Keterangan foto: Hu Shuli dijuluki sebagai “wanita paling berbahaya di Tiongkok” memiliki hubungan dekat dengan Wang Qishan (tengah) dan Xi Jinping (kanan). Dia kenal dengan Xi Jinping sejak 1985 ketika masih bekerja sebagai reporter di “Worker’s Daily” dan dengan Wang Qishan, disaat masih menjabat sebagai General Manager di China Agricultural Trust and Investment Company. (Epoch Times)

Oleh: Li Fan

Pada 1 Desember 2015, mata uang RMB resmi dikategorikan oleh IMF sebagai salah satu mata uang di dalam keranjang mata uang (SDR). Menurut informasi, kebijakan memasukkan RMB ke dalam SDR ini adalah karya bersama kepala Negara Xi Jinping, PM Li Keqiang dan Gubernur Bank Sentral Zhou Xiaochuan. Editor Caixin Media bernama Hu Shuli, yang memiliki hubungan dekat dengan Wang Qishan (tangan kanan Xi dalam program pemberantasan korupsi) dan Xi Jinping, beberapa waktu lalu menulis artikel yang menyatakan, setelah bergabung dalam SDR, reformasi yang terkait dengan masalah globalisasi RMB menjadi semakin sulit dan kian mendesak. Hal ini mengisyaratkan bahwa tindakan ini akan memaksa terjadinya perubahan drastis pada perekonomian RRT bahkan terus hingga menyentuh aspek mendalam yakni “tata cara pemerintahan dan supremasi hukum.”

Pada 7 Desember 2015, artikel ulasan berjudul “Berangkat Lagi dari SDR” oleh Hu Shuli selaku editor Caixin Media dirilis. Artikel itu menyebutkan, selama beberapa tahun terakhir pemerintah Beijing terus mengupayakan globalisasi mata uang RMB, ini adalah kebijakan strategis di tengah situasi “pasca krisis moneter”. Masuknya RMB ke dalam keranjang SDR dicapai setelah melalui banyak liku-liku dan kesulitan.

Opini dari pihak luar menyebutkan, dampak dari SDR di dalam tubuh IMF sendiri tidak begitu signifikan, masuknya RMB ke dalam keranjang mata uang hanya memiliki makna simbolis semata. Dengan upaya begitu besar yang telah dilakukan hanya untuk mendapatkan “status” itu, apakah cukup layak?

Menurut Hu Shuli, pemikiran seperti ini jelas adalah pandangan yang sangat pendek dan bias. Masuknya RMB ke dalam SDR harus diupayakan sekarang, dan hasilnya akan dinikmati di masa mendatang.

Artikel menyatakan, banyak pengamat hanya memperhatikan masalah jangka pendek saja, seperti akankah hal ini mengakibatkan RMB melemah, dan berisiko modal dalam jumlah besar akan mengalir keluar. Masalah-masalah itu memang penting, tapi pihak otoritas keuangan telah menetapkan sejumlah program antisipasi. Hal yang harus lebih diperhatikan adalah manfaat jangka menengah dan panjangnya, masuknya RMB ke dalam SDR akan mendatangkan efek peningkatan jumlah penempatan modal yang akan terjadi “secara perlahan tapi pasti,” yang akan mendorong bertumbuhnya pasar moneter Tiongkok.

Menurut analisa artikel tersebut, setelah masuk ke dalam SDR, reformasi terkait dengan masalah globalisasi RMB akan menjadi semakin sulit, kian hari akan kian menyentuh segala kecurangan pada sistem yang lebih dalam, gagal atau suksesnya kebijakan ini akan sangat terkait pada koordinasi reformasi dari berbagai sektor lainnya. Menghadapi risiko mengalir keluarnya RMB, pasar keuangan Tiongkok dituntut untuk memiliki kedalaman dan keluasan yang memadai untuk menerima dan mengeluarkan modal yang akan keluar masuk dalam jumlah besar. Misi untuk membangun pasar obligasi dan bursa saham menjadi sangat mendesak.

