Keterangan foto: Adegan film “Son of God”. (Fox)

Oleh: Zhang Ge

“Dengan tolok ukur apa engkau mengukur orang, maka orang lain juga akan mengukurmu dengan tolak ukurnya. Jadi silakan menggunakan kasih dan toleransi sebagai tolok ukur Anda. Jika seseorang menampar pipi kananmu maka berikanlah pipi kirimu kepadanya. Hati yang penuh sabar menerima hinaan, akan merajut pahala dan jodoh baik. Bunga lily itu tidak bekerja keras, juga tidak memintal, disaat kemegahan Raja Salomo mencapai puncaknya, busananya tetap tidak dapat menandingi bunga itu, karena bunga Lily menengadah ke langit dan tumbuh di atas tanah kebebasan serta bermandikan embun rahmat Allah.” – dikutip dari film Amerika Serikat: “Son of God”.

Pada 2014 lalu, Twentieth Century Fox merilis epik Alkitab “Son of God”. Film itu terkonsentrasi dengan bahasa dan gambar yang mengejutkan serta mereproduksi kehidupan cemerlang Yesus Kristus.

Di dalam film dikisahkan, Adam setelah digoda oleh setan, telah melupakan pesan Tuhan agar jangan memakan buah terlarang. Ia lantas dihukum turun ke dunia dan selama berabad-abad harus menderita dalam menjalani kehidupannya sebagai manusia. Berkat belas kasih Tuhan terhadap manusia-manusia keturunan Adam dan Hawa, demi memperbaiki dan mengembalikan kesucian dan kemuliaan tatkala hidup bersama Tuhan, maka Tuhan memutuskan untuk mengirim Anak tunggalNya datang ke bumi, menebus penderitaan manusia dan menghapus dosa-dosa manusia di dunia.

Itu sebabnya, ketika Yesus belum lahir, Tuhan telah menubuatkan kepada para nabi di bumi apa yang bakal dilakukan Yesus di dunia ini, dan hal-hal yang akan terjadi pada diri Yesus.

Keterangan foto: “Son of God” dalam film. (Fox)

Nubuat “Son of God” diturunkan dari generasi ke generasi, terus menerus hingga tibalah suatu ketika pada 2000 tahun silam. Yesus dilahirkan di Betlehem dan hal ini telah menegaskan ramalan para nabi, “Ia akan terlahir di Betlehem, Ia akan menunggang keledai datang ke Yerusalem menjadi raja mereka.”

Dengan kasih dan iman memperoleh pengampunan

Ketika Yesus berusia 30 tahun, berpuasa dan berdoa dengan khidmad selama 40 hari di padang gurun, setelah Ia mengalahkan godaan setan dan memenangkan berbagai ujian, Ia mulai berkhotbah. Orang yang percaya padaNya semakin lama semakin banyak. Yesus secara pribadi memilih 12 murid dari orang-orang yang percaya kepadaNya.

Dalam film itu, ada seorang Farisi munafik yang bernama Simon mengundang Yesus. Yesus duduk satu meja dengannya minum bersama dan berbicara terbuka. Pada saat itu, ada seorang pelacur yang memegang sebotol parfum mahal muncul. Dari saat dia masuk, air matanya terus mengalir dan menetes ke atas kaki Yesus dan dengan air matanya dia membasuh kaki Yesus, dengan parfum harumnya menggosok kaki ditambah dengan menggunakan rambutnya menyeka kering serta menciumi kaki Yesus.

Tindakannya sangat mencengangkan orang-orang yang sedang duduk disana. Yesus dapat melihat tembus hati Simon dan berkata kepadanya, “Aku datang ke rumahmu, engkau tidak membasuh kakiKu dengan air, sedangkan dia dengan air mata mencucinya dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak menyambutKu dengan ciuman, tapi dia tak hentinya mencium kakiKu. Engkau tidak menggunakan minyak zaitun untuk menyeka kepalaKu, tetapi dia menuangkan parfum di kakiku. Aku ingin memberitahumu, dia menyatakan cinta-kasih yang mendalam, itu akan membuktikan banyak dosa-dosanya akan diampuni. Kasih seseorang semakin minim, pengampunanNya juga semakin sedikit.”

Yesus pun mewejangi wanita yang penuh dosa ini, “Imanmu telah menyelamatkanmu, pulanglah dengan damai!”

Iman yang sejati, tidak akan terbelenggu oleh status, iman yang tulus juga dapat membuat orang memperoleh pelepasan dari jurang dosa/ kejahatan.

Waktu itu, pelayanan khotbah oleh Yesus berbeda dari para pemimpin agama lain, Ia tidak memiliki gereja, tidak berdasarkan kitab dan tanpa kekangan dogmatisme apapun. Yesus pada hari Sabat (hari istirahat) menyembuhkan orang sakit. Ia bersahabat dengan orang-orang Yahudi yang melecehkannya seperti: pemungut cukai, pelacur, juga suku bangsa lain, dengan cinta-kasih dan toleransi menentramkan mereka dan membuka akal sehat serta kebijaksanaan mereka. Dimana saja Yesus datang berkhotbah, Ia mengecam kekuasaan, kepentingan dan kemunafikan para pemimpin agama saat itu. Ia di hadapan altar Tuhan di Yerusalem, menghancurkan lapak para pedagang. Karena altar Tuhan yang sakral seharusnya hanya digunakan untuk berdoa dan menyembah Tuhan, bukan pusat komersial, lebih-lebih tidak boleh mengatas-namakan Tuhan untuk mendapatkan keuntungan materi. (hui/whs/rmat)

BERSAMBUNG

 

Share

Video Popular