Keterangan foto: Pria Inggris Shahkiel Akbar (24 tahun) menunjukkan surat permintaan bantuan asal Anhui, Tiongkok yang disisipkan dalam kaus kaki yang baru ia beli. (video screenshot)

Oleh Li Modi

Baru-baru ini, seorang pria Inggris menemukan sepucuk surat permintaan bantuan yang ditulis tangan dalam bahasa Mandarin. Surat itu disisipkan dalam kaus kaki yang baru dibelinya. Surat itu berasal dari seorang pemohon petisi yang disiksa dalam tahanan. Banyak komoditas asal Tiongkok yang diekspor ke luar negeri terdapat surat-surat semacam ini.

Menurut Daily Mail bahwa Shahkiel Akbar (24) yang tinggal di Fenham, Inggris saat membeli barang kebutuhan di Primark Store serba murah beberapa pekan lalu, menemukan sepucuk surat tulisan tangan dalam bahasa Mandarin yang disisipkan dalam kaus kaki yang baru dibeli itu. Setelah ia mengerti isi surat, ia sadar bahwa itu adalah surat permintaan bantuan. Penulis surat menyebutkan bahwa ia dijebloskan ke tahanan karena difitnah dan menerima penganiayaan di dalam penjara.

“Setelah memahami isi surat itu, saya menjadi yakin bahwa itu terkait hal buruk yang terjadi kepada penulis surat. Saya memang terkejut, dan karena surat itu jatuh ke tangan saya sehingga merasa bertanggung jawab untuk mempublikasikan pesannya,” kata Shahkiel Akbar.

Shahkiel Akbar saat itu tidak menemukan orang yang mengerti bahasa Mandarin, jadi menggunakan aplikasi dalam ponselnya untuk mengalihkan ke bahasa Inggris. Ia kemudian mengetahui bahwa surat itu di kirim dari propinsi Anhui, Tiongkok, penulisnya bernama Ding Tingkun usia 39 tahun.

“Dari tulisannya saya merasakan jiwa dan fisiknya sedang tersiksa. Ia dipaksa bekerja membuat kaus kaki dalam waktu yang sangat panjang. Karena itu ia melakukan berbagai upaya agar pesannya bisa ke luar penjara. Melihat ini saya sungguh sedih,” ujar Shahkiel Akbar.

Ding Tingkun menulis dalam suratnya, akibat melaporkan kasus korupsi, pelanggaran yang dilakukan oleh personil keamanan setempat, termasuk menyewa para preman untuk melakukan ancaman. Ia dibawa ke Kantor Polisi Damiao, Lingbi pada 29 Juni 2014. Di sana ia difitnah melakukan pemerasan dan pengadilan ilegal di Lingbi menjatuhkan hukuman penjara selama 3 tahun. Sekarang ia berada dalam penjara di Lingbi, dan mengalami penyiksaan jiwa dan raga”. Ia dan istrinya ‘dianiaya sampai cacat’.

Sepekan sebelumnya, seorang konsumen Primark mengatakan bahwa ayahnya juga menemukan surat permintaan bantuan serupa dalam kaus kaki yang dibeli. Surat ditulis dalam bahasa Mandarin di atas kertas buatan Tiongkok. Penulis surat itu bernama Ding Tingkun, pria Anhui berusia 39 tahun.

Ia dalam surat tersebut menulis demikian, “Akibat melaporkan kebobrokan mental petugas pemerintah daerah, saya diculik sejak 29 Juni hingga sekarang. Istri saya dipaksa masuk ke rumah sakit jiwa, dan ayah saya dibunuh dalam rumah sakit pada 22 Mei tahun lalu”.

Banyak surat permintaan bantuan yang disisipkan di dalam komoditas yang dimpor dari Tiongkok

Karen Wisinska (28) pada Juni tahun lalu menyampaikan kepada media bahwa ia menemukan surat permintaan bantuan yang disisipkan dalam celana yang ia beli dari Tenner Store. Penulis surat adalah seorang pekerja pabrik pemeras tenaga kerja. Ia kemudian menyerahkan surat itu kepada organisasi Amnesty International.

Surat itu menggunakan SOS SOS SOS sebagai judul. Isi surat dalam bahasa Mandarin. surat itu menyebutkan, “Kita adalah narapidana di penjara Hubei Xiangnan, dipaksa melakukan pekerjaan berat untuk memproduksi pakaian jadi yang diekspor. Kita diharuskan bekerja selama 15 jam dengan makan makanan yang tidak layak untuk manusia. Ada napi tulang jarinya sampai kelihatan karena terluka parah. Kita menghimbau masyarakat internasional untuk mengutuk pemerintah Tiongkok yang melakukan pelanggaran HAM.”

Belum lama ini, seorang wanita kota Swansea menemukan secarik kertas dalam gaun yang ia beli. Di atas kertas itu tertera tulisan dalam bahasa Inggris yang berbunyi “forced to work exhausting hours” (dipaksa bekerja dalam waktu panjang yang melelahkan). Seorang konsumen lain menemukan catatan “degrading sweatshop condition” (merendahkan tenaga kerja dengan cara pemerasan) yang disisipkan dalam pakaian yang dibeli.

Pada April 2014, seorang konsumen menemukan dalam tas jinjing barang yang dibeli dari Perusahaan Saks Fifth Avenue, New York, sepucuk surat yang isinya diawali dengan: Help ! Help ! Help !

Surat yang ditandatangani oleh Tohnain Emmanuel Njong ini merupakan salah satu dari 5 pucuk surat yang ia tulis dari dalam selimut, menyebutkan bahwa para tahanan dipaksa bekerja 13 jam sehari, hidup bagaikan budak. Dan kebanyakan dari mereka adalah para praktisi Falun Gong yang tidak bersalah, hanya karena mereka memiliki keyakinan yang berbeda dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT), mereka lebih disiksa dibanding dengan napi lainnya”.

Bertepatan dengan peringatan Malam Para Kudus yang jatuh pada 28 Desember 2012, warga Oregon bernama Julie Keith membeli seperangkat hadiah buat anaknya, dan menemukan sepucuk surat permintaan bantuan dalam bahasa Inggris. Penulisnya adalah seorang praktisi Falun Gong yang disekap dalam kamp kerjapaksa di Penjara Masanjia yang terletak di kota Shenyang, Liaoning.

Dalam surat itu disebutkan bahwa sebagian besar tahanan di sini adalah para praktisi Falun Gong yang tidak bersalah. Hanya karena memiliki keyakinan yang berbeda, mereka dianiaya. Di sini, setiap orang harus bekerja 15 jam, tanpa libur akhir pekan. Kalau tidak mereka akan mendapat penyiksaan fisik, pelecehan. Bilamana Anda membeli produk ini, mohon bantuan Anda untuk menyerahkan surat tersebut kepada organisasi hak asasi manusia dunia. Jutaan kaum tidak bersalah yang sedang mengalami penganiayaan Partai Komunis Tiongkok pasti akan berterima kasih kepada Anda.

Temuan surat itu menarik perhatian media seperti New York Times dan CNN untuk meliputnya.

Penyiksaan fisik dan pengambilan paksa organ tubuh hidup menarik perhatian internasional

Komite PBB Menentang Penyiksaan (U.N. Committee Against Torture) pada 9 Desember mengeluarkan laporan yang menyebutkan bahwa penyiksaan fisik dan perlakuan buruk terhadap tahanan masih terus dilakukan di Tiongkok. PBB mendesak PKT untuk segera menghentikan penggunaan cara tidak manusiawi itu, dan memanggil organisasi independen untuk melakukan penyidikan terhadap PKT atas tuduhan mengambil paksa organ hidup praktisi Falun Gong.

Selain itu, dalam laporan Komite PBB Menentang Penyiksaan juga meminta PKT untuk memberikan penjelasan tentang masalah yang berkaitan dengan penyiksaan kejam, perlakuan tidak manusiawi atau merendahkan martabat merupakan bagian dari hukuman terhadap tahanan. Persoalan selisih yang cukup besar antara jumlah transplantasi organ yang sudah dilakukan dengan sumber organ yang sudah dipastikan. Masalah naiknya angka transplantasi organ yang waktunya bertepatan dengan praktisi Falun Gong mulai mengalami penganiayaan. Masalah pengambilan organ tanpa persetujuan donatur apakah masih berlangsung. Masalah apakah keluarga dari korban pengambilan paksa organ tubuh hidup memiliki kesempatan untuk menuntut tersangka. Dan lain sebagainya.

Menurut ketentuan PBB, negara yang diperiksa oleh Komite PBB Menentang Penyiksaan diwajibkan dalam waktu 1 tahun memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Tetapi PKT tidak pernah menanggapinya sama sekali.

Pada 10 Desember lalu, Epoch Times dan NTDTV bersama-sama melakukan wawancara khusus dengan Pelapor Khusus PBB tentang kebebasan beragama atau keyakinan, Heiner Bielefeldt. Ia mengutuk keras pengambilan paksa organ tubuh hidup termasuk praktisi Falun Gong dan para tahanan hati nurani yang dilakukan oleh PKT.

“Itu merupakan pelanggaran berat terhadap HAM, sangat tidak manusiawi,” katanya.

Anggota Kongres AS, Dana Rohrabacher mengatakan, PKT menangkap para praktisi Falun Gung dan meraih keuntungan materi dari penjualan organ tubuh hidup mereka perlu menjadi perhatian serius kita.

Anggota Kongres AS, Ted Poe mengatakan, kepada pelaku pengambilan paksa organ tubuh hidup itu perlu dituntut tanggung jawabnya, PKT harus segera menghentikan perilaku jahat itu. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular