Keterangan gambar: Ilustrasi

Oleh Central News Agency Jakarta

Pakar terorisme menyebutkan bahwa Islamic State/ IS sedang membina anak-anak agar bisa terlibat dalam kegiatan terorisme. kamp pelatihan untuk itu sudah ada di negara Asia Tenggara seperti Indonesia dan Filipina, di antara anak-anak yang mengikuti pelatihan khusus untuk menjadi tentara IS itu, terdapat anak berusia 2 tahun.

Beberapa media Indonesia mengutip ucapan Wakil Kepala Divisi Anti terorisme Kepolisian Malaysia, Ayob Khan memberitakan bahwa dapat dipastikan ada sedikitnya 2 kamp pelatihan yang berada di luar markas besarnya Suriah dan Kazakhstan yang sudah mulai memberikan pelatihan kepada anak-anak untuk menjadi tentara IS.

Kegiatan yang diberikan dalam kamp itu termasuk melatih anak-anak terlibat dalam pertempuran bersenjata. Anak-anak selain memperoleh pendidikan yang cuci otak, juga dilatih untuk memakai senjata api, bertarung satu lawan satu dan sebagainya.

Menurut Ayob Khan bahwa sudah ada sekitar 500 orang anak yang ikut dalam pelatihan mereka, usia yang paling kecil adalah 2 tahun. Salah satu kamp pelatihan itu khusus menerima anak-anak dari Asia Tenggara termasuk Malaysia, Indonesia dan Filipina.

Ia mengatakan bahwa di Indonesia dan Filipina selatan telah ada kamp pelatihan serupa, sehingga tidak menutup kemungkinan di Malaysia juga memiliki kamp ini. Para peserta sangat mungkin untuk ikut merancang serangan teror, melakukan serangan atau merekrut lebih banyak anggota baru untuk bergabung dengan apa yang disebut ‘jihad’ setelah mereka selesai mengikuti pelatihan dan kembali ke daerah asal.

Dalam perekrutan darah baru menurut Ayob Khan bahwa dengan berkembangnya jaringan internet, siapa saja jadi mudah untuk berhubungan dan mendapat informasi yang berhubungan dengan kegiatan IS. Selain itu, propaganda IS juga menarik minat, sehingga banyak orang yang memang mudah tergoda menjadi terpengaruh olehnya.

Ayob Khan juga mengatakan, menurut hasil survei bahwa IS melalui sosial media seperti Facebook dan Twitter setiap harinya menerbitkan sekitar 40 ribu tulisan atau komentar pada beberapa tahun yang lalu. Saat ini angka itu sudah melonjak menjadi 100 ribu. Kita bisa melihat mereka sangat pandai untuk memanfaatkan internet demi kepentingan perkembangan mereka. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular