Kisah Levitasi Dalam Sejarah yang Disaksikan Banyak OrangLevitasi didokumentasikan secara rinci dalam kasus Saint Joseph dari Copertino, yang dianggap sesuatu yang mengusik oleh Gereja. Tidak ada alasan bagi Gereja untuk memalsukan kasus ini. (Public Domain / Wikipedia Commons)

Oleh: Tara MacIsaac – Epoch Times

Dalam rubrik Beyond Science, Epoch Times mengeksplorasi penelitian dan kasus yang terkait dengan fenomena dan teori-teori yang menantang pengetahuan kita saat ini. Kami menyelidiki ide-ide yang merangsang imajinasi dan membuka berbagai kemungkinan baru.

Levitasi adalah kasus mengapung, terbang melayang di udara, sebuah kondisi yang berlawanan dengan prinsip gravitasi secara umum. Banyak akademisi dan sarjana enggan menggali catatan sejarah levitasi dan bentuk lain dari psikokinesis. Namun, berbeda dengan sarjana kebanyakan, Dr. Michael Grosso, justru mengangkatnya sebagai topik bahasan yang sangat penting. Menurutnya, implikasi dari sifat bawaan dan potensi laten manusia sama pentingnya dengan memahami sejarah, masa sekarang dan masa depan.

“Bagi saya… jika cerita tentang levitasi adalah benar… ia penting setidaknya untuk satu alasan utama,” kata Grosso. ” Ia menambah bukti yang membuat teori materialisme tidak dapat dipertahankan.”

“Selama ribuan tahun, masyarakat manusia memiliki berbagai metode untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta,” katanya. Namun, dalam beberapa ratus tahun terakhir, manusia telah semakin berubah menuju ke arah materialisme absolut, menyangkal sesuatu yang belum terjangkau secara fisik. Mereka menjauhi dunia imajiner, dan mendasarkan segalanya pada pengalaman nyata.

“Ada jalan kembali menuju dimensi puitis, magis, dan transenden dari pengalaman manusia,” kata Grosso. Dr. Grosso menerima gelar doktor filsafat dari Universitas Columbia dan secara non formal berafiliasi dengan Divisi Studi Perseptual di Universitas Virginia. Dia menyelesaikan sebuah buku tentang kasus levitasi yang menurutnya, memberi setiap indikasi sebagai asli. Penerbitan bukunya ada di bawah kontrak Oxford University Press, tetapi kontraknya diakhiri ketika ia menolak untuk menurunkan nada tentang klaim levitasi. Buku ini kemudian diterbitkan oleh Rowman & Littlefield dengan judul, “The Man Who Could Fly: St. Joseph of Copertino and the Mystery of Levitation.”

St. Joseph dari Copertino (1603-1663) kadang-kadang melayang beberapa inci di atas tanah, kadang-kadang terbang tinggi di udara di depan kerumunan orang banyak di seluruh Italia. Proses kanonisasi gereja melibatkan investigasi mendalam, sehingga banyak catatan tertulis, termasuk 150 testimoni saksi mata, disertakan untuk memberikan informasi rinci tentang levitasi Copertino ini.

Sejumlah orang pada masa sekarang mungkin cenderung mengabaikan kasus ini, dan menganggapnya sebagai khayalan dan delusi dalam agama atau takhayul terbelakang dari masyarakat yang relatif primitif. Tapi, Grosso mengatakan, “Sebuah fakta merupakan entitas yang tak pudar oleh waktu.”

Berbicara akan kemungkinan adanya keberatan dari para skeptis, ia berkata: “Itu tidak berdasar, tidak selama 35 tahun, dan semua saksi yang memberi testimoni… kualitas dari para saksi adalah tokoh kaliber teratas, seperti kardinal, paus, dan para penyidik itu sendiri.”

Gereja pada saat itu tidak punya motif untuk menyebarkan berita palsu dari seorang pelaku mukjizat, kata Grosso. Tidak ada alasan untuk percaya bahwa catatan gereja memberikan sesuatu yang lain, selain fakta-fakta yang memang sulit dicerna. Copertino menerima banyak penolakan dari Gereja, sama banyaknya dengan pengakuan yang ia terima selama beberapa dekade. Dia dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain dan menerima peringatan keras akan perilaku melayangnya. Mungkin ini disebabkan karena pada waktu itu ia punya kemampuan dan pengaruh kuat untuk menarik banyak pengikut ke mana pun ia pergi.

