Keterangan foto: Saat ini, pertumbuhan ekonomi RRT telah mencapai ambang batas puncak. Untuk keluar dari masalah, menurut teori North, harus dilakukan perombakan politik dan sistem ekonomi di RRT. Teori ini langsung menusuk ke jantung PKT.

Oleh: Dr. Frank Tian, Xie

Bergunakah Teori North Bagi RRT?

Saat bekerja sama dengan akademisi dari University of Maryland dan Stanford University Amerika Serikat, North meneliti bagaimana negara-negara di dunia beralih dari “kondisi alami” sampai memasuki periode pertumbuhan ekonomi jangka panjang, hal ini tak diragukan lagi sangat bermanfaat bagi negara berkembang seperti RRT.

Penelitian awal North tentang perekonomian masyarakat dan reformasi institusi (sistem) sangat bernilai terutama bagi negara-negara berkembang. Ia mendefinisikan “institusi” sebagai “kondisi saling ber-interaksi dan mengikat yang dibuat oleh manusia untuk memastikan politik, ekonomi dan struktur masyarakat”.

Yang dimaksud dengan “kondisi saling mengikat” adalah aturan resmi yang ditetapkan oleh masyarakat (seperti konstitusi, hukum, hak milik) dan aturan tidak resmi (seperti sanksi, tabu, tradisi, adat dan etika). Semua aturan ini akan membuat suatu sistem pasar atau sistem sosial dapat terjaga ketertiban dan keamanannya untuk jangka panjang. Aturan-aturan berikut kondisi saling mengikat tersebut, apakah mampu menjaga keamanan dan ketertiban sosial, ditentukan oleh banyak variabel dan kondisi, termasuk daya tangkal dari pemerintah, eksistensi institusi masyarakat, serta keberadaan agama dan kepercayaan yang kuat.

Jelas disini, sebagai teori yang menganalisa pertumbuhan ekonomi secara makro dari sudut pandang struktur sosial masyarakat, kelompok agama kepercayaan, dan kekuasaan pemerintah seperti ini, tak diragukan lagi menjadi obat teramat mujarab bagi pertumbuhan ekonomi dan sosial di RRT.

North Disambut Baik di Kalangan Akademis

Saat berpidato di Beijing University pada tahun 2004, North sangat disambut baik oleh kalangan akademis, tapi bagi para pejabat PKT justru sangat menyayat gendang telinga, “Institusi harus dapat mendorong, memotivasi kegiatan dan pengembangan produktivitas usaha, dan institusi juga yang sebenarnya menjamin bertumbuhnya paham kapitalisme. Harus ada pasar politik, juga harus ada pasar ekonomi, keduanya mutlak harus ada.”

Meskipun pejabat PKT (Partai Komunis Tiongkok) tidak suka, para akademisi RRT kerap mengutip teori North, seperti “ketika institusi suatu negara telah disandera atau dikendalikan oleh kelompok berkepentingan, maka kelompok tersebut tidak hanya akan menyebabkan institusi tersebut ber-orientasi laba, juga akan menyebabkan tidak produktif, dan kakunya pembagian ulang serta melemahnya penerapan sistem sehingga timbul masalah. Yang lebih penting lagi adalah, fenomena dan tren ini jika tidak dihentikan, maka akan berpengaruh terhadap institusi politik.”

Para akademisi di dalam institusi pun hanya bisa meminjam ucapan North untuk menyampaikan rasa tidak puas mereka terhadap PKT, North telah mengucapkan kata-kata yang tidak berani dan tidak bisa diungkapkan oleh kaum intelek di Tiongkok.

Teori perubahan institusi North telah menjelaskan “kebangkitan Barat”, juga bisa menjelaskan pertumbuhan ekonomi di RRT selama 30 tahun terakhir. Menurut teori North, pertumbuhan ekonomi di RRT selama tiga dekade terakhir, karena PKT telah melonggarkan kendali terhadap ekonomi, telah menyebabkan “organisasi ekonomi yang efektif”, dalam hal ini perusahaan swasta, mulai muncul lagi di RRT, termasuk kontrak bersama di pedesaan, perusahaan daerah, adopsi sistem perusahaan, serta dibentuknya hak kepemilikan perusahaan modern. Rakyat bekerja keras, pasar dunia membuka diri bagi RRT, dan RRT menjadi pabrik dunia, semua itu adalah penyebab utama pertumbuhan ekonomi RRT.

Teori North Tidak Aplikatif di RRT

Teori dan peringatan North adalah pilihan yang tepat. Tapi di bawah sistem di RRT saat ini, justru tidak dapat diaplikatisikan. North adalah konsultan ekonomi bagi pemerintah RRT, Amerika Latin, juga Eropa Timur. Pada saat menjadi konsultan di berbagai negara, North bersikukuh setidaknya harus menetap minimal setengah tahun di setiap negara, karena ia harus meneliti kelompok agama kepercayaan di setiap negara, serta bagaimana tiap-tiap agama itu mengorganisir diri mereka, lalu ia baru akan memulai konsultasi ekonominya.

Hasil riset North yang paling menarik adalah ia menggabungkan pengaruh institusi sosial dan institusi politik terhadap pertumbuhan ekonomi, juga pengaruh dari sistem hukum dan adat tradisi terhadap ekonomi (hak milik), terutama pengaruh agama kepercayaan dan pemikiran manusia terhadap ekonomi! Bagi RRT, kesimpulan North itu adalah teori yang paling bernilai dan paling mencerahkan.

Tanpa perlu berpikir panjang masyarakat pun akan tahu, hampir tidak mungkin bagi North untuk menetap begitu lama di Tiongkok sembari meneliti secara detil institusi agama kepercayaan. Rezim PKT tak akan membiarkan North melakukan riset, penelusuran apalagi berinteraksi dengan kelompok nasrani sesungguhnya (bawah tanah), dengan umat Tantrayana (Buddha Tibet), apalagi dengan praktisi Falun Gong.

Saat ini, pertumbuhan ekonomi RRT telah mencapai ambang batas puncaknya. Untuk keluar dari masalah, menurut teori North, harus dilakukan perombakan politik dan sistem ekonomi di RRT. Teori ini langsung menusuk ke jantung PKT. Pemerintah RRT berharap agar dapat terus mendorong pertumbuhan ekonomi dengan inovasi teknologi, tapi kuncinya adalah, dengan sistem politik PKT saat ini, justru semakin mencekik inovasi hingga mati. Di RRT sama sekali tidak ada jaminan bagi hak intelektual, budaya otoritarian terus menekan para inovator, sistem pendidikan PKT telah membunuh tidak hanya daya inovasi masyarakat Tiongkok, tapi juga telah membunuh moralitas dan hati nurani warganya. Sektor moneter di Tiongkok telah dimonopoli oleh kelompok-kelompok berkepentingan, sehingga tidak akan dapat memberikan dukungan finansial bagi ide inovatif.

Saat studi di Berkeley, prestasi North tidak begitu baik, rata-rata ia hanya mendapat nilai C, namun saat mengejar gelar S2, nilainya semua A. Saat kuliah, ia bahkan pernah ikut serta dalam kelompok paham Marxisme, tapi kemudian ia justru semakin menjauh dari kaum komunis tersebut, dan pada akhirnya ia membuang jauh-jauh paham Marxisme. Liku-liku kehidupan North itu adalah hal yang paling tidak berani dihadapi langsung oleh para pejabat PKT. (sud/whs/rmat)

TAMAT

 

Share

Video Popular