformasi.

Setelah Macri yang tahun ini berusia 56 tahun menjadi presiden, ekonomi Argentina jelas akan belok kanan, karena ia akan melakukan reformasi terhadap sejumlah kebijakan sayap kiri seperti kendali nilai tukar mata uang oleh pemerintah, pajak tinggi pertanian, pembatasan impor, kesejahteraan tinggi dan lain-lain. Kebijakan akan digantikan dengan pengurangan pajak, menurunkan defisit, menyeimbangkan anggaran, membuka peluang investasi, dan berbagai kebijakan ekonomi bebas lainnya, juga akan segera menghapus kendali pemerintah terhadap harga jual barang. Saat ini harga jual untuk lebih dari 400 jenis produk yang beredar di pasar swalayan di Argentina ditetapkan oleh pemerintah (bukan produsen).

Dalam hal ekonomi pemerintah Macri tidak hanya akan membuka pasar terhadap Eropa dan Amerika Serikat, dalam hal hubungan diplomatik juga akan mengubah kebijakan politik pemerintah sayap kiri sebelumnya yang lebih condong kepada Venezuela, Iran, dan negara-negara sayap kiri lainnya, serta akan memperhatikan jalinan hubungan baik dengan AS, mendukung kebijakan FTAA yang diprakarsai oleh AS. Di sisi lain Macri akan menjauhi Venezuela yang dipimpin oleh suksesor Chavez yang anti-Amerika. Macri juga pernah secara terbuka mengkritik kondisi HAM di Venezuela.

Sebagai negara ekonomi ketiga terbesar di Amerika latin sekaligus juga sebagai sarang utama sayap kiri, perubahan di Argentina kali ini karena pilpres dimenangkan sayap kanan sangat mungkin akan berimbas pada pemilihan dewan kongres Venezuela bulan depan (6/12), akan memotivasi kaum reformis dan kelompok sayap kanan untuk menyingkirkan Chavez yang menganut sosialisme dan anti-AS, agar Venezuela juga mengalami perubahan seperti Argentina. Dan jika ini terwujud, maka akan berdampak sangat besar terhadap keseluruhan peta politik di Amerika Latin.

Selama bertahun-tahun kebanyakan negara di Benua Amerika dikuasai oleh kaum sayap kiri, sementara negara yang pro-Amerika hanya sedikit seperti Columbia, Honduras, Panama, Paraguay dan lain-lain. Setelah Chile di bawah pemerintahan rezim Allende yang pro-Soviet dan paham Marxisme digulingkan, meski melalui 16 tahun pemerintahan orang kuat politik yakni Jendral Pinochet, pada akhirnya sayap kiri bangkit kembali, mengakibatkan pemerintahan sayap kiri berkuasa 4 periode selama 19 tahun. Lima tahun lalu capres sayap kanan Sebastian Pinera, seorang ekonom bebas, mengalahkan calon dari sayap kiri. Tapi karena hukum menentukan masa jabatan presiden hanya satu periode (bisa mencalonkan diri lagi setelah dua periode), “Ibu Chile” Bachelet, presiden wanita sayap kiri mencalonkan diri lagi dan terpilih menjadi presiden. Dari sini bisa dilihat betapa sulitnya bagi kaum konservatif yang menganut ekonomi bebas di Amerika Latin untuk bisa terpilih dan memerintah.

Di negara besar Amerika Latin seperti Brazil (jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa), setelah presiden sayap kiri Lula habis masa jabatannya, Kepala Kantor Kepresidenan Nyonya Rosoff menjadi penggantinya. Dengan dukungan Lula dan media massa, Rosoff pun terpilih menjadi presiden. Dan setelah 4 tahun masa jabatan, meskipun ekonomi Brazil melambat dan suara yang menentangnya semakin berkobar, tapi berkat dukungan sayap kiri Rosoff tetap melenggang ke kursi presiden, menggenapkan masa jabatan selama 8 tahun.

Sejak diperintah oleh Rosoff dari Partai Buruh, ekonomi Brazil terus memburuk, kasus korupsi pemerintah pun kian merajalela. Menurut perkiraan Bank Sentral Brazil, ekonomi Brazil tahun 2015 ini menunjukkan defisit 1,8% dan nilai tukar terhadap USD memecahkan rekor terendah selama 12 tahun terakhir. Bulan Agustus lalu meletus aksi unjuk rasa berskala terbesar di Brazil yang menuntut agar Rosoff lengser. Saat ini hasil survey warga terhadap Rosoff anjlok ke titik terendah sepanjang sejarah Brazil yakni hanya 8%.

Massa pengunjuk rasa Brazil membawa slogan: Less Marx, More Mises (kurangi paham Marxisme, tambahkan Mises), sebagai sikap menentang kebijakan ekonomi paham sosialis ala Marxisme, dan berharap agar lebih banyak diterapkan kebijakan ekonomi pasar ala sesepuh ekonomi bebas Austria yakni Mises.

Dari diakhirinya paham Peronisme di Argentina, sampai slogan ekonomi bebas ala Mises yang diteriakkan di jalan-jalan di Brazil, meskipun di Amerika Latin agama Katolik masih mendominasi, banyak warga miskin, dan sejarah kemiskinan yang berkepanjangan. Namun di era internet seperti sekarang ini, sensor berita dan informasi oleh kaum intelek sayap kiri telah berhasil didobrak, pemikiran sosialisme terus mengalami tantangan sulit yang belum pernah ada sebelumnya, paham Peron, Marxisme dan sosialisme telah dihabisi satu persatu, konsep ekonomi bebas Mises (yang sebenarnya mengutamakan hak setiap orang dan bukan dikuasai seluruhnya oleh pemerintah) akan memasuki Amerika Latin, mendorong seluruh benua Amerika melangkah menuju kemakmuran, kesejahteraan, dan semakin kuat.

Setelah kematian Evita, lewat film musika dokumenter itu, kata-kata “Don’t Cry for Me, Argentina” sangat terkenal. Namun kebijakan sayap kiri sosialisme yang dianut Evita, membuat negara tersebut miskin dan terbelakang, inilah yang sebenarnya patut ditangisi. Dan hasil pilpres kali ini, mungkin akan menjadi titik awal “Argentina Never Cry Again.” (sud/whs/rmat)

TAMAT

Share

Video Popular