Dalam rubrik Beyond Science, Epoch Times mengeksplorasi penelitian dan kasus yang terkait dengan fenomena dan teori-teori yang menantang pengetahuan kita saat ini. Kami menyelidiki ide-ide yang merangsang imajinasi dan membuka berbagai kemungkinan baru.

Sepanjang sejarah, berbagai kemajuan ilmiah melibatkan ilmuwan yang sangat pintar di belakangnya. Penemuan-penemuan ini juga memerlukan banyak kerja keras di baliknya. Namun, ada juga penemuan sains yang tampaknya berhubungan dengan keberuntungan, kebetulan (ketepatan), intuisi, atau sesuatu yang mungkin kurang “ilmiah” atau kurang “logis” yang menyertainya.

Berikut adalah sebuah contoh kasus ketepatan untuk Anda. Pada 17 November 2014, tim peneliti di Stanford University dan tim Google secara terpisah mengumumkan bahwa mereka telah mengembangkan jaringan saraf buatan yang mampu mengenali foto kompleks dengan menggunakan mesin pembelajaran dan pengenal pola.

Jordan Pearson dari majalah Motherboard menyelidiki kasus ini dan menemukan bahwa kedua pihak saling tidak menyadari pekerjaan tim yang lain hingga akhir-akhir ini.

“Ini adalah ketepatan yang luar biasa bahwa pengumuman kedua hasil penelitian ini terjadi sangat berdekatan”. tulis Pearson. “Tapi dalam banyak hal [itu] merupakan sesuatu yang dapat dipahami”. Dia mengatakan ini adalah kasus bahwa teknologi sekarang sudah siap untuk pengembangan ini. Ada permintaan atas kemampuan ini, dan pengembangan pada jaringan buatan sudah mencapai apa yang diperlukan untuk segera menghasilkan penemuan ini.

Apakah semua kasus tentang munculnya ide secara bersamaan dan independen dapat dijelaskan dengan cara ini? Alexander Graham Bell dan Elisha Gray keduanya mengembangkan telepon pada tahun 1876. Pada tahun 1773 dan 1774, Carl Sheele dan Joseph Priestly secara terpisah menemukan oksigen. Sekitar tahun 1915 sampai 1918, Mary Pattison dan Christine Frederick mencari cara untuk menggunakan alat mekanik sebagai peningkat efisiensi dalam pekerjaan rumah tangga.

Sekitar 500 SM, sejumlah pemikir besar, filsuf, dan tokoh agama telah muncul. Buddha, Socrates, Lao Tse, dan lain-lain, mereka berkontribusi besar terhadap perkembangan peradaban manusia. Mereka terpaut jarak yang sangat jauh yakni dari Yunani, India sampai ke Tiongkok. Mungkin waktunya sudah tiba.

“Ide-ide mirip seperti biji, butuh tanah yang subur untuk tumbuh dan berkembang,” kata Dr. Bernard Beitman, seorang psikiater dari Yale yang merupakan bapak pendiri dari studi fenomena ketepatan. Dia mengutip sebuah makalah tahun 1922 oleh William F. Ogburn dan Dorothy Thomas yang mengungkap148 penemuan ilmiah besar yang dibuat oleh dua orang atau lebih pada kisaran waktu yang sama.

Menurut Dr. Beitman, para ilmuwan ini tersambung pada semacam alam bawah sadar kolektif. Mereka “tersetel ke tepi” awan informasi di mana kita semua terhubung ke dalamnya.

“Apakah itu penemuan simultan atau penyebaran ide yang baik?” tanyanya. “Namun hal itu terjadi, pikiran kolektif siap untuk menerima ide ini,” Dr. Beitman menyebut pesan filosofis atau spiritual yang umum [terjadi di berbagai belahan dunia] dan tersebar sekitar 500 SM.

Cerita lain tentang kebetulan dan intuisi

Meskipun para ilmuwan sering kali merasa bangga karena mengikuti alur kerja yang sangat logis, kadang-kadang intuisi dapat memberikan dorongan penting.

Ini adalah sebuah cerita tentang seorang dokter yang menggunakan intuisinya. Kisahnya dimuat di situs Pusat Spiritualitas dan Penyembuhan di University of Minnesota.” Seorang dokter spesialis jantung, dr. Mimi Guernari, melihat pasiennya terus mengeluarkan darah sampai hampir meninggal di meja operasi. Ia menghabiskan berjam-jam, mencoba segala sesuatu yang dia tahu untuk membendung aliran darah ini. Kemudian, ‘tiba-tiba saya memikirkan sesuatu yang belum pernah digunakan sebelumnya dan belum pernah saya gunakan kecuali saat itu, foam gel.’ Reaksi intuitif ini membuatnya mengedipkan mata dan bertanya-tanya apakah ia telah berhalusinasi saat menyaksikan pendarahan itu berhenti. Reaksi spontan ini menyelamatkan nyawa pasiennya”.

Penisilin, antibiotik yang membuat terobosan besar dalam memerangi infeksi bakteri, mengalami proses penemuan dalam kurun beberapa tahun, dengan disertai banyak ketidaksengajaan serta fenomena kebetulan pada saat yang sama.

Alexander Fleming, ilmuwan bakteriologi Skotlandia, menderita pilek di bulan November 1921. Ingus dari hidungnya menetes di piring pembiak penuh bakteri. Dia menyadari ingus dari hidungnya telah membunuh bakteri, meninggalkan “halo inhibisi” di sekitarnya. Lisozim adalah komponen dalam lendir ingusnya yang telah membunuh bakteri, tetapi lisozim tidak bisa diproduksi secara massal sebagai antibiotik.

Hampir satu dekade kemudian, ia berada di Rumah Sakit St. Mary melakukan sebuah penelitian. Kondisi lab yang buruk, dengan kondisi retak di langit-langit ruangan, membuat ruangan itu menjadi lingkungan kontrol yang tidak sempurna.

Ia pergi berlibur dan meninggalkan cawan petri terbengkalai di wastafel. Tidak seperti ilmuwan kebanyakan, setelah datang kembali, ia tidak langsung mencuci cawan itu, tetapi memeriksanya terlebih dahulu. Ia menemukan satu tempat dengan bakteri mati mirip dengan yang dihasilkan oleh lendirnya dulu. Halo inhibisi ini muncul di sekitar beberapa kapang yang telah mendarat di atas cawan. Spora telah menyusup melalui celah retakan dari percobaan di ruang lain.

Spora tiba tepat pada waktu dan periode yang tepat, pada suhu yang tepat pula. Jika bakteri di cawan ada pada fase yang berbeda dalam perkembangannya, kapang tidak akan memberi efek seperti itu.

Fleming menyadari kapang ini bisa membunuh bakteri, tetapi tidak sampai grup ilmuwan lain yang melakukan percobaan berbeda di tahun 1940-an, ide ini bisa diaplikasikan. Kelompok ilmuwan tersebut menggunakan kapang (penisilin) pada objek tikus yang membuat mereka sadar bahwa kapang ini bisa bertahan dalam tubuh mamalia. Mereka juga sadar bahwa hal ini punya potensi untuk mengobati infeksi bakteri pada manusia. Mereka tidak bermaksud untuk menyelidiki penggunaan ini, ini adalah penemuan yang tidak disengaja.

Kesimpulannya, Fleming mencari tahu tentang halo inhibisi pada cawan pembiak bakteri setelah insiden ingusnya terjadi. Naluri perseptif ini membantu kebetulan selanjutnya menghasilkan penemuan yang bermanfaat. Kondisi semacam ini berkaitan dengan salah satu alasan kenapa Dr. Beitman ingin mendorong studi tentang fenomena ketepatan. Kesadaran dan kepekaan persepsi dapat membantu orang menyadari adanya lebih banyak lagi ketepatan yang bermanfaat, katanya.

Jika laboratorium dalam kondisi yang lebih baik, spora tidak akan pernah sampai ke wastafel Fleming. Jika Fleming tidak begitu irit, memutuskan untuk mempelajari cawan di wastafel sebelum mencucinya, dia tidak akan menemukan halo inhibisi. Jika kapang tidak mendarat di waktu yang tepat, Fleming tidak akan membuat penemuan (atau setidaknya tidak pada saat itu, mungkin penemuan itu bisa terjadi dengan cara lain di kemudian hari).

Banyak kebetulan (ketepatan) ditambah sedikit kepekaan persepsi menghasilkan penemuan yang telah menyelamatkan jutaan nyawa. (Epochtimes/Dpr)

Follow @TaraMacIsaac di Twitter. Kunjungi halaman Beyond Science page di Facebook, dan silakan berlangganan Beyond Science newsletter untuk terus mengeksplorasi batas-batas baru ilmu pengetahuan.

Share

Video Popular