Akan tetapi dalam hal pengawasan keuangan, akses pasar, dan penataan perusahaan lembaga keuangan, masih sangat jauh dari pasar maju yang ideal, perlu dilakukan banyak reformasi untuk menopangnya. Mampu tidaknya mekanisme penyampaian kebijakan moneter berfungsi sempurna, mampukah nilai tukar RMB pada akhirnya sama sekali tidak diintervensi oleh pemerintah, bagaimana mengatasi masalah pencucian uang setelah rekening modal dibebaskan, sampai penggelapan pajak dan pendanaan bagi teroris, industry pelayanan finansial apakah dapat dibuka bagi asing dan berbagai tantangan lainnya, semua terkait pada reformasi BUMN, peningkatan struktur industri, sampai ke masalah stabilitas sosial dan berbagai masalah terkait lainnya. Dibandingkan dengan tuntutan mendesak untuk mengembangkan ekonomi masyarakat Tiongkok, bukan karena reformasi di sektor moneter terlalu cepat, melainkan sektor lainnya bergerak terlalu lamban, reformasi sektor lain harus segera mengejar ketertinggalannya.

Di akhir artikel itu disebutkan, masa depan globalisasi mata uang suatu negara, tampak dari luar adalah ditentukan oleh tingkat keyakinan serta tingkat penerimaan pasar global terhadap mata uang tersebut. Namun sesungguhnya kuncinya terletak pada penetapan aturan dan hukum terhadap tata kelola pemerintahan, hukum dan lain-lain. SDR membawa Tiongkok ke dalam pusat pengelolaan finansial dunia, yang menuntut penetapan kebijakan Tiongkok harus dibuat sesuai dengan kriteria internasional yang lebih tinggi. Pilihan dan upaya Tiongkok ini akan membentuk masa depan Tiongkok kelak, yang juga akan berpengaruh pada masa depan dunia.

Artikel oleh Hu Shuli tersebut mengisyaratkan bahwa setelah RMB dimasukkan ke dalam SDR, kriteria pada sektor finansial dan berbagai sektor terkait lainnya akan semakin tinggi, yang akan memaksa terjadinya perubahan sistem pada perekonomian Tiongkok bahkan hingga ke tingkatan yang lebih dalam yakni “tata kelola pemerintahan dan supremasi hukum.”

Hu Shuli dijuluki sebagai “wanita paling berbahaya di Tiongkok”, dan memiliki hubungan dekat dengan Wang Qishan dan Xi Jinping. Caixin Media yang didirikannya dianggap sebagai media yang pro terhadap kubu Xi Jinping. Menurut informasi, hubungan Xi Jinping dengan Hu Shuli cukup istimewa. Pada 1985, Hu Shuli diutus oleh surat kabar “Workers’ Daily” ke Xiamen sebagai reporter setempat, waktu itu Xi Jinping menjabat sebagai wakil walikota Xiamen, keduanya telah saling berhubungan saat itu. Pada 2009 setelah meninggalkan surat kabar “Finance and Economics”, Hu Shuli segera membentuk panggung media baru, salah satunya adalah tabloid “Finance Newsweek” yang mendapat dukungan dari Xi Jinping yang kala itu menjabat sebagai Sekprov Zhejiang, dan dimodali oleh surat kabar “Zhejiang Daily.”

Saat masih menjabat sebagai General Manager di China Agricultural Trust and Investment Company, Wang Qishan telah mengenal Hu Shuli. Dan setelah Hu mendirikan Caixin Media, berkat dukungan dari Wang Qishan, majalah “China Reform” dari Hainan juga ikut di-merger. Beberapa tahun terakhir, mulai dari aksi pemberantasan korupsi “menggebuk macan”, sampai berita ekonomi dan berbagai reformasi kebijakan sosial masyarakat lainnya, Caixin Media selalu memberitakannya dengan sangat mendalam dan sangat terarah. Belum lama ini Caixin Media lagi-lagi mempublikasikan pernyataan sensitif mengenai perubahan politik di Tiongkok.

