Keterangan foto: Setelah memasuki musim dingin, sebagian besar wilayah utara Tiongkok, termasuk Beijing terjebak dalam kabut tebal yang tak kunjung reda, kini membuat pejabat PKT lemah tak berdaya, dan terpaksa memohon kepada Langit untuk meniupkan angin. Foto nampak Istana Terlarang Beijing disaat terkepung asbut (atas) dan ketika kondisi cuaca normal (bawah). (wikipedia)

Oleh: Zhou Huixin

Setelah memasuki musim dingin, sebagian besar wilayah utara Tiongkok mulai terjebak dalam asbut (asap kabut polutan), inilah akibat pencemaran serius kelanjutan dari asbut tebal pada 2013 lalu, yang sempat menyebabkan separoh dataran Tiongkok tenggelam di tengah “asbut”. Bahkan ini juga pertama kalinya dikeluarkan peringatan bahaya, polisi bersenjata yang berjaga di Lapangan Tiananmen juga untuk pertama kalinya diwajibkan memakai masker. Di tengah ikrar “menggantung” para pejabat Partai Komunis Tiongkok/ PKT yang tidak becus ini, asbut yang menyelimuti kian lama kian parah. Hal ini tak pelak membuat masyarakat teringat akan ramalan di dalam kitab kuno “Tui Bei Tu (推背圖dibaca: ‘Dui Pei Du’, ‘Ilustrasi Mendorong Punggung’ dari abad ke 7)” yang mengatakan “Asbut pekat membunuh tanpa pisau”, apakah ramalan itu kini menjadi kenyataan?

Mengatasi asbut hanya mengandalkan hembusan angin utara

Sejak 26 November lalu, asbut parah telah menyelimuti daratan Tiongkok. Meskipun hembusan angin utara sempat memudarkan asbut itu namun tetap tidak mampu menghilangkan pencemaran, ‘langit biru’ yang begitu singkat seketika itu juga kembali diselimuti asbut. Pada 11 Desember lalu media RRT memberitakan, udara dingin berhembus ke Beijing pada 10 Desember pagi, kabut di seluruh kota menipis seiring hembusan angin utara itu, udara segar pun kembali terasa di Beijing setelah siang hari.

Sementara itu berdasarkan perkiraan “China Meteorology Central Station”, kondisi cuaca perluasan polusi udara di sebagian besar daerah utara dan tengah Tiongkok, antara 19-22 Desember memburuk, akan muncul udara asbut tingkat berat hingga sedang. Konsentrasi puncak dari PM2.5 di beberapa daerah lokal di selatan kota Beijing dan provinsi Hebei Selatan akan melebihi angka 500 mikrogram / meter³.

Kondisi dimana datangnya angin menghalau asbut dan asbut kembali setelah angin berlalu, membuat banyak netizen menyadari “menghalau asbut” mutlak harus mengandalkan Langit, seorang netizen berkata, “PKT yang pernah begitu bangganya berkoar ‘memerangi langit dan bumi’ dan suka merusak lingkungan hidup, kini lemah tak berdaya, serta terpaksa hanya memohon kepada Langit untuk meniupkan angin.”

Sebuah artikel di situs East Network yang berjudul “Pejabat Hanya Bisa Membual, Halau Asbut Andalkan Angin Utara” tertulis, “Asbut telah berlangsung selama bertahun-tahun, pemerintah juga telah bertahun-tahun berjanji menyelesaikan masalah ini, sayangnya hanya bualan semata, apakah menghalau asbut hanya bisa dengan cara mengandalkan angin utara? Walikota Beijing Wang Anshun beberapa waktu lalu pernah berjanji, dengan investasi RMB 67 juta masalah asbut akan diatasi, jika tidak bisa akan “digantung”. Entah berapa banyak kepala milik seorang walikota yang bisa digantung?

Mengapa masalah asbut ini tidak bisa diatasi, bahkan kian hari kian parah?

Kuncinya terletak pada kepentingan. Demi kepentingan diri sendiri dan prestasi politik, para pejabat menutup sebelah mata terhadap pencemaran dan pengrusakan lingkungan oleh industri.

Pada acara Focus Dialogue di VoA (Voice of America), seorang akademisi masalah transformasi Cheng Xiaonong mengatakan, pertengahan era tahun 90-an lalu, kerugian akibat pencemaran lingkungan di RRT setiap tahunnya mencapai 5%-7% PDB. Pada 2007 rasio tersebut diperkirakan mencapai 10%. 2014, pada laporan riset yang diserahkan oleh US Think Tank The Rand Company kepada pemerintah RRT disebutkan, kerugian akibat pencemaran lingkungan di RRT mencapai 10% dari PDB, di antaranya pencemaran udara mencapai 6,5% dan pencemaran air mencapai 2,1% lalu pencemaran tanah 1,1%. Angka ini membuktikan, pada saat RRT berbangga-ria karena telah menempati posisi negara ekonomi kedua terbesar dunia, pertumbuhan ekonomi selama 20 tahun terakhir tidak akan cukup untuk menutupi kerugian yang terjadi akibat pencemaran lingkungan hidup. Dengan kata lain, PKT telah “mengambil jatah” sumber daya alam dari generasi berikutnya.

Dalam buku yang dipublikasikan surat kabar Epoch Timers yakni “9 Komentar tentang PKT” disebutkan, pengrusakan lingkungan hidup yang terjadi ini erat kaitannya dengan budaya partai – PKT suka menentang langit dan bumi, rakyat kehilangan kepercayaan terhadap Tuhan, manusia kehilangan moralitas, menyebabkan perampasan dan pengrusakan terhadap lingkungan hidup pun merajalela, narkoba tersebar ke seluruh negeri. PKT merusak alam, merusak lingkungan hidup, menyebabkan seluruh sungai di Tiongkok dalam keadaan darurat, banyak sungai telah “mati”, sebagian besar wilayah telah diselimuti kabut tebal. (sud/whs/rmat)

 

 

BERSAMBUNG

Share

Video Popular