- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Diam Bukanlah Pilihan, Miss Kanada Secara Terbuka Beberkan Awal Mula Kisahnya

Oleh: James Burke

Pihak berwenang Tiongkok mungkin telah mencekal Miss Kanada, aktris dan aktivis hak asasi manusia Anastasia Lin, untuk menghadiri final kontes Miss World yang diadakan pada hari Sabtu (19/12) lalau, tapi mereka tidak bisa membungkamnya.

Karena advokasi HAM-nya, Pemerintah Tiongkok menyatakan Lin sebagai “persona non grata”, yang membuat mustahil bagi wanita berusia 25 tahun itu untuk menghadiri acara yang digelar di resor pesisir pantai Sanya, Tiongkok.

Sejak kasus ini mencuat, Lin telah menerima lebih banyak perhatian dari berbagai media daripada semua ratu kecantikan nasional lainnya selama beberapa bulan terakhir.

Ketika kontestan lain sedang menyiapkan puncak perhelatan hari Sabtu yang lalu, Lin berbicara pada acara makan siang di National Press Club di Washington, DC, AS, sehari sebelumnya. Di sana, dia memberikan pidato dan menjawab pertanyaan, yang Anda dapat saksikan di video di bawah ini.

Lin mengatakan bahwa ia ditanya oleh banyak wartawan alasan kenapa Partai Komunis Tiongkok yang berkuasa begitu takut padanya.

Lin, yang juga adalah seorang praktisi Falun Gong, mengatakan bahwa mereka sebenarnya tidak takut padanya, tetapi mereka takut pada orang-orang Tiongkok.

“Mereka (komunis yang berkuasa) takut akan apa yang saya wakili, bisa sampai ke (telinga) orang-orang Tiongkok,” kata Lin.

“Generasi ayah saya menyaksikan keluarga dan teman-teman mereka ditangkap dan dianiaya di depan umum, mereka dipermalukan karena mereka berusaha tetap setia pada nilai-nilai mereka, sehingga mereka mulai menundukkan kepala mereka. Ini sangat disayangkan, tapi jauh di lubuk hati mereka, saya percaya dan saya tahu bahwa mereka sedang berjuang untuk kebebasan,” katanya.

Jika orang-orang Tiongkok melihat orang yang mewakili harapan dan kebebasan di layar televisi mereka di putaran final Miss World, Lin mengatakan: “Ini mungkin mendorong mereka untuk mengambil langkah kecil untuk menjadi diri mereka sendiri, untuk mengungkapkan pendapat mereka sendiri, dan itulah yang komunis takutkan.”

“Harapan adalah satu-satunya yang bisa menaklukkan rasa takut.”

Beriut pidato Lin dan sesi tanyajawab di National Press Club yang sebelumnya disiarkan secara langsung.

Di bawah ini adalah salinan pidato Lin yang telah diposting pada halaman Facebook-nya:

“Hari ini, saya seharusnya ada di Sanya, Tiongkok, mewakili Kanada di putaran final Miss World. Tapi bulan lalu ketika saya pergi ke Hongkong, saya dilarang naik pesawat yang akan membawa saya ke Sanya. Saya selanjutnya menemukan bahwa Pemerintah Tiongkok telah menyatakan saya “persona non grata”.

“Persona non grata, saya harus melihatnya di Wikipedia. Rupanya itu berarti ‘orang yang tak diinginkan atau tidak diterima. ‘ Saya tidak pernah disebut seperti itu sepanjang hidup saya. Banyak dari Anda mungkin bertanya-tanya bagaimana hal ini bisa terjadi. Saya ceritakan mulai dari awal.

“Saya lahir di Tiongkok, di Provinsi Hunan. Saya adalah seorang murid teladan yang dibesarkan oleh salah satu ibu seperti macan Asia yang sering Anda dengar kisahnya. Saya belajar piano dan kaligrafi pada umur dua tahun, dan menjadi semacam ketua OSIS di sekolah saya. Tidak banyak orang yang tahu tentang pengalaman hidup saya ini, tapi satu hal yang saya lakukan di sekolah adalah mengokohkan ideologi penyelarasan pada teman-teman sekelas saya. Sebagai contoh, saya membuat murid menonton film propaganda yang menyerang apa yang mereka sebut ‘negara musuh.’

“Saya pindah ke Kanada dengan ibu saya ketika masih berumur 13 tahun. Hanya setelah itu saya mulai menyadari kuatnya indoktrinasi yang saya terima. Ibu saya mendesak saya untuk membuang gagasan-gagasan yang telah ditanamkan pada saya selama di Tiongkok, dan menggunakan pikiran saya sendiri. Saya akan selalu berterima kasih padanya atas hal ini.

“Saya belajar tentang kebenaran pembantaian Lapangan Tiananmen, penganiayaan Tibet, dan akhirnya, saya sendiri bahkan mulai berlatih latihan spiritual damai yang difitnah oleh pers resmi Tiongkok. Orang-orang yang berlatih latihan ini dipenjara dan disiksa dalam skala besar.

“Ketika saya mulai bermain film, saya mencari peran yang menyentuh saya, dan memberi penerangan pada apa yang terjadi di Tiongkok hari ini, seperti korupsi yang menyebabkan sekolah buruk, kemudian hancur ketika gempa bumi Sichuan dan menimbun ribuan anak-anak, sensor negara, hingga tentang pengambilan organ ilegal dari tahanan hati nurani.

“Cerita-cerita dari para korban ini mengejutkan saya, dan mengetahui tentang orang-orang ini mengubah pandangan saya secara mendasar terhadap dunia.

“Dalam film terbaru saya, “The Bleeding Edge”, saya bermain sebagai seorang wanita yang dipenjara karena keyakinannya pada Falun Gong. Seperti halnya praktisi Falun Gong pada umumnya di Tiongkok, tokoh yang saya perankan mengalami setruman tongkat listrik, dengan bambu di bawah jari kuku, serta pelecehan seksual.

“Untuk persiapan peran, saya menyisihkan waktu bersama pria dan wanita yang menderita pengalaman ini. Tentu saja, mereka menggambarkan, penyiksaan dan sakit fisik yang mengerikan. Tapi apa yang melekat (di pikiran) saya adalah deskripsi mereka tentang isolasi yang kejam.

“Di kamp kerja paksa, mereka semua sendirian. Mereka ingin menjerit, meminta bantuan, tetapi satu-satunya orang yang bisa mendengar mereka adalah para penjaga. Namun meskipun menghadapi rasa takut dan keraguan, mereka tetap setia pada hati nurani mereka sendiri. Mereka tahu bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari rasa takut.

“Setelah mereka menceritakan kepada saya kisah-kisah mereka, saya merasa, saya tidak bisa melakukan ini. Karakter ini membutuhkan seseorang dengan keberanian luar biasa. Penderitaan mereka, isolasi, rasa putus asa, fakta bahwa mereka tidak diberi jalan untuk berbagi tentang ketidakadilan yang mereka alami… namun mereka masih tetap menjadi diri mereka sendiri.

“Saya hanya seorang bocah Amerika Utara. Saya tidak berpikir saya bisa melakukan ini. Ini bukanlah pengalaman yang saya alami dalam kehidupan sehari-hari di Kanada.

“Hari pertama syuting adalah yang paling sulit. Kami mengambil adegan kekerasan seksual, cekok paksa, dan pementungan. Semua yang terjadi di Tiongkok. Itu sangat berat, dan saya sangat takut saya tidak bisa melakukannya.

“Saya menelepon seorang teman, menangis. ‘Karakter ini di luar kemampuan saya, saya tidak berpikir saya punya kekuatan untuk menggambarkan cerita orang-orang ini.’ Dia berkata: ‘Tidak apa-apa jika takut di tengah semua ini, yang merupakan bagian alami dari manusia, tapi jangan biarkan rasa takut mengalahkanmu. Keberanian bukan berarti tidak adanya rasa takut.’

“Ini adalah alasan saya bisa melakukannya. Saya menguatkan diri dan mengungkap keluar semua ketakutan saya, yang merupakan bagian dari sifat manusia. Tapi dalam proses ini, saya juga mengenali sesuatu dalam diri saya yang sejati dan asli. Ketika saya melakukan akting, saya merasa keinginan kuat untuk tetap setia pada hati nurani saya sendiri. Saya mengalami apa yang saya percaya adalah kekuatan lurus yang sama yang memberi korban keberanian untuk melakukan hal yang harus mereka lakukan.

“Saya mengikuti kompetisi Miss World karena mottonya yang berbunyi: ‘Beauty with a Purpose’ (Kecantikan dengan mengemban sebuah Tujuan-Red). Saya percaya bahwa kompetisi ini mungkin menawarkan sebuah platform yang lebih besar bagi saya untuk membangkitkan kesadaran akan isu-isu yang saya perhatikan, dan untuk mempromosikan nilai-nilai Negara Kanada tentang kebebasan dan keberagaman yang saya anggap sangat berharga.

“Saya tahu bahwa setiap orang selalu mengatakan ini, tapi saya benar-benar terkejut ketika saya dinobatkan sebagai Miss World Kanada pada bulan Mei. Ada begitu banyak wanita cantik di dalam ruangan, saya tidak akan bermimpi untuk menjadi pemenang.

“Segera setelah kemenangan saya, ada tersiar kabar di Tiongkok bahwa seorang gadis Tiongkok-Kanada dari Provinsi Hunan baru saja dinobatkan sebagai Miss World Kanada. Ayah saya, yang masih tinggal di Tiongkok, menerima ratusan pesan ucapan selamat, beberapa dari orang-orang yang hampir tidak ia kenal. Dia begitu bangga pada saya. mahkota itu bukti bahwa gadis kecilnya dalam perjalanan untuk mencapai mimpinya.

“Tapi kemudian, semuanya berhenti. Laporan berita tentang saya menghilang di Tiongkok, atau jika masih ada secara online, mereka mengubah nama saya dan menggunakan foto gadis lain, bukan foto saya.

“Kemudian saya menerima pesan dari ayah, memohon saya untuk berhenti bicara tentang hak asasi manusia di Tiongkok. Dia takut. Meskipun ia tidak ingin memberi rincian melalui telepon, itu jelas bahwa agen-agen keamanan Tiongkok telah mengunjunginya dan memberitahunya untuk memberi tekanan pada saya agar menghentikan dukungan HAM saya.

“Mereka meletakkan rasa takut pada seorang ayah, membuatnya takut untuk bangga atas putrinya sendiri. Generasi Ayah saya tumbuh selama Revolusi Besar Kebudayaan. Mereka melihat pembantaian Tiananmen dan berbagai kampanye politik partai. Mereka telah melihat seberapa keras Pemerintah Tiongkok membuat sulit bagi orang-orang untuk jujur pada keyakinan mereka, untuk menjaga integritas mereka. Itu sengaja mencoba membuat orang Tiongkok untuk menanggalkan martabat mereka, dan tidak ragu untuk menggunakan bagian yang paling berharga dari sifat manusia, yaitu kebaikan dan kelembutan terhadap keluarga seseorang, sebagai senjata melawan kita.

“Kami bahkan punya sebuah ungkapan sekarang, ‘diundang untuk minum teh’, yakni ketika petugas keamanan mengeluarkan ancaman tersirat, jika kerabat di luar negeri tidak berhenti bicara. Itulah saat mereka menunjukkan kepada Anda siapa yang punya pentungan, dan bahwa mereka tidak akan ragu-ragu untuk menggunakannya.

“Ini pengalaman yang umum bagi pendukung hak-hak warga negara Tiongkok di seluruh dunia. Memaksa keluarga untuk ‘memutus-hubungan’ satu sama lain adalah seperti bagaimana, selama Revolusi Besar Kebudayaan, anak-anak dibuat untuk mengecam orangtua mereka karena apa yang disebut ‘kesalahan ideologis.’ Ini adalah cara hitam, gaya lama komunis, dalam melakukan berbagai hal, yang biasanya coba ingin disembunyikan oleh Tiongkok dari dunia Barat.

“Saya takut, dan saya khawatir atas mata pencaharian ayah saya. Tapi setelah saya merenung tentang apa yang harus dilakukan, saya menjadi jelas bahwa saya tidak bisa menyerah pada rasa takut.

“Jika saya membiarkan diri saya terintimidasi, maka saya akan terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia yang berkelanjutan. Jika setiap orang membiarkan diri mereka untuk terus dibungkam, Partai Komunis akan dapat terus melecehkan orang-orang Tiongkok, tanpa konsekuensi atau pertanggungjawaban.

“Jadi daripada diam dibungkam, saya pergi ke media dan menulis tentang pengalaman ayah saya untuk Washington Post. Kemudian, saya bersaksi di depan Kongres tentang penyiksaan Partai Komunis dan pembunuhan minoritas agama, intimidasi keluarga di luar negeri, dan ketidakadilan lainnya.

“Dan ketika semua kontestan Miss World lainnya menerima undangan final di Sanya, surat undangan saya tak kunjung datang, jadi saya tidak dapat mengajukan permohonan visa. Tidak ada penjelasan resmi. Saya pikir Pemerintah Tiongkok akan menganggap saya seolah-olah tidak ada, dan berharap saya akan selanjutnya menyingkir.

“Karena waktu kompetisi makin dekat, saya ingin jawaban pasti. Ternyata, warga Negara Kanada dan 20 negara lainnya tidak perlu visa terlebih dahulu untuk melakukan perjalanan ke Sanya, Tiongkok. Kami dapat mengajukan permohonan visa saat kedatangan. Jadi saya memutuskan untuk mencoba keberuntungan saya.

“Tapi ketika saya mendarat di Hongkong dalam perjalanan ke Sanya, saya menemukan bahwa saya pada dasarnya telah dilarang. Setelah wawancara telepon dengan petugas pabean Tiongkok, Petugas Chen, saya diberitahu bahwa saya tidak diizinkan untuk naik ke pesawat lanjutan saya. Preseden macam apa yang telah terjadi untuk acara internasional di masa mendatang?

“Tiongkok telah terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2022. Apakah itu berarti atlet muda kita di seluruh dunia yang bercita-cita untuk berpartisipasi dalam Olimpiade harus menjalani sensor-pribadi dari sekarang untuk mengikuti Olimpiade? Apa yang terjadi pada atlet keturunan Uyghur atau Tibet? Apakah para atlet yang percaya pada agama Kristen atau berlatih Falun Gong harus meninggalkan keyakinan mereka? Apakah kita semua harus mengubah siapa jati diri kita, hanya untuk masuk ke Tiongkok? Dan jika itu terjadi, bagaimana respon dunia?

“Jika kasus saya menjadi indikasi, responnya mungkin akan tetap tenang. Miss World Organization menyatakan ingin menjunjung ‘Beauty with a Purpose.’ Tapi ketika saya dilarang bertanding karena saya mendukung hak asasi manusia, mereka tidak menyatakan sikap.

“Pemerintah Kanada juga sayangnya tidak mengeluarkan suara. Saya tidak ingin menjadi terlalu kritis, karena ini (Kanad) merupakan pemerintahan baru yang masih mengembangkan kebijakannya terhadap Tiongkok. Mungkin mereka tidak mengatakan apa-apa karena Kanada tidak ingin terlihat turut campur pada kebijakan visa Tiongkok.

“Tapi itu bukan yang menjadi masalah. Ini bukan sekadar masalah apakah seorang ratu kecantikan diperbolehkan masuk ke Tiongkok. Ini juga bukan hanya sekadar masalah apakah jutaan emigran Tiongkok dapat merasa aman dan bebas di negara baru mereka.

“Ini adalah tentang apakah kita bisa bebas mengekspresikan keyakinan kita tanpa harus khawatir bahwa anggota keluarga kita di Tiongkok menjadi terancam, atau bahwa karier kita sebagai atlet, kontestan kecantikan, wartawan atau akademisi atau … pembuat gaun.. akan terancam.

“Ini adalah tentang apakah negara-negara di seluruh dunia yang berurusan dengan Tiongkok bersedia untuk membela prinsip-prinsip yang menjadi jiwa dari masyarakat mereka sendiri, di hadapan rezim yang meremehkan nilai-nilai tersebut, dan berperang melawan martabat dasar manusia setiap hari.

“Pemerintah Tiongkok terus melakukan hal-hal ini karena masyarakat internasional terus membiarkan mereka melakukannya. Pemerintah Tiongkok telah menemukan bahwa taktik bullying ini bekerja, karena kita telah menerimanya begitu lama.

“Sulit untuk mengambil sikap sesuai prinsip ketika dihadapkan pada ancaman dan godaan, dan saya tahu kesulitan yang dihadapi oleh organisasi internasional dan pemerintah dalam berurusan dengan Tiongkok. Tapi kita tidak bisa membuang nilai-nilai kita di hadapan tekanan.

“Dalam kasus Hollywood, studio film besar harus berhenti tunduk pada keinginan sensor Tiongkok; universitas di Amerika harus tetap berpegang pada nilai-nilai mereka sendiri berupa kebebasan akademik, daripada mendirikan usaha patungan yang dikendalikan oleh komite Partai Komunis; kelompok medis internasional harus tidak lagi menutup mata terhadap bukti nyata, puluhan ribu tahanan hati nurani, sebagian besar praktisi Falun Gong, telah dibunuh untuk diambil organnya, dan sebaliknya mereka harus menyerukan secara terbuka untuk penyelidikan independen, daripada berlaku seolah-olah kita membantu Tiongkok untuk ‘berubah’.

“Orang-orang Tiongkok menderita, dan mereka menderita sendiri. Tapi, kita punya kemampuan untuk bersuara bagi mereka. Kita bisa dan harus memberikan suara kepada mereka yang tidak bisa bersuara untuk diri mereka sendiri. Kita bisa membuktikan bahwa berdiri menghadapi tirani adalah sesuatu yang mungkin.

“Bersama-sama, saya harap bahwa kita dapat menunjukkan kepada Partai Komunis Tiongkok bahwa keyakinan dan prinsip-prinsip kita yang paling berharga, tidak untuk dijual. Bahkan lebih jauh lagi, saya harap bahwa orang-orang Tiongkok akan melihat bahwa kita berdiri bersama mereka, tidak bersama Partai Komunis yang berusaha untuk mengendalikan pikiran mereka dan melumpuhkan kebebasan mereka.”

Tonton episode China Uncensored berikut untuk mengetahui bagaimana Miss World Kanada telah menguras perhatian Pemerintah Komunis Tiongkok. (visiontimes.com/ Dpr)