Xi Jinping, Li Keqiang, Zhou Xiaochuan Bersatu Masukkan RMB ke Dalam SDR

Pada 1 Desember 2015, IMF memasukkan RMB ke dalam keranjang SDR. Pada 4 Desember 2015, surat kabar “Economic Daily” Hongkong memberitakan, awal tahun ini ketika IMF mulai melakukan tinjauan rutin 5 tahun sekali terhadap SDR, para petinggi Xi Jinping dan Li Keqiang berpendapat bahwa ini adalah peluang emas bagi RMB untuk masuk ke dalam SDR, sehingga segera dilakukan pengaturan secara besar-besaran, terutama membentuk tim khusus yang bertanggung jawab untuk misi “masuk ke dalam keranjang.” Dan tim ini dipimpin oleh Gubernur Bank Sentral yakni Zhou Xiaochuan, sementara wakil Gubernur Bank Sentral yang merangkap sebagai Direktur Badan Pengawas Valuta Asing Nasional yakni Yi Wang bertanggung jawab untuk pengaturan pekerjaan konkrit.

Berita menyebutkan, pihak Tiongkok dan departemen IMF yang terkait beberapa kali menggelar perundingan teknis sepanjang tahun ini, yang pada akhirnya menyimpulkan sejumlah program reformasi yang konkrit untuk menyelamatkan kerangka yang tidak menyeluruh dalam kebijakan moneter atas RMB. Berkat lampu hijau yang diberikan oleh Xi dan Li, bank sentral bersama dengan komisi terkait Majelis Negara yang ikut andil memberi dukungan, akhirnya sejumlah masalah teknis terkait masuknya RMB ke dalam keranjang SDR dapat teratasi.

Berita menyebutkan, kekuatan reformasi moneter di Tiongkok tahun ini yang tiba-tiba membesar, ternyata berkaitan dengan masuknya RMB ke dalam keranjang mata uang. Berawal dalam hal akses pasar moneter, di antaranya sistem pembayaran lintas wilayah (CIPS) dengan RMB periode pertama diterapkan di Oktober secara online di Shanghai Kedua dalam hal marketisasi suku bunga, di Oktober batas atas suku bunga tabungan akhirnya dibebaskan. Ketiga, dalam hal reformasi nilai tukar , pada 11 Agustus 2015 Bank Sentral telah mengeluarkan reformasi aturan penetapan harga tengah kurs RMB. Keempat, memperbesar transparansi, di Oktober lalu RRT mengumumkan akan menggunakan sistem SDDS yang diterima oleh IMF, dan mulai melaporkan data terkait cadangan devisa asing kepada IMF.

Komentator situasi dan politik bernama Xie Tianqi minggu lalu membuat analisa terhadap situasi terkini di RRT. Pada saat pemberantasan korupsi di sektor moneter di Tiongkok sudah begitu mendalam serta krisis ekonomi yang kian menonjol ini, masyarakat internasional justru menerima RMB untuk masuk ke dalam keranjang SDR. Hal ini membuat pemikiran masyarakat mengaitkannya dengan pemaksaan terhadap reformasi ekonomi Tiongkok. Di balik semua ini seharusnya sangat erat kaitannya dengan hubungan diplomatik internasional yang sangat gigih diperjuangkan oleh Xi Jinping dan Li Keqiang begitu keduanya berkuasa. Selain tindakan reformasi ekonomi dan pemberantasan korupsi, apakah perubahan ekonomi politik yang dilakukan oleh pemerintahan Xi Jinping ini mampu mendapat kepercayaan internasional secara lebih mendalam, adalah hal yang patut disoroti.

Xie Tianqi menambahkan, telah terungkap sisi gelap sektor moneter erat kaitannya dengan kelompok Jiang Zemin, menandakan pembersihan besar-besaran oleh pemerintahan Xi Jinping terhadap sistem moneter pasti akan dilakukan. Masuknya RMB ke dalam keranjang SDR mungkin menandakan bahwa Xi Jinping akan segera membentuk suatu sistem tatanan moneter yang sama sekali baru untuk bisa menghubungkan Tiongkok dengan dunia internasional. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular