Rilis akhir tahun BNN (Sumber Foto : BNN)

JAKARTA – Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil mengungkap sebanyak 102 kasus Narkotika dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang merupakan sindikat jaringan nasional dan internasional. Atas kasus ini 82 kasus telah dinyatakan P21 oleh Kejaksaan. Kasus-kasus yang telah diungkap tersebut melibatkan 202 tersangka yang terdiri dari 174 WNI dan 28 WNA.

Laporan tersebut dirilis oleh Kepala BNN Komjen Budi Waseso dalam rilis akhir tahun BNN 2015 di Gedung BNN, Jakarta, Rabu (23/12/2015). BNN pada tahun ini telah menyita barang bukti sejumlah 1.780.272,364 gram sabu kristal; 1.200 mililiter sabu cair; 1.100.141,57 gram ganja; 26 biji ganja; 95,86 canna chocolate; 303,2 gram happy cookies; 14,94 gram hashish; 606.132 butir ekstasi; serta cairan prekursor sebanyak 32.253 mililiter dan 14,8 gram.Sedangkan dalam kasus TPPU total asset yang berhasil disita oleh BNN senilai Rp 85.109.308.337.

Sepanjang tahun ini, BNN menemukan 2 jenis zat pskiotrapika baru yaitu CB-13 dan 4-klorometkatinon. Sehingga total jenis psikotrapika baru yang telah ditemukan BNN hingga akhir tahun 2015 yakni sebanyak 37 jenis.

Sedangkan dalam kasus penindakan, BNN menyatakan melakukan penindakan tanpa pandang bulu terhadap siapa pun, hal ini dibuktikan dengan adanya tindakan yang tegas terhadap oknum yang terbukti terlibat kasus peredaran gelap Narkotika, yang saat ini sedang menjalani proses hukum dan kode etik.

Sebagai langkah menghentikan   penyelundupan   serta   peredaran   gelap Narkotika   diharapkan  dapat ditindaklanjuti dengan memberikan sanksi hukuman yang seberat-beratnya terhadap para tersangka, termasuk hukuman mati.

Berdasarkan data Direktorat Tindak Pidana Umum Lainnya, Kejaksaan Agung RI, sampai   dengan   pertengahan   Desember   2015,   terdapat 55   orang   terpidanakasus Narkotika yang mendapatkan vonis hukuman mati, di mana 14 orang terpidana mati kasus Narkotika diantaranya sedang menunggu eksekusi hukuman mati.

Tak hanya segi penindakan dan pemberantasan, BNN juga terus berupaya melakukan pencegahan dan pemulihkan bagi para pecandu dan penyalah guna dari ketergantungannya terhadap Narkotika. BNN menyediakan balai besar rehabilitasi sebagai media dalam proses penyembuhan dan pemulihan pecandu dan penyalah guna Narkotika.

Sepanjang 2015, BNN telah melaksanakan program rehabilitasi kepada 38.427 pecandu, penyalah guna, dan korban penyalahgunaan Narkotika yang berada di seluruh Indonesia dimana sejumlah 1.593 direhabilitasi melalui Balai Besar Rehabilitasi yang dikelola oleh BNN, baik yang berada di Lido –Bogor, Baddoka –Makassar, Tanah Merah –Samarinda, dan Batam –Kepulauan Riau. Tahun lalu tercatat hanya 1.123 orang pecandu dan penyalah guna yang direhabilitasi.

Sebagai langkah akibat peningkatann pecandu dan penyalahguna yang direhabilitasi berbanding dengan penurunan prosentase prevalensi angka penyalah guna, maka BNN ke depan adalah upaya menghentikan penyalahgunaan     Narkotika     dengan     membendung     imun masyarakat terhadap penyalahgunaan Narkotika. Tak hanya itu, langkah lainnya adalah mempersempit ruang peredarannya.

Oleh sebab itu, ke depan BNN berencana untuk memberikan penguatan pada bidang pencegahan dan pemberdayaan masyarakat, sebagai upaya preventif dalam pengentasan penyalahgunaan Narkotika yang diharapkan dapat lebih efektif dalam menekan laju peredaran gelap Narkotika.

Penguatan dalam bidang pencegahan ini juga merupakan salah satu usaha membentuk masyarakat yang memiliki ketahanan dan kekebalan terhadap bahaya penyalahgunaan Narkotika,salah satu contohnya yakni dengan memasukan pendidikan bahaya Narkoba ke dalam kurikulum di sekolah.

Dalam bidang pencegahan, di tahun ini BNN telah melakukan sosialisasi bahaya penyalahgunaan Narkoba kepada 490 pelajar, 7.400 mahasiswa, 1.750 pekerja swasta, 2.110 pegawai pemerintah, dan 1.750 masyarakat yang berada di wilayah pusat dan sebanyak 688.240 orang di seluruh daerah di Indonesia yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, swasta, instansi pemerintah, dan masyarakat.

Sedangkan untuk mengatasi peredaran gelap dan penyalahgunaan Narkotika adalah tanggung jawab bersama, oleh karena itu harus menjadi musuh bersama. Aparat pemerintah harus bersinergi, menyatukan kekuatan untuk menghadapi kejahatan ini. Apalagi melihat kondisi saat ini yang sebentar lagi akan diberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN. BNN berharap kemudahan dalam ASEAN Community ini dimanfaatkan oleh mafia Narkotika Internasional dan Nasional untuk menyelundupkan Narkotika ke Indonesia. (asr)

Share

Video Popular