Ilustrasi (AP Foto/Paul Sancya)

JAKARTA – Kementerian Perindustrian optimis tahun depan, sektor manufaktur diyakini menjadi motor penggerak pertumbuhan industri non migas. Sektor industri tersebut meliputi industri kimia, farmasi, dan obat tradisional; industri barang logam, dan peralatan listrik; industri makanan dan minuman (mamin) serta industri mesin dan perlengkapan.

Selain itu, pertumbuhan yang relatif tinggi diperkirakan terjadi pada kelompok industri kimia, farmasi dan obat tradisional sebesar 8,5 – 8,7 persen, serta industri makanan dan minuman yang diperkirakan tumbuh sekitar 7,4 – 7,8 persen.

“Perkiraan tersebut berdasarkan kemungkinan akan meningkatnya pertumbuhan industri kimia dasar di Indonesia seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang akan membaik,” katanya dalam rilis Kemenprin dalam jumpa pers akhir tahun di Jakarta, Jumat (18/12/2015). Kegiatan yang memilih tema “Kinerja Sektor Industri Tahun 2015 serta Proyeksi Pertumbuhan Sektor Industri Tahun 2016 ” ini dihadiri para pejabat eselon I dan II di lingkungan Kementerian Perindustrian.

Pertumbuhan industri kimia dasar didorong oleh naiknya kebutuhan bahan kimia dari berbagai kelompok industri, seperti industri plastik yang diperkirakan naik sekitar 8 persen dan semen yang diproyeksi naik sekitar 10 – 14 persen. Pertumbuhan yang juga relatif tinggi diperkirakan akan dicapai oleh Industri Barang Logam; Komputer, Barang Elektronik, Optik; dan Peralatan Listrik yang diperkirakan dapat tumbuh sekitar 8,0 – 8,2 persen.

Berbagai kelompok industri ini, industri barang logam bukan mesin dan peralatannya diperkirakan akan mempunyai andil paling besar dalam menyumbang pertumbuhan kelompok ini. Pasalnya, industri logam sejak 2011 cenderung mempunyai pertumbuhan nilai tambah yang tinggi, didorong tidak saja oleh permintaan ekspor tetapi juga oleh pertumbuhan investasinya yang relatif tinggi.

Sementara ekspor produk industri sampai dengan triwulan III tahun 2015 sebesar USD 81,26 miliar atau memberikan kontribusi sebesar 66,55 persen dari total ekspor nasional yang mencapai USD 115,13 miliar. Sementara itu, impor produk industri sampai dengan triwulan III tahun 2015 sebesar USD 81,53 miliar. Investasi PMDN mencapai Rp 63,60 triliun, sedangkan investasi PMA sebesar USD 8,52 miliar, sehingga nilai total investasi sampai dengan triwulan III tahun 2015 mencapai USD 13,60 miliar. (asr)

Share

Video Popular