Kabut asap yang terjadi di Siak, Riau, Senin, 5 Oktober 2015.  (AP Foto)

JAKARTA – Laporan Bank Dunia menyebutkan kebakaran hutan dan asap tahun di Indonesia menghambat pertumbuhan PDB. Kebakaran ini juga membawa kerugian bagi Indonesia senilai Rp 221 triliun (1,9% PDB) . Jumlah ini dua kali lebih besar dari biaya rekonstruksi Aceh pasca tsunami 2004.

Bank Dunia dalam laporan laporan triwulan terakhir di 2015 yang dikutip, Kamis (17/12/2015) menyebutkan kebakaran dan asap yang disebabkan manusia dan menghabiskan dana 221 triliun rupiah bagi Indonesia hanya dalam waktu lima bulan. “Kebakaran ini turut berkontribusi terhadap perlambatan pertumbuhan PDB,” tulis laporan Bank Dunia.

Catatan Bank Dunaia, kebakaran dan asap di sejumlah provinsi di Indonesia antara bulan Juni dan Oktober 2015 menyebabkan lebih dari 100.000 kebakaran akibat perilaku manusia yang menghanguskan 2,6 juta hektar lahan, seluas empat setengah kali Pulau Bali.

Bank Dunia memperkirakan bahwa kebakaran tersebut menyebabkan kerugian setidaknya 221 triliun rupiah (16,1 miliar dolar AS) bagi Indonesia, setara dengan 1,9 persen dari PDB tahun 2015 dan lebih dari dua kali lipat biaya pembangunan kembali pasca bencana tsunami di Aceh.

Sementara akibat kekeringan yang terkait dengan El Niño dan kebakaran hutan, produksi pertanian riil menurun sebesar 4,9 persen pada kuartal ketiga tahun 2015 (quarter-on-quarter seasonally adjusted annualized rate, qoq-saar), penurunan signifikan yang pertama selama empat tahun terakhir.

Menurut Bank Dunia, Kalimantan, tempat di mana sebagian besar lahan gambut yang rawan di Indonesia berada, mendapatkan dampak terbesar, dengan penurunan PDB sebesar 1,2 persen qoq-saar pada kuartal ketiga (-5,1 persen qoq-saar di Kalimantan Timur).

Pemerintah telah menetapkan moratorium pada konsesi lahan gambut yang baru, pembatalan konsesi yang telah diberikan pada lahan yang tidak dikembangkan, dan restorasi lahan gambut. Upaya tambahan harus difokuskan pada konservasi hutan-hutan gambut yang tersisa dan menghentikan pengeringan lahan gambut maupun daerah-daerah yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi. (asr)

Share

Video Popular