Keterangan foto: Serangan udara militer koalisi ke Raqqa, Suriah pada 6 Desember berhasil menewaskan sedikitnya 32 orang tentara IS. (foto John Moore/Getty Images)

Oleh Li Modi

‘The Guardian’ Inggris baru-baru ini memperoleh sebuah dokumen internal organisasi Islamic State/ IS yang berisikan penjelasan tentang visi negara pendirian Islamic State. Menguraikan bagaimana mendirikan negara di tanah Suriah dan Irak. Media menyebut viisi pendirian tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Mao Zedong dulu.

The Guardian menulis bahwa isi dokumen selain menyangkut ekspansi kekuatan militer, juga termasuk kemampuan medis, perdagangan, kesempatan kerja dan sebagainya. IS juga berencana untuk membentuk pemerintahan di Suriah dan Irak, mengembangkan hubungan diplomatik, mengendalikan produksi minyak serta bagian lain dari ekonomi dan pasar.

Jenderal (Purn) AS Stanley McChrystal yang memimpin militer AS untuk membantu menghancurkan organisasi pra-Islamic State di Irak, antara 2006 – 2008, kepada The Guardian mengatakan bahwa visi pembentukan Negara Islam (IS).

“Setali tiga uang dengan apa yang dilakukan oleh Mao Zedong, juga mirip dengan cara Ho Chi Minh dalam membentuk Liga Kemerdekaan Vietnam (Viet Minh) di Indo-China,” sebut McChrystal.

Dalam buku panduan pembentukan Islamic State itu juga terdapat penjelasan tentang cara mengelola markas militer. Namun, kompleksitasnya melebihi rencana persiapan serangan 11 September al-Qaeda. Para ‘tentara senior’ diwajibkan untuk mengikuti latihan militer paling tidak 1 kali dalam seminggu, mereka harus menguasai pemakaian senjata, mengetahui teknologi militer yang dimiliki Negara lain, juga perlu belajar cara menggunakannya.

Buku panduan juga menyebutkan, Islamic State bermaksud membentuk satu budaya terpadu yang menampung budaya asing dan masyarakat setempat. Mendirikan pabrik independen yang memproduksi perlengkapan militer dan makanan dalam rangka mencapai swasembada, untuk penduduk setempatt yang membutuhkan. IS perlu memiliki sebuah “wilayah karantina yang aman.”

McChrystal mengungkapkan, melalui buku panduan tersebut bisa dilihat bahwa IS memperhatikan pendidikan (yang sebenarnya merupakan indoktrinasi) yang prosesnya dilakukan secara bertahap tetapi sudah dimulai sejak seseorang berusia balita. IS mementingkan efektivitas dari pemerintahan, sedang berpikir untuk memanfaatkan teknologi sebagai alat propaganda dan untuk mengikuti perkembangan informasi. mereka juga mau belajar dari kesalahan yang dibuat dalam gerakan-gerakan yang lalu.

Seorang peneliti IS bernama al-Tamimi mengatakan, IS akan membentuk negara yang tidak hanya melulu untuk berperang, tetapi juga berusaha untuk merealisasikan proyek-proyek yang ditetapkan sebagai haluan negara. Menurut pengungsi yang melarikan diri dari daerah yang diduduki organisasi IS, bahwa di sana pajak dipungut terlalu tinggi dan pengelolaannya acak-acakan.

Meskipun IS mengakui pemerintahan mereka dibentuk atas dasar kekerasan brutal, tetapi rancangan program pendidikan, kesehatan, perdagangan, transportasi dan kesempatan kerja tidak berbeda terlalu jauh dengan negara-negara modern.

Awalnya, Aymenn al-Tamimi memperoleh satu bundel dokumen berisi 24 halaman yang ditulis beberapa bulan setelah pembentukan pemerintahan yang disebut Khalifah pada bulan Juni 2014. Judul dokumen itu adalah tentang Asas dalam Wilayah Administrasi Negara Islam (Principles in the administration of the Islamic State). Al Tamimi mengumpulkan seluruhnya 300 dokumen yang berisikan bagian dari informasi internal IS. Ia memberikan sebagian dari dokumen itu keepada seorang pedagang, dan The Guardian kemudian memperoleh dari pedagang tersebut dokumen-dokumen itu.

Setelah serangan terror di Paris pada 13 November lalu yang menyebabkan ratusan orang tewas dan luka-luka, militer koalisi yang dipimpin oleh AS mengintensifkan serangan udara ke wilayah yang diduduki IS.

Mereka telah menghancurkan sejumlah truk tangki minyak dan ladang minyak di Suriah dan Irak, memukul sumber pendapatan penting bagi organisasi IS. Pejabat intelijen dan ahli kontra-terorisme AS mengatakan, sumber ekonomi IS termasuk penjualan minyak, pemerasan, penyelundupan dan pemungutan pajak setidaknya menghasilkan lebiih dari USD. 2 juta setiap hari.

Pasukan pemerintah Irak pada 8 Desember lalu mengumumkan bahwa mereka telah berhasil merebut kembali 60% dari kota Ramdi yang direbut IS pada Mei tahun ini. Di antaranya termasuk sebuah pangkalan militer strategis. Pada hari yang sama, pihak berwenang AS dalam pernyataannya mengakui serangan udara berhasil menewaskan seorang pemimpin IS untuk Libya. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular