Keterangan foto: Hasil rilis tahun 2012 poster film India “Oh My God. (Wikipedia)

Penulis: Wen Qian

Sebuah pengadilan di India, pada suatu hari tiba-tiba menerima seberkas gugatan aneh, seorang pria bernama Kanji, hendak menggugat Tuhan?

Film India “Oh My God” yang dirilis pada 2012 bernuansa relax dan kocak ini menceritakan bagaimana seorang atheis telah diselamatkan oleh Tuhan. Meskipun film ini dikategorikan sebagai drama-komedi-satir, tetapi para penonton beranggapan bahwa ini sebenarnya adalah sebuah film filosofis yang serius, yang digali adalah masalah yang berkaitan dengan “agama dan keyakinan” yang telah dalam jangka waktu lama menjadi perhatian manusia di dunia. Film ini dengan humoris menangani topik yang paling kontroversial, tapi bisa memberikan inspirasi mendalam, yang dikenal sebagai “Kuasa Tuhan.”

Kanji adalah seorang pengusaha biasa, ia seorang atheis. Bahkan di dalam tokonya, dengan cara culas menjual patung dewa-dewi dengan harga mahal kepada orang yang beriman.

Suatu hari, lantaran ia tidak puas dengan anaknya yang berpartisipasi dalam sebuah perayaan ritual besar, maka ia berbuat onar dan membubarkan perayaan itu. Kebetulan, setelah kejadian itu, terjadi gempa kecil di tempat tersebut dan anehnya hanya toko Kanjilah satu-satunya yang runtuh karena gempa.

Kanji yang bangkrut mengklaim perusahaan asuransi, namun perusahaan asuransi menyatakan bahwa toko Kanji itu runtuh karena kuasa Tuhan, sesuai dengan kontrak tidak bisa diberi kompensasi. Maka Kanji yang menemui jalan buntu memutuskan untuk pergi ke pengadilan menuntut Tuhan, dan menuntut Tuhan atau orang-orang yang mengaku sebagai wakil Tuhan – yakni organisasi keagamaan dan tokoh agama.

Dari situlah kisah mulai berkembang. Berkutat dengan tututan Kanji, beberapa pihak berkumpul dan membawa masing-masing pasukan ke pengadilan, perdebatan sengit terjadi, bahkan Gusti Allah juga sampai turun sendiri ke dunia manusia.

Adegan pertama dalam film ketika mengatur ‘Tuhan’ turun ke bumi, memberikan makna yang sangat menarik. Kanji yang disebut sebagai atheis oleh kalangan agamis, dikejar oleh sekelompok penyerang ekstrem yang menghunus pedang hendak membunuhnya, ketika tidak ada tempat untuk melarikan diri, ‘Tuhan’ berubah menjadi seorang pria tampan yang mengenakan jas dan mengendarai sepeda motor, menyelamatkannya dari mara bahaya, serta menunjukkan padanya jalan untuk pulang. Ketika Kanji bertanya kepada pria ini, kamu ini siapakah?

‘Tuhan’ menjawab, Aku adalah Tuhan.

Kanji tidak percaya, lalu mempertanyakan, mengapa tidak sekalian mengantar saya pulang sampai ke rumah?

‘Tuhan’ berkata, saya hanya memberitahu kepada orang-orang, jalan menuju pulang.

Karena tidak percaya pada Tuhan dan telah menuntut Tuhan di pengadilan, kini Kanji dijauhi kerabat dan handai taulan, semua orang menjauhi dan meninggalkannya. Disaat seperti itu, hanya ‘Tuhan’ yang menjaga disisinya. ‘Tuhan’ yang berubah menjadi manusia, tinggal di rumah Kanji, menghiburnya, membantunya dan dengan sabar membimbingnya.

Agama dan kepercayaan yang korup

Dalam sebuah wawancara televisi, Kanji melontarkan pengalaman nyata dirinya sendiri. Alasannya ia tidak percaya adanya Tuhan, adalah karena agama zaman sekarang, membuatnya seperti membeli asuransi di perusahaan asuransi, dalam rangka memperoleh perlindungan Tuhan, baru memberi sumbangan ke kuil.

Dalam film ini melalui mulut Kanji, memberitahukan kepada dunia, agama membutuhkan uang, membutuhkan persembahan, padahal Tuhan tidak membutuhkan semuanya itu. Yang dibutuhkan Tuhan adalah hati manusia, sebuah hati yang taat pada ajaran Tuhan dan sebuah hati yang ramah dan berbelas kasih.

Film itu secara satir mengungkapkan agama yang telah bermetamorfosa menjadi sebuah wajah asli yang tidak tahu malu dan serakah. Mereka menempatkan Tuhan sebagai merek dagang dan mendapat keuntungan besar dari para pengikutnya. Ketika seseorang menghalangi jalur keuangan mereka, bahkan mereka tak segan akan mengatas-namakan Tuhan, menghasut untuk membunuh.

Dalam pembelaan di pengadilan Kanji menceritakan, di kuil tertentu, ia menyaksikan banyak orang berbaris hendak mempersembahkan susu sapi kepada “Tuhan”, yang kemudian susu-susu itu dialirkan menuju ke saluran bawah tanah, sementara di luar kuil, ada banyak pengemis kelaparan. Maka ia memberikan susu yang sudah dipersiapkan untuk dipersembahkan kepada “Tuhan” (berupa sebuah patung batu hitam) kepada seorang pengemis di luar kuil. Ia pun mendapat sebuah ucapan berkah “Tuhan memberkati Anda”. Dengan demikian, Kanji beranggapan, Tuhan lebih menyukai melihat orang-orang bertindak bajik dengan tulus, daripada persembahan materi (uang, selimut atau susu) kepada kuil.

Film ini juga meminjam mulut ‘Tuhan’, mengungkapkan iman manusia zaman modern yang telah ter-distorsi. ‘Tuhan’ mengatakan kepada Kanji, mereka bukan orang yang beriman tulus, ke kuil hanya melakukan transaksi: Jika Tuhan membantu mereka mencapai permohonan yang mereka harapkan, maka mereka akan berterima kasih dengan menyumbangkan selimut dan lain sebagainya.

Manusia di akhir zaman, lupa tujuan awal mereka menyembah Tuhan adalah demi menghormati/ respek terhadap Tuhan, setiap orang memasuki kuil dengan membawa hati penuh permintaan dan tawar-menawar dengan Tuhan. Tampaknya seperti sang Pencipta itu sangat serakah, asalkan manusia menyembahnya dengan harta benda, maka Tuhan akan membantu manusia mewujudkan harapan mereka. (hui/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share
Kategori: Uncategorized

Video Popular