Keterangan foto: Bank sentral cadangan devisa PKT mengumumkan cadangan devisa turun tak terduga telah turun pada bulan November sebesar: USD 87.200.000.000, analis percaya bahwa tren depresiasi yuan telah terbentuk. (The Epoch Times)

Oleh: He Qinglian

Mimpi RRT 2 : “RMB Akan Tantang Posisi USD”

Di dalam jiwa setiap orang Tiongkok terpendam “ideologi melampaui” (melampaui Inggris dan juga Amerika), ideologi ini bisa muncul sewaktu-waktu. Masuknya RMB ke dalam SDR meskipun hanya satu langkah kecil bagi RMB menuju globalisasi, tapi mayoritas opini Tiongkok beranggapan RMB akan melampaui USD. Sebelumnya opini RRT terus mempropagandakan: AS menghalangi RMB masuk SDR, karena takut RMB akan menantang USD dan menyebabkan USD kehilangan dominasinya di tengah sistem devisa internasional.

RMB masuk ke keranjang mata uang hanya bisa dikatakan telah mencapai posisi nominal status pembayaran internasional, tapi masih jauh dari tahap bisa menantang USD. Karena USD adalah metode pembayaran internasional yang telah terbentuk secara sejarah, merupakan perantara transaksi serta metode penyimpan nilai. Selain cadangan devisa berbagai negara terutama disimpan dalam bentuk aset USD, sebanyak 2/3 perdagangan internasional juga diperhitungkan dengan USD; transaksi besar di pasar finansial internasional sebagian besar menggunakan USD, operasional finansial semua bank sentral juga mayoritas menggunakan USD; kredit sindikasi dan pasar obligasi internasional mayoritas juga menggunakan USD atau surat hutang USD. Saat ini orang asing memiliki surat hutang dan saham RRT senilai USD 200 milyar (2.804 triliun rupiah), tapi nilai aset USD yang mereka miliki adalah USD 1,6 trilyun (22.434 triliun rupiah) atau setara dengan 80 kali lipat RMB.

Sesungguhnya mampukah RMB mensejajarkan diri dengan USD? Pihak RRT berpendapat ini hanya masalah waktu saja. Sejumlah analis ekonomi RRT secara rendah diri mengakui, saat ini RMB tidak mampu menantang posisi USD. Tapi ini maksudnya adalah: di masa mendatang, cepat atau lambat akan tiba waktunya RMB akan bisa menantang USD, hari itu mungkin akan terjadi 15 tahun lagi, atau mungkin agak lebih lama. Majalah “The Economist” beberapa waktu lalu juga pernah memprediksikan dengan nada mencemooh, “Saat ini, peran RMB di pentas internasional masih relatif kecil, tapi di awal abad ke-20 mata uang USD juga demikian.”

Prediksi dengan siklus seratus tahun sudah tidak bisa dikatakan suatu prediksi lagi, melainkan ramalan suku Maya. Tapi ramalan ekonomi untuk 20 tahun ke deapn masih bisa dilakukan. Posisi mata uang yang kuat mutlak harus ditopang dua hal, yang pertama adalah kekuatan ekonomi yang kuat sebagai jaminan dan yang kedua adalah kepercayaan negara. Dari kedua faktor ini, ekonomi RRT tidak mungkin bisa meraih pertumbuhan seperti yang dicapai oleh Amerika pada abad ke-20, pertama karena “kondisi” ekonomi RRT (keunggulan teknologi dan sumber daya) jauh ketinggalan dari AS, dan kedua karena minimnya keyakinan negara seperti AS yang berlandaskan jaminan hukum. Apalagi, ekonomi RRT saat ini telah memasuki tahap awal kemerosotan ekonomi jangka panjang, sektor industri di dalam negeri merosot, sektor moneter dilanda krisis (kredit macet dalam nilai besar kembali terjadi, perbankan bayangan kolaps), pengangguran yang tinggi terus menjadi momok, mampu atau tidak meloloskan diri dari keterpurukan ini dalam 5-10 tahun masih tanda tanya. Dalam kondisi seperti ini, sangat sulit untuk membuat bank sentral dan investor institusi untuk melepaskan USD dan digantikan dengan RMB.

Dalam seratus tahun, apa yang akan terjadi di dunia? Di dalam negeri, sejak Revolusi Xinhai (1911) sampai sekarang, telah terjadi beberapa kali pergantian kekuasaan di Tiongkok, mata uang Tiongkok dari pemerintahan warlord telah berubah menjadi uang kertas pemerintah nasionalis, kupon Jinyuan, sampai Renminbi. Di dunia juga telah terjadi dua kali perang dunia dan satu kali perang dingin, mengalami tiga gelombang demokratisasi serta Arab Spring, di dalam sejarah moneter internasional juga terjadi perubahan besar, Pound Sterling Inggris merosot menjadi mata uang kedua, mengalami kemakmuran dan kemerosotan dari sistem Bretton Woods, mata uang di dalam keranjang IMF itu juga telah mengalami tiga kali perubahan, sudah tidak banyak orang yang ingat bahwa mata uang Lira Italia dulu sempat menjadi salah satu mata uang cadangan gelombang pertama.

Oleh karena itu, pernyataan menantang posisi USD, para “patriot” di daratan Tiongkok lebih baik menganggapnya sebagai visi untuk mewujudkan paham komunis, target jangka pendek seharusnya adalah memberi lapangan kerja bagi seluruh rakyat Tiongkok. Toh pada akhirnya sejarah pertumbuhan ekonomi dunia setelah memasuki era uang kertas hanya membuktikan satu hal: jika ekonomi suatu negara kuat maka mata uangnya akan menjadi kuat, begitu pula sebaliknya. Masuknya RMB ke dalam keranjang mata uang, bagi perekonomian RRT, daripada dikatakan telah mendapat suntikan penguat yang bisa menghidupkan orang mati, lebih tepat dikatakan telah mendapat obat penenang yang bisa menenangkan hati masyarakatnya. (sud/whs/rmat)

TAMAT

Share

Video Popular