Copertino bahkan dibawah semacam tahanan rumah ketika berada di Roma, pada kurun waktu yang sama dengan tokoh terkenal Galileo Galilei, meski untuk alasan yang sangat berbeda. Yang satu adalah sebagai pelaku mistik, sedangkan yang satu lagi adalah tokoh pendorong dari ilmu pengetahuan modern, kedua orang ini dipandang dengan ketidakpercayaan.

Gereja bisa dengan mudah memberi Copertino label sebagai orang sesat, dan bukan orang suci. Mereka bisa mendefinisikan levitasi sebagai gejala dari kerasukan roh jahat. Memang benar dia diadili. Tapi, kata Grosso, para penyidik “dapat melihat bahwa orang ini tidak punya motif tersembunyi, ia benar-benar rendah hati, dan ia merasa malu dengan kemampuannya.”

Dia tidak sengaja melayang. Dia terangkat ketika dalam keadaan ekstasi. Pada titik tertentu saat misa, Copertino tampaknya menjadi seperti begitu terpengaruh, ia akan memasuki kondisi kesadaran yang lain dan mulai melayang. Dia menyadari segala sesuatu di sekitarnya, meskipun ia menimbulkan sedikit kegaduhan. Ini mengganggu kemampuannya untuk melakukan misa.

Ada alasan kenapa orang pada masa sekarang tidak secara acak mengambang ketika berada pada antrean toko kelontong, kata Grosso. Copertino punya kondisi yang tepat pada masa itu. Tidak hanya ia ada dalam keadaan kesadaran yang lain, yakni ekstasi karena keyakinannya, yang tampak sebagai bagian integral dari kemampuannya, dia juga merupakan produk dari jamannya.

Ini bukan berarti bahwa orang pada waktu itu lebih mudah tertipu atau lebih mungkin untuk terpengaruh oleh suatu delusi massal. Ini karena Reformasi Gereja, budaya Baroque, praktik umum puasa dan mengasingkan diri, semua menciptakan jenis lingkungan di mana orang bisa lebih mudah memasuki kondisi kesadaran yang lain.

Itu adalah jaman yang mereformasi mental. Mungkinkah suatu peristiwa atau perubahan dalam masyarakat modern menciptakan suatu situasi yang sama?

Ini akan membutuhkan suatu “guncangan eksistensi manusia normal” secara masal, katanya, yang akan mendorong kita ke dalam keadaan kesadaran kolektif yang lebih terbuka untuk kemampuan laten kita. Dibandingkan beberapa bencana atau peristiwa traumatis, dia berharap ini bisa dicapai jika ilmu pengetahuan modern menyatu dengan pencarian kesadaran yang lebih tinggi.

Copertino dan orang- orang lain sepanjang sejarah serta di waktu kita sekarang di banyak budaya, telah menampilkan berbagai kemampuan supernormal. Copertino juga dikatakan telah menampilkan penyembuhan dan memancarkan “aroma kesucian.” Jika seorang manusia bisa mengembangkan semua kemampuan terpendam yang dilaporkan dalam berbagai kasus yang berbeda, “Apa yang akan Anda dapatkan adalah makhluk super, seperti seorang pria super atau wanita super,” kata Grosso.

Kemampuan psikokinesis mungkin tidak selalu menyolok secara dramatis seperti kasus levitasi Copertino ini. Mungkin banyak orang di seluruh dunia saat ini sedang melatih psikokinesis dalam bentuk yang lebih halus, dan mungkin tanpa mereka sadari, kata Grosso.

“Mungkinkah [kemampuan laten ini] mewakili potensi komposit evolusi masa depan umat manusia?” tanyanya. “Kita hanya bisa berharap bahwa hal seperti ini bisa terwujud menjadi sebuah kenyataan.” (Dpr)

Interview dari Michael Grosso Ph.D., pengarang buku “The Man Who Could Fly: St. Joseph of Copertino and the Mystery of Levitation.” dan Artikel asli The Epoch Times dalam bahasa Inggris bisa klik di sini.

Share

Video Popular