Ilustrasi (shutterstock.com)

JAKARTA – Badan Geologi Kementerian ESDM melakukan kajian terhadap tanah bergerak yang terjadi di Jawa Tengah. Kejadian dilaporkan berada  di Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara dan Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo. Peristiwa ini menimbulkan korban jiwa dan sejumlah kerusakan.

Data yang dimiliki Badan Geologi dalam laporan resminya dikutip, Sabtu (19/12/2015) peristiwa tanah bergerak di Banjarnegara terjadi pada Senin, 14 Desember 2015. Tanah bergerak menimpa pada dua desa di Kecamatan Bawang yang menyebabkan 1 orang meninggal dunia dan 1 kandang ternak hancur.

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah di Provinsi Jawa Tengah, kedua daerah bencana termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah menengah-tinggi artinya daerah tersebut mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

Tanah bergerak ini menurut kajian Badan Geologi dikarenakan kemiringan lereng tebing yang terjal. Hujan deras yang turun dalam waktu lama sebelum dan pada waktu kejadian gerakan tanah juga menjadi penyebab. Faktor lainnya adalah tanah fisik batuan dan tanah pelapukan yang tebal, bersifat gembur, sarang dan jenuh air saat hujan turun. Selain itu, kurangnya pepohonan yang berakar kuat dan dalam pada lereng bawah juga menjadi penyebab.

Sementara gerakan tanah lainnya terjadi di Dusun Denansri RT 01 RW 03 dan RT 02 RW 03, Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Peristiwa ini diketahui terjadi pada Senin (14/12/2015). Akibatnya, sebanyak 8 rumah rusak dan puluhan kepala keluarga terancam.

Berdasarkan hasil kajian, faktor penyebab adalah kemiringan lereng tebing yang terjal; Hujan deras yang turun dalam waktu lama sebelum dan pada waktu kejadian gerakan tanah serta tanah pelapukan yang tebal, bersifat gembur, sarang dan jenuh air saat hujan turun.

Atas peristiwa di Banjarnegara dan Purworejo, Badan Geologi merekomendasikan Penduduk yang tinggal dan beraktivitas pada lokasi berdekatan mengalami longsoran, alur lembah dan alur sungai di sekitar lokasi gerakan tanah, agar selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap longsor susulan, terutama pada saat dan setelah turun hujan. Masyarakat sekitar juga direkomendasikan tidak melakukan aktivitas di atas, pada dan di bawah lereng pada saat dan setelah turun hujan. Warga juga diimbau untuk tidak mendirikan rumah atau bangunan di atas, pada dan di bawah tebing. (pvmbg/asr)

Share

Video